Mengapa Bangsa Arab Sebelum Islam Disebut Jahiliyah? Ini Penjelasannya

Kisah Islami195 Views

Jahiliyah adalah istilah yang menggambarkan keadaan keagamaan, pemikiran, dan perilaku sebagian masyarakat Arab sebelum datangnya Islam, terutama ketika kemusyrikan, fanatisme kesukuan, kesombongan keturunan, serta kebiasaan yang bertentangan dengan petunjuk Allah masih kuat. Sebutan ini tidak berarti bangsa Arab sebelum Islam sama sekali tidak berilmu atau tidak memiliki kebudayaan. Mereka justru mengenal perdagangan, sastra, silsilah, diplomasi antarsuku, serta memiliki kemampuan bahasa yang tinggi.

Karena itu, pertanyaan mengapa bangsa Arab sebelum Islam disebut jahiliyah tidak cukup dijawab dengan mengatakan bahwa mereka merupakan masyarakat yang bodoh. Arti jahiliyah jauh lebih luas daripada sekadar tidak bisa membaca atau menulis. Dalam ajaran Islam, istilah tersebut berkaitan dengan sikap manusia yang menjauh dari petunjuk Allah, mempertahankan kemusyrikan, mengutamakan fanatisme kelompok, dan menjadikan tradisi sebagai ukuran kebenaran.

Kajian sejarah juga menunjukkan bahwa masyarakat Jazirah Arab sebelum Islam sangat beragam. Ada kelompok nomaden, semi nomaden, serta masyarakat yang menetap di kota dan wilayah pertanian. Mereka membangun jaringan perdagangan dan hubungan antarsuku yang cukup luas. Karena itu, penggunaan istilah jahiliyah perlu dipahami melalui sudut pandang keagamaan dan sosial, bukan sebagai anggapan bahwa seluruh orang Arab saat itu tidak mengenal peradaban.

Gambaran Sekilas Bangsa Arab Sebelum Islam dan Zaman Jahiliyah

Bangsa Arab sebelum Islam hidup dalam masyarakat yang sangat mengandalkan hubungan keluarga, kabilah, serta garis keturunan. Kabilah memberikan perlindungan, identitas, kekuatan ekonomi, dan keamanan kepada anggotanya. Namun, loyalitas yang sangat kuat terhadap kelompok juga dapat memicu permusuhan ketika kepentingan dua kabilah bertabrakan.

Penelitian sejarah mengenai Arab pra Islam menunjukkan adanya masyarakat nomaden, semi nomaden, serta penduduk kota. Garis keturunan memainkan peranan besar dalam menentukan kedudukan seseorang dan hubungan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya. Bahkan Quraisy, suku Nabi Muhammad SAW, menjadi bagian dari jaringan kekerabatan yang lebih luas di Jazirah Arab.

Pada saat yang sama, kehidupan agama bangsa Arab sebelum Islam tidak seragam. Banyak masyarakat Arab menjalankan kepercayaan politeistik, tetapi komunitas Yahudi dan Kristen juga telah berkembang di sejumlah daerah. Kajian akademik bahkan menunjukkan adanya kelompok Arab yang telah mengenal gagasan tentang Tuhan Yang Maha Tinggi sebelum Islam datang.

Gambaran tersebut menunjukkan bahwa istilah jahiliyah tidak boleh berubah menjadi label sederhana untuk seluruh kehidupan bangsa Arab sebelum Islam. Islam mengkritik unsur tertentu dari keyakinan dan kebiasaan mereka, tetapi tidak otomatis menghapus setiap unsur kebudayaan yang telah ada.


Apa Arti Jahiliyah yang Sebenarnya?

Arti jahiliyah secara bahasa berhubungan dengan kata Arab jahl yang dapat menunjuk ketidaktahuan, kebodohan, atau tindakan tanpa pertimbangan yang benar. Dalam penggunaan keislaman, istilah ini berkembang menjadi sebutan bagi keadaan manusia yang tidak mengikuti petunjuk Allah dan masih mempertahankan perilaku yang Islam koreksi.

Karena itu, jahiliyah tidak identik dengan buta huruf.

Seseorang dapat memiliki kemampuan berbicara, berdagang, membuat syair, atau mengatur kelompok, tetapi tetap menunjukkan sifat jahiliyah ketika kesombongan, fanatisme, atau keyakinan yang menyimpang menguasai dirinya.

Sejumlah kajian mengenai istilah ini juga mencatat hubungan kata jahl dengan sikap kasar atau tidak terkendali yang berlawanan dengan sifat hilm, yaitu ketenangan dan kemampuan menahan diri. Pemahaman tersebut membantu menjelaskan mengapa Al Quran memakai istilah jahiliyah ketika membahas prasangka, hukum, penampilan, dan kesombongan kelompok.

Jahiliyah Bukan Berarti Tidak Memiliki Ilmu Sama Sekali

Kesalahpahaman yang sering muncul ialah anggapan bahwa bangsa Arab sebelum Islam disebut jahiliyah karena mereka sama sekali tidak berpendidikan.

Anggapan tersebut terlalu sederhana.

Masyarakat Arab telah mengembangkan tradisi syair yang kuat. Puisi berfungsi sebagai media untuk menyimpan ingatan tentang peperangan, silsilah, keberanian, cinta, perjalanan, serta kehidupan sosial suatu kabilah. Penelitian mengenai syair Arab pra Islam juga menunjukkan keragaman tema dan ekspresi para penyair.

Mereka juga menjalankan kegiatan ekonomi lintas wilayah. Letak Jazirah Arab menghubungkan kawasan Afrika, Asia, Persia, Syam, dan wilayah di sekitar Laut Merah. Jalur perdagangan telah berkembang jauh sebelum kelahiran Islam.

Jadi, penyebutan jahiliyah bukan penilaian terhadap kemampuan intelektual seluruh masyarakat Arab.


Mengapa Bangsa Arab Sebelum Islam Disebut Jahiliyah?

Bangsa Arab sebelum Islam disebut jahiliyah karena banyak kelompok pada masa itu menjalankan keyakinan dan kebiasaan yang bertentangan dengan ajaran tauhid yang kemudian Nabi Muhammad SAW sampaikan. Kemusyrikan, kebanggaan berlebihan terhadap keturunan, fanatisme suku, serta sejumlah tradisi sosial menjadi sasaran koreksi Islam.

Beberapa ciri berikut membantu menjelaskan penggunaan istilah tersebut.

1. Kemusyrikan Menjadi Salah Satu Ciri Utama

Salah satu alasan terpenting munculnya istilah jahiliyah berkaitan dengan persoalan akidah.

Sebagian besar kelompok Arab di sejumlah wilayah menjalankan bentuk politeisme dengan menghormati berbagai dewa dan berhala. Namun, struktur keagamaan Arab sebenarnya lebih rumit daripada gambaran sederhana tentang masyarakat penyembah patung.

Kajian Michael Lecker dalam The New Cambridge History of Islam mencatat bahwa kaum penyembah berhala Arab mengenal Allah sebagai Tuhan tertinggi, sementara dewa atau berhala tertentu memiliki hubungan dengan kelompok dan tradisi lokal.

Islam kemudian membawa ajaran tauhid yang menolak penyekutuan Allah dengan apa pun.

Perubahan ini menjadi salah satu pembeda utama antara kehidupan keagamaan jahiliyah dan ajaran yang Nabi Muhammad SAW bawa.

2. Fanatisme Kabilah Sering Mengalahkan Keadilan

Struktur kesukuan memegang peranan besar dalam kehidupan bangsa Arab sebelum Islam. Seseorang memperoleh perlindungan melalui kabilahnya, sedangkan hubungan darah menentukan banyak aspek kehidupan.

Sistem tersebut sebenarnya memiliki fungsi sosial yang penting. Persoalan muncul ketika loyalitas kepada kabilah berubah menjadi fanatisme yang membuat seseorang membela anggota kelompoknya tanpa melihat siapa yang benar.

Al Quran menyebut bentuk kesombongan kelompok seperti ini melalui istilah hamiyyatal jahiliyyah, yaitu kesombongan jahiliyah dalam Surah Al Fath ayat 26. Ayat tersebut menggambarkan bagaimana kesombongan menguasai orang kafir, sedangkan Allah memberikan ketenangan kepada Rasul dan orang beriman.

Islam kemudian mengarahkan loyalitas manusia kepada nilai ketakwaan dan keadilan, bukan hanya hubungan darah.

3. Kebanggaan terhadap Keturunan Sangat Kuat

Garis keturunan memiliki posisi penting dalam masyarakat Arab. Pengetahuan mengenai nasab bahkan berkembang dengan sangat rinci karena menentukan hubungan antarindividu dan antarkabilah.

Namun, Islam mengkritik sikap membanggakan keturunan secara berlebihan dan merendahkan orang lain berdasarkan asal keluarganya.

Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa beberapa kebiasaan jahiliyah bahkan masih dapat muncul di tengah umat Islam.

“Ada empat perkara jahiliyah yang masih melekat pada umatku: membanggakan kedudukan, mencela nasab, meminta hujan dengan bintang, dan meratapi mayit.”

Hadis riwayat Muslim tersebut menunjukkan bahwa jahiliyah bukan hanya nama suatu periode sejarah. Nabi SAW juga memakai istilah itu untuk menunjukkan karakter tertentu yang dapat muncul kembali ketika manusia mempertahankan kebiasaan yang bertentangan dengan ajaran Islam.


Empat Bentuk Jahiliyah yang Disebut dalam Al Quran

Al Quran memakai istilah jahiliyah dalam beberapa bentuk yang membantu menjelaskan arti jahiliyah secara lebih utuh. Penggunaannya tidak hanya berkaitan dengan penyembahan berhala, tetapi juga menyentuh cara berpikir dan perilaku manusia.

Prasangka Jahiliyah

Surah Ali Imran ayat 154 membicarakan prasangka jahiliyah. Hal tersebut menunjukkan bahwa manusia dapat memiliki pemikiran keliru terhadap Allah ketika keyakinannya tidak berdiri di atas iman yang benar.

Dengan demikian, jahiliyah juga menyentuh persoalan cara seseorang memandang Allah dan ketetapan-Nya.

Hukum Jahiliyah

Surah Al Maidah ayat 50 menggunakan istilah hukmul jahiliyyah atau hukum jahiliyah.

Ayat tersebut mempertanyakan mengapa seseorang memilih hukum jahiliyah dibandingkan ketetapan Allah.

Penggunaan istilah ini menunjukkan bahwa jahiliyah juga berhubungan dengan ukuran benar dan salah yang manusia buat tanpa mengikuti petunjuk Allah.

Penampilan Jahiliyah

Surah Al Ahzab ayat 33 menggunakan istilah jahiliyah ketika membahas perilaku menampakkan perhiasan secara berlebihan seperti kebiasaan jahiliyah dahulu.

Hal ini memperlihatkan bahwa Al Quran menggunakan istilah tersebut untuk mengoreksi perilaku sosial tertentu.

Kesombongan Jahiliyah

Surah Al Fath ayat 26 menyebut hamiyyatal jahiliyyah, yaitu kesombongan jahiliyah.

Ayat ini sangat penting karena memperlihatkan bahwa fanatisme dan kesombongan termasuk ciri yang Al Quran kaitkan dengan jahiliyah.

Keempat penggunaan tersebut menunjukkan bahwa jahiliyah tidak hanya menunjuk periode sebelum kelahiran Islam. Kata tersebut juga menggambarkan pola perilaku tertentu.


Apakah Semua Kebiasaan Bangsa Arab Sebelum Islam Buruk?

Tidak. Islam tidak menganggap semua kebiasaan bangsa Arab sebelum Islam sebagai sesuatu yang harus ditolak.

Masyarakat Arab memiliki sejumlah nilai yang mendapat tempat dalam kehidupan Islam, seperti keberanian, kemurahan hati, perlindungan terhadap tamu, kemampuan bersyair, perdagangan, serta penghormatan terhadap janji.

Salah satu hadis tentang Hakim bin Hizam memberikan gambaran menarik mengenai persoalan ini. Ia bertanya kepada Nabi Muhammad SAW mengenai amal baik yang pernah ia lakukan pada masa jahiliyah. Rasulullah menjelaskan bahwa kebaikan tersebut tetap memiliki nilai setelah ia menerima Islam.

Hal ini menunjukkan bahwa Islam melakukan penyaringan terhadap tradisi.

Islam mempertahankan sesuatu yang sesuai dengan kebaikan, memperbaiki kebiasaan yang keliru, serta meninggalkan keyakinan dan perilaku yang bertentangan dengan tauhid.

Apakah Bangsa Arab Jahiliyah Benar Benar Tidak Beradab?

Tidak tepat menyebut seluruh bangsa Arab jahiliyah sebagai masyarakat tanpa peradaban. Penelitian sejarah menunjukkan bahwa Jazirah Arab memiliki kota, kerajaan, pertanian, perdagangan, tradisi lisan, serta jaringan hubungan dengan wilayah di sekitarnya.

