5 Jenis Tawaf Haji yang Perlu Dipahami Jamaah

Haji & Umrah14 Views

Ibadah haji adalah puncak perjalanan spiritual seorang Muslim. Setiap tahun, jutaan umat Islam dari seluruh dunia datang ke Tanah Suci untuk memenuhi panggilan Allah. Mereka meninggalkan rumah, keluarga, dan pekerjaan demi satu tujuan, yaitu melaksanakan rukun Islam kelima.

Salah satu ritual paling penting dalam ibadah haji adalah tawaf. Tawaf dilakukan dengan cara mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali putaran berlawanan arah jarum jam. Namun, tahukah Anda bahwa dalam ibadah haji terdapat beberapa jenis tawaf dengan tujuan dan hukum yang berbeda? Mengetahui jenis-jenis tawaf ini sangat penting agar ibadah haji sah dan sempurna.


Tawaf Qudum

Tawaf Qudum sering disebut sebagai tawaf kedatangan. Tawaf ini menjadi awal perjumpaan seorang hamba dengan Baitullah, simbol cinta sekaligus kepatuhan kepada Allah.

Pengertian Tawaf Qudum

Secara bahasa, qudum berarti datang atau tiba. Maka, tawaf Qudum adalah tawaf yang dilakukan ketika seorang jamaah haji pertama kali memasuki Masjidil Haram setelah tiba di Makkah. Ibarat tamu agung yang datang ke rumah Allah, jamaah menyambutnya dengan penuh takzim.

Hukum Tawaf Qudum

Hukum tawaf Qudum adalah sunnah muakkadah bagi jamaah yang menunaikan haji dengan niat Ifrad dan Qiran. Artinya, jika dilakukan maka mendapat pahala besar, namun jika ditinggalkan tidak membatalkan haji. Sementara bagi jamaah haji Tamattu’, tawaf ini tidak berlaku karena mereka sudah melakukan tawaf dalam ibadah umrah sebelumnya.

Tata Cara Pelaksanaan Tawaf Qudum

Pelaksanaan tawaf Qudum sama seperti tawaf lainnya. Jamaah memulai dari Hajar Aswad dengan niat tawaf, lalu mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali. Pada tiga putaran pertama disunnahkan berlari-lari kecil (ramal) bagi laki-laki, kemudian berjalan biasa pada empat putaran berikutnya.

Makna Spiritual Tawaf Qudum

Tawaf Qudum memiliