7 Golongan Islam yang Mendapat Naungan Allah SWT pada Hari Kiamat

Hukum Islam16 Views

Author: Erica, Islamic Lifestyle Writer

Golongan Islam yang mendapatkan naungan di sisi Allah SWT terdiri atas tujuh kategori orang beriman, yaitu pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dalam ibadah, orang yang hatinya terpaut pada masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah, orang yang menolak ajakan maksiat karena takut kepada Allah, orang yang merahasiakan sedekah, serta orang yang mengingat Allah saat sendirian hingga meneteskan air mata. Keterangan ini bersumber dari hadis sahih yang diriwayatkan Abu Hurairah RA.

Pembahasan mengenai tujuh golongan tersebut mendapat perhatian besar karena Rasulullah SAW menghubungkannya dengan keadaan Hari Kiamat. Pada saat manusia membutuhkan perlindungan, Allah memberikan naungan kepada hamba tertentu yang memiliki keistimewaan dalam iman, keikhlasan, pengendalian diri, kepedulian kepada sesama, dan ketaatan.

Istilah golongan Islam pada pembahasan ini tidak merujuk kepada mazhab, organisasi, aliran, atau pembagian umat Islam. Istilah tersebut mengarah kepada tujuh golongan manusia yang Rasulullah SAW sebut memiliki keutamaan khusus karena kualitas amal dan ketakwaannya.

Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Ada tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah pada hari tidak ada naungan selain naungan Nya.”


Gambaran Sekilas Tentang 7 Golongan Islam yang Mendapat Naungan Allah

Tujuh golongan yang mendapat naungan Allah menunjukkan bahwa kedudukan istimewa tidak hanya berkaitan dengan banyaknya ibadah seseorang. Hadis tersebut juga menempatkan keadilan, pengendalian hawa nafsu, persaudaraan, kepedulian sosial, hubungan dengan masjid, dan keikhlasan sebagai sifat yang bernilai tinggi di hadapan Allah SWT.

Secara singkat, tujuh golongan tersebut meliputi:

  1. Pemimpin yang berlaku adil
  2. Pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah
  3. Seseorang yang hatinya terpaut kepada masjid
  4. Dua orang yang saling mencintai karena Allah
  5. Seseorang yang menolak ajakan maksiat karena takut kepada Allah
  6. Seseorang yang bersedekah secara tersembunyi
  7. Seseorang yang mengingat Allah dalam kesendirian hingga menangis

Daftar tersebut memperlihatkan keseimbangan antara hubungan seorang hamba dengan Allah dan hubungannya dengan manusia. Ada amal yang terlihat oleh masyarakat seperti kepemimpinan yang adil, tetapi ada pula amal sangat pribadi seperti zikir, menahan diri dari dosa, serta sedekah yang sengaja dirahasiakan.


Mengapa 7 Golongan Ini Mendapat Naungan Allah SWT?

Golongan Islam yang mendapatkan naungan di sisi Allah SWT memperoleh keistimewaan tersebut karena mereka menjalankan amal yang membutuhkan ketakwaan, keteguhan hati, keikhlasan, dan kemampuan mengendalikan keinginan pribadi.

Ketujuh sifat dalam hadis juga memiliki satu benang penghubung. Seseorang tetap memilih ketaatan ketika mempunyai kesempatan besar untuk memilih jalan yang lebih mudah bagi dirinya.

Apa yang Dimaksud dengan Naungan Allah?

Naungan Allah dalam hadis berhubungan dengan perlindungan dan kemuliaan yang Allah berikan pada Hari Kiamat. NU Online menerangkan bahwa naungan tersebut berkaitan dengan rahmat, karunia, perlindungan, serta keamanan yang Allah berikan kepada hamba tertentu pada hari yang sangat berat bagi manusia.

Karena itu, hadis tujuh golongan bukan sekadar daftar sifat terpuji. Rasulullah SAW memberi kabar gembira sekaligus dorongan agar umat Islam melatih sifat tersebut selama hidup.

1. Pemimpin yang Adil

Golongan pertama ialah pemimpin yang adil. Ia menggunakan kewenangannya secara benar, tidak menzalimi orang lain, tidak memberikan keuntungan hanya kepada kelompok tertentu, serta menempatkan hak seseorang sesuai ketentuan yang benar.

Posisi pemimpin berada pada urutan awal dalam hadis. Kekuasaan memberikan seseorang kemampuan untuk mengambil keputusan yang memengaruhi banyak orang. Ketika seseorang tetap berlaku adil meskipun memiliki kekuatan untuk bertindak sekehendaknya, tindakan itu menunjukkan besarnya rasa takut kepada Allah.