Arab Selatan bahkan memiliki sejarah kerajaan yang panjang. Sementara itu, Arabia Utara juga berhubungan dengan berbagai kekuatan besar seperti Romawi Timur dan Persia. Cambridge mencatat masyarakat Arab pra Islam terdiri atas kelompok nomaden, semi nomaden, dan penduduk menetap dengan struktur sosial yang beragam.

Karena itu, istilah jahiliyah lebih tepat dipahami sebagai kategori keagamaan dan perilaku.

Pandangan ini juga mencegah pembaca membuat generalisasi terhadap jutaan orang yang hidup di wilayah Arab dalam periode panjang sebelum Islam.

Bahkan soal tradisi penguburan bayi perempuan yang sering dikaitkan dengan zaman jahiliyah membutuhkan kehati hatian. Sebagian literatur Islam klasik menghubungkan beberapa ayat Al Quran dengan praktik tersebut. Namun, penelitian modern mempertanyakan anggapan bahwa kebiasaan tersebut berlangsung secara luas di seluruh masyarakat Arab pra Islam.

Karena itu, seseorang sebaiknya membedakan antara kritik Al Quran terhadap sebuah perbuatan dan anggapan bahwa seluruh orang Arab melakukan perbuatan tersebut.

Apa Perbedaan Zaman Jahiliyah dan Setelah Datangnya Islam?

Perubahan terbesar terjadi pada dasar keyakinan dan ukuran kehidupan masyarakat.

Islam memperkenalkan tauhid sebagai pusat ajaran. Manusia tidak lagi menilai kemuliaan terutama melalui garis keturunan atau kekuatan kabilah, tetapi melalui ketakwaan.

Islam juga mengatur hubungan sosial, keluarga, perdagangan, ibadah, hak waris, pernikahan, sedekah, serta tanggung jawab terhadap sesama. Loyalitas kesukuan tidak langsung hilang, tetapi Islam menempatkan keadilan dan persaudaraan iman di atas fanatisme kelompok.

Inilah sebabnya istilah jahiliyah memiliki kedudukan penting dalam sejarah Islam. Kata tersebut menjadi pembeda antara pola kehidupan yang mengikuti hawa nafsu dan fanatisme dengan kehidupan yang berusaha mengikuti petunjuk Allah.


Apakah Sifat Jahiliyah Bisa Muncul Setelah Zaman Nabi?

Bisa. Jahiliyah tidak selalu terbatas pada periode sejarah sebelum Nabi Muhammad SAW menerima wahyu.

Hadis mengenai membanggakan keturunan, mencela nasab, meminta hujan kepada bintang, dan meratap menunjukkan bahwa Rasulullah SAW menyebut beberapa tindakan sebagai perkara jahiliyah meskipun pelakunya dapat hidup setelah Islam datang.

Karena itu, seseorang tidak seharusnya memahami jahiliyah hanya sebagai nama zaman.

Fanatisme buta, kesombongan karena keturunan, membela kelompok meskipun salah, serta meninggalkan petunjuk agama demi hawa nafsu dapat menunjukkan karakter yang memiliki kemiripan dengan sifat jahiliyah.

Pemahaman seperti ini membuat pembahasan tentang bangsa Arab sebelum Islam tetap relevan untuk pendidikan Islam karena pelajar tidak hanya menghafalkan nama periode, tetapi juga memahami alasan penggunaan istilah tersebut.

Jangan Sekadar Hafal Istilah Jahiliyah, Pahami Pelajarannya

Saat mempelajari bangsa Arab sebelum Islam, penting untuk melihat sejarah secara utuh. Jangan mengartikan jahiliyah sebagai tuduhan bahwa seluruh masyarakat Arab tidak memiliki kecerdasan atau kebudayaan. Mereka memiliki perdagangan, sastra, struktur sosial, pengetahuan silsilah, serta hubungan dengan berbagai wilayah di luar Jazirah Arab.

Namun, Islam mengkritik kemusyrikan, fanatisme suku, kesombongan keturunan, ketidakadilan, serta berbagai kebiasaan yang menjauhkan manusia dari petunjuk Allah.

Dengan memahami arti jahiliyah secara lebih tepat, pembaca dapat melihat bahwa istilah ini bukan sekadar nama bagi periode sebelum Islam. Jahiliyah juga menjadi peringatan agar manusia tidak kembali kepada kesombongan, fanatisme buta, dan cara hidup yang meninggalkan petunjuk Allah, meskipun zaman terus berubah dan kehidupan manusia semakin maju.