3 Gunung Bersejarah di Makkah yang Perlu Sahabat AET Travel Indonesia Ketahui

Kisah Islami15 Views

Makkah tidak hanya menjadi pusat ibadah umat Islam, tetapi juga menyimpan jejak panjang sejarah yang menjadi bagian dari perjalanan dakwah Nabi Muhammad SAW. Kota suci ini dikelilingi pegunungan yang tidak hanya indah, tetapi juga menyimpan kisah agung yang menggugah hati. Ada gunung yang menjadi tempat turunnya wahyu pertama, gunung yang menjadi lokasi persembunyian Nabi, hingga gunung yang menjadi saksi gugurnya para syuhada.

Mengetahui kisah dari gunung gunung bersejarah ini akan membuat perjalanan ibadah sahabat AET Travel Indonesia semakin bermakna.


Gunung Hira Saksi Turunnya Wahyu Pertama

Gunung Hira adalah salah satu gunung yang paling banyak dikunjungi jamaah umrah maupun haji. Letaknya sekitar lima kilometer dari Masjidil Haram. Dari kejauhan, bentuk Gunung Hira terlihat seperti bukit batu yang menjulang, dan di sinilah Rasulullah SAW menerima wahyu pertama.

Sejarah Gunung Hira

Gunung Hira terkenal karena di dalamnya terdapat sebuah gua kecil bernama Gua Hira. Di gua inilah Nabi Muhammad SAW sering beruzlah atau menyendiri untuk bermunajat kepada Allah SWT. Saat berusia 40 tahun, Rasulullah menerima wahyu pertama melalui malaikat Jibril, yaitu surat Al Alaq ayat 1 sampai 5. Peristiwa itu menandai awal risalah kenabian dan menjadi titik balik dalam sejarah peradaban manusia.

Gua Hira dan Perjalanan Spiritual

Gua Hira berukuran kecil, hanya muat beberapa orang. Namun tempat ini memiliki kedudukan besar dalam sejarah Islam. Mendaki Gunung Hira memerlukan tenaga karena jalurnya terjal. Meski demikian, rasa lelah akan terbayar saat sahabat tiba di gua dan menyaksikan panorama Makkah dari ketinggian.
Seperti yang dirasakan penulis, “Saya merasakan suasana hening yang membuat hati bergetar. Membayangkan Nabi Muhammad SAW duduk sendirian, merenungi kehidupan, lalu menerima wahyu pertama, adalah pengalaman spiritual yang sangat dalam.”

Makna Bagi Jamaah

Bagi jamaah yang datang, Gunung Hira menjadi pengingat bahwa setiap insan harus meluangkan waktu untuk mendekat kepada Allah. Dari sinilah ajaran Islam dimulai, membawa cahaya bagi seluruh umat manusia.


Gunung Tsur Tempat Persembunyian Rasulullah SAW

Gunung Tsur berada di bagian selatan Makkah dengan ketinggian sekitar 750 meter. Gunung ini dikenal karena kisah hijrah Nabi Muhammad SAW ke Madinah.

Sejarah Gunung Tsur

Ketika Rasulullah SAW dan sahabat Abu Bakar RA berhijrah ke Madinah, kaum Quraisy berusaha mengejar mereka. Dalam kondisi terdesak, Rasulullah dan Abu Bakar bersembunyi di Gua Tsur yang terletak di gunung ini.

Kisah yang masyhur adalah ketika Allah menolong Nabi dengan menurunkan mukjizat berupa jaring laba laba dan burung merpati di mulut gua. Para pengejar Quraisy mengira gua tersebut kosong dan tidak dimasuki siapa pun, padahal Rasulullah dan Abu Bakar berada di dalamnya.

Perjalanan Menuju Gua Tsur

Pendakian menuju Gua Tsur cukup berat. Dibutuhkan fisik yang kuat karena jalannya menanjak dan berbatu. Namun, banyak jamaah tetap bersemangat untuk sampai ke sana karena ingin merasakan jejak sejarah agung itu.