Keadilan Tidak Boleh Bergantung pada Rasa Suka

Islam menuntut keadilan bahkan terhadap orang yang tidak kita sukai. Al Quran dalam Surah Al Maidah ayat 8 memerintahkan orang beriman agar tetap adil dan tidak membiarkan kebencian mendorong mereka meninggalkan keadilan. Ayat tersebut juga menyebut bahwa sikap adil lebih dekat kepada ketakwaan.

Pemimpin dalam kehidupan sehari hari tidak terbatas pada kepala negara. Seseorang dapat memegang tanggung jawab sebagai pemimpin keluarga, organisasi, perusahaan, sekolah, komunitas, atau kelompok kecil.

Kementerian Agama RI juga menjelaskan keutamaan pemimpin adil dalam pembahasan mengenai golongan yang memperoleh naungan Allah.

2. Pemuda yang Tumbuh dalam Ibadah kepada Allah

Golongan kedua ialah pemuda yang menggunakan masa mudanya untuk beribadah dan menjaga ketaatan kepada Allah SWT. Ia tidak harus menghabiskan seluruh waktunya di masjid, tetapi menjadikan nilai Islam sebagai dasar dalam menjalani kehidupan.

Masa muda identik dengan energi besar, rasa ingin tahu, pergaulan luas, dan berbagai keinginan. Karena itulah kemampuan seorang pemuda untuk mempertahankan ibadah memperoleh kedudukan istimewa.

Seperti Apa Pemuda yang Tumbuh dalam Ketaatan?

Pemuda yang tumbuh dalam ibadah dapat terlihat melalui kebiasaan menjaga salat, mempelajari agama, menghormati orang tua, menjauhi perbuatan haram, menjaga pergaulan, serta menggunakan kemampuan yang Allah berikan untuk kegiatan baik.

Ia tetap boleh belajar, bekerja, berbisnis, berolahraga, menggunakan teknologi, menikmati hiburan halal, dan berinteraksi dengan lingkungan sosial. Ketaatan tidak menuntut seseorang meninggalkan aktivitas dunia. Islam justru mengajarkan agar setiap aktivitas berjalan dalam batas yang Allah tetapkan.

Kebiasaan baik yang seseorang bangun sejak muda juga dapat membentuk keteguhan ibadah. Ketika salat, membaca Al Quran, sedekah, dan menjaga diri sudah menjadi bagian kehidupan, seseorang akan lebih mudah mempertahankan kedekatannya kepada Allah.

3. Orang yang Hatinya Terpaut pada Masjid

Golongan Islam berikutnya ialah seseorang yang hatinya memiliki keterikatan kuat dengan masjid. Ia mencintai masjid, merindukan ibadah di dalamnya, serta memiliki keinginan untuk kembali kepada rumah Allah setelah meninggalkannya.

Hadis ini tidak sekadar menggambarkan seseorang yang sering berada di dalam masjid. Hal yang menjadi perhatian ialah keterikatan hati kepada tempat ibadah.

Mengapa Masjid Memiliki Kedudukan Penting?

Masjid menjadi tempat umat Islam melaksanakan salat, belajar agama, berzikir, membaca Al Quran, bersilaturahmi, serta mengembangkan kegiatan sosial yang bermanfaat.

Surah At Tawbah ayat 18 menghubungkan kegiatan memakmurkan masjid dengan keimanan kepada Allah, keimanan kepada Hari Akhir, salat, zakat, dan rasa takut kepada Allah.

Mencintai masjid juga dapat tumbuh secara bertahap. Seseorang dapat memulainya dengan menjaga salat berjamaah ketika memungkinkan, menghadiri kajian, membantu kebersihan masjid, mendukung kegiatan pendidikan, atau ikut membantu masyarakat melalui program masjid.

4. Dua Orang yang Saling Mencintai karena Allah

Golongan keempat terdiri atas dua orang yang membangun persahabatan karena Allah. Mereka bertemu karena Allah dan tetap membawa nilai yang sama ketika harus berpisah.

Persahabatan tersebut tidak berdiri hanya karena keuntungan, jabatan, harta, popularitas, atau kepentingan sesaat. Mereka saling menyayangi karena ingin membantu satu sama lain tetap berada dalam jalan yang Allah ridhai.

Bagaimana Ciri Persahabatan karena Allah?

Persahabatan karena Allah mendorong seseorang menginginkan kebaikan bagi sahabatnya. Ia dapat mengingatkan ketika sahabat melakukan kesalahan tanpa merendahkan, memberikan bantuan ketika sahabat kesulitan, menjaga rahasia, mendoakan, serta tidak meninggalkan sahabat hanya karena keuntungan dunia tidak lagi tersedia.

Teman seperti ini bukan seseorang yang selalu membenarkan semua tindakan kita. Kadang ia justru berani menyampaikan nasihat karena tidak ingin sahabatnya semakin jauh dari Allah.

Hubungan semacam ini dapat tumbuh dalam keluarga, lingkungan kerja, komunitas, sekolah, kampus, atau pertemanan sehari hari.

5. Orang yang Menolak Ajakan Maksiat karena Takut kepada Allah

Golongan kelima ialah seseorang yang mendapatkan kesempatan melakukan perbuatan zina dengan perempuan yang memiliki kedudukan dan kecantikan, tetapi ia menolaknya sambil menyatakan bahwa dirinya takut kepada Allah.

Bagian hadis ini menunjukkan tingginya nilai pengendalian diri. Godaan hadir ketika peluang melakukan dosa terbuka, tetapi keimanan membuat seseorang memilih berhenti.

Takut kepada Allah Menjadi Benteng Saat Tidak Ada yang Melihat

Seseorang mungkin dapat menyembunyikan dosa dari keluarga, pasangan, teman, atau masyarakat. Namun, keyakinan bahwa Allah mengetahui segala perbuatan membuat seorang mukmin memiliki pengawasan dari dalam dirinya sendiri.

Prinsip tersebut sangat relevan dalam kehidupan modern. Godaan tidak selalu datang melalui pertemuan langsung. Telepon genggam, pesan pribadi, media sosial, aplikasi komunikasi, dan berbagai layanan digital dapat membuka pintu hubungan yang tidak sesuai ajaran agama.

Karena itu, menjaga pandangan, komunikasi, batas pergaulan, dan kehormatan diri menjadi bagian penting dari usaha menjauhi zina.

6. Orang yang Bersedekah secara Tersembunyi

Golongan keenam ialah orang yang memberikan sedekah dengan sangat tulus sampai hadis menggambarkannya seperti tangan kiri tidak mengetahui apa yang diberikan tangan kanan. Gambaran tersebut menekankan kuatnya keikhlasan saat berbagi.

Orang tersebut tidak menjadikan sedekah sebagai alat untuk mendapatkan pujian. Ia memberi karena mengharap keridaan Allah dan ingin membantu orang yang membutuhkan.

Sedekah Rahasia Melatih Keikhlasan

Menjaga sedekah tetap tersembunyi dapat membantu seseorang mengurangi keinginan mendapatkan pengakuan. Tidak semua kebaikan harus diketahui orang lain.

Al Quran juga menerangkan besarnya pahala infak. Surah Al Baqarah ayat 261 memberikan perumpamaan harta yang seseorang keluarkan di jalan Allah seperti sebutir benih yang menghasilkan tujuh tangkai, dengan seratus biji pada setiap tangkai. Allah melipatgandakan pahala bagi siapa yang Dia kehendaki.

Meski sedekah rahasia memiliki keutamaan besar, seseorang tetap perlu memahami bahwa tidak setiap sedekah terbuka otomatis kehilangan nilai ibadahnya. Hal utama ialah menjaga niat agar pemberian tidak berubah menjadi sarana mencari pujian.

7. Orang yang Mengingat Allah dalam Kesendirian hingga Menangis

Golongan ketujuh ialah seseorang yang mengingat Allah ketika sendirian, kemudian kedua matanya mengeluarkan air mata. Rasulullah SAW memasukkan orang tersebut sebagai salah satu penerima naungan Allah.

Tangisan dalam keadaan sendirian memiliki keistimewaan karena seseorang tidak sedang berusaha memperlihatkan kesalehan kepada manusia.

Air Mata yang Lahir dari Kesadaran kepada Allah

Menangis ketika mengingat Allah dapat muncul karena rasa takut atas dosa, rasa syukur atas nikmat, kerinduan kepada Allah, harapan mendapat ampunan, atau kesadaran bahwa hidup akan berakhir dan manusia akan kembali kepada Nya.

Namun, seseorang tidak perlu memaksakan air mata. Tujuan zikir bukan menciptakan tangisan secara dibuat buat. Hal yang lebih penting ialah menghadirkan hati ketika mengingat Allah.

Kesendirian bahkan dapat menjadi waktu yang sangat berharga untuk memperbaiki hubungan dengan Allah. Ketika tidak ada orang yang melihat, seseorang bisa berdoa, beristigfar, mengevaluasi perbuatannya, dan meminta ampun atas kesalahan yang pernah ia lakukan.


Apa Persamaan dari 7 Golongan Islam yang Mendapat Naungan Allah?

Persamaan tujuh golongan Islam yang mendapat naungan Allah terletak pada kekuatan iman ketika menghadapi tanggung jawab, keinginan pribadi, godaan, harta, hubungan sosial, dan keadaan yang tidak terlihat manusia.

Pemimpin memiliki kesempatan menyalahgunakan kekuasaan, tetapi ia memilih adil. Pemuda memiliki banyak kesempatan mengikuti hawa nafsu, tetapi memilih ibadah. Orang yang mendapat ajakan zina memiliki kesempatan berbuat dosa, tetapi memilih takut kepada Allah.

Orang yang bersedekah memiliki kesempatan mencari pujian, tetapi memilih merahasiakannya. Sementara itu, seseorang yang berzikir sendirian tidak memiliki penonton, tetapi hatinya tetap hidup karena mengingat Allah.

Dari sini terlihat bahwa keikhlasan menempati posisi penting dalam hadis tersebut.

Apakah Hanya Tujuh Golongan Ini yang Mendapat Perlindungan Allah?

Hadis ini secara khusus menyebut tujuh golongan dalam satu riwayat sahih, tetapi umat Islam tidak seharusnya memahami hadis tersebut sebagai pembatas seluruh bentuk rahmat dan perlindungan Allah hanya kepada tujuh kategori manusia.

Hadis ini memberikan penjelasan mengenai keutamaan tujuh sifat tertentu. Karena itu, seorang Muslim sebaiknya menjadikannya sebagai dorongan untuk memperkuat amal dan ketakwaan, bukan sebagai dasar untuk menilai siapa yang pasti mendapatkan atau tidak mendapatkan rahmat Allah.

Apakah Seseorang Bisa Memiliki Lebih dari Satu Sifat?

Ya. Secara sifat, seseorang bisa berusaha memiliki beberapa karakter yang hadis tersebut sebutkan sekaligus.

Seorang pemuda dapat rajin beribadah sekaligus mencintai masjid. Ia juga dapat memiliki sahabat yang dicintai karena Allah, memberikan sedekah tanpa mencari perhatian, menjaga diri dari zina, dan menangis ketika berzikir sendirian.

Dengan begitu, hadis tersebut tidak perlu kita lihat sebagai tujuh pilihan yang saling terpisah. Seorang Muslim dapat berusaha membangun sebanyak mungkin sifat baik tersebut dalam dirinya.


Bagaimana Cara Berusaha Menjadi Bagian dari Golongan yang Mendapat Naungan Allah?

Cara memulainya ialah memilih amal yang paling dekat dengan keadaan diri, lalu menjaganya secara konsisten. Tidak semua orang memiliki jabatan sebagai pemimpin besar, tetapi setiap orang dapat belajar adil dalam tanggung jawab yang ia pegang.

Beberapa langkah yang dapat mulai kita biasakan antara lain:

  1. Bersikap adil ketika memiliki tanggung jawab terhadap orang lain.
  2. Menjaga salat dan ibadah sejak usia muda.
  3. Memperkuat hubungan dengan masjid dan kegiatan keagamaan.
  4. Memilih sahabat yang membantu menjaga iman.
  5. Menutup jalan yang dapat membawa kepada zina.
  6. Membiasakan sedekah tanpa mencari perhatian.
  7. Menyediakan waktu untuk berzikir dan bermuhasabah saat sendirian.

Perubahan tidak harus terjadi sekaligus. Ketaatan tumbuh melalui keputusan baik yang seseorang ulang setiap hari.

Jadikan Hadis 7 Golongan sebagai Pengingat untuk Memperbaiki Amal

Hadis mengenai golongan Islam yang mendapatkan naungan di sisi Allah SWT bukan hanya informasi mengenai Hari Kiamat. Rasulullah SAW menghadirkan tujuh teladan yang dapat membantu seorang Muslim menilai kembali kualitas ibadah, keadilan, pergaulan, sedekah, pengendalian diri, hubungan dengan masjid, dan kedekatan hati kepada Allah.

Mulailah dari satu sifat yang paling mungkin diperbaiki hari ini, kemudian terus tingkatkan amal dengan niat mencari keridaan Allah. Pelajari hadisnya dari sumber terpercaya, pahami ajaran Al Quran yang berkaitan dengannya, lalu jadikan tujuh golongan Islam tersebut sebagai pengingat untuk menjaga iman dalam keadaan ramai maupun ketika tidak seorang pun melihat.