Nilai Spiritual Gunung Tsur

Gunung Tsur mengajarkan kita tentang tawakal dan keyakinan kepada Allah. Meskipun dikepung bahaya, Rasulullah SAW tetap tenang. Abu Bakar sempat cemas, namun Nabi menenangkannya dengan kalimat yang terkenal, “Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.”
Penulis pun merasakan getaran iman ketika membayangkan peristiwa itu, “Berada di depan Gua Tsur, saya seperti diingatkan bahwa pertolongan Allah datang pada waktu yang tepat, meski situasi tampak mustahil.”


Gunung Uhud Simbol Perjuangan dan Pengorbanan

Berbeda dengan Gunung Hira dan Tsur yang berada di Makkah, Gunung Uhud terletak di Madinah. Namun, gunung ini tidak bisa dilepaskan dari sejarah perlawanan umat Islam terhadap kaum Quraisy Makkah.

Sejarah Gunung Uhud

Gunung Uhud dikenal luas sebagai lokasi terjadinya Perang Uhud pada tahun ke 3 Hijriah. Dalam perang ini, kaum Muslimin menghadapi pasukan Quraisy dalam jumlah besar. Meski awalnya kaum Muslimin unggul, tetapi karena sebagian pasukan pemanah meninggalkan posisi mereka, akhirnya pasukan Quraisy berhasil membalikkan keadaan.

Banyak sahabat gugur syahid, termasuk paman Nabi, Sayyidina Hamzah bin Abdul Muthalib. Hingga kini, makam para syuhada Uhud berada di kaki gunung dan menjadi tempat ziarah penuh doa.

Gunung yang Dicintai Rasulullah

Rasulullah SAW bersabda, “Uhud adalah gunung yang mencintai kami dan kami pun mencintainya.” Sabda ini menunjukkan betapa Gunung Uhud memiliki nilai spiritual yang sangat tinggi. Gunung ini bukan sekadar batu dan tanah, tetapi bagian dari cinta Rasulullah kepada umatnya.

Makna Bagi Umat Islam

Gunung Uhud mengajarkan arti kesabaran, pengorbanan, dan disiplin. Dari perang ini, umat Islam belajar bahwa kemenangan hanya diraih dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul.
Penulis pun menyampaikan pengalamannya, “Saat berdiri di kaki Gunung Uhud, saya merasa kecil di hadapan sejarah besar. Kokohnya gunung ini seakan menjadi saksi bisu pengorbanan para sahabat yang membela agama Islam dengan nyawa mereka.”


Perbandingan Sejarah Tiga Gunung Bersejarah

Agar sahabat AET Travel Indonesia lebih mudah memahami, berikut tabel singkat mengenai sejarah masing masing gunung.

Nama GunungLokasiPeristiwa BersejarahNilai Spiritual
Gunung Hira5 km dari Masjidil Haram, MakkahTempat Rasulullah SAW menerima wahyu pertama di Gua HiraMengingatkan pentingnya mendekat kepada Allah melalui tafakur
Gunung TsurSelatan Makkah, ±750 meterRasulullah SAW bersembunyi bersama Abu Bakar saat hijrah, mukjizat jaring laba labaMengajarkan tawakal, keyakinan, dan perlindungan Allah
Gunung UhudMadinahTerjadi Perang Uhud, gugurnya para syuhada termasuk Hamzah bin Abdul MuthalibMelambangkan pengorbanan, cinta Rasulullah, dan pelajaran ketaatan

Pesan Bagi Sahabat AET Travel Indonesia

Mempelajari sejarah gunung gunung ini bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan rasa cinta kepada Rasulullah SAW. Setiap langkah mendaki, setiap doa yang dipanjatkan, adalah cara untuk meresapi perjuangan beliau dalam menegakkan Islam.

Penulis merasakan, “Kisah gunung gunung bersejarah di Makkah dan Madinah membuat hati saya semakin yakin bahwa perjalanan ibadah bukan hanya soal ritual, tetapi juga menghidupkan kembali jejak perjuangan Rasulullah SAW.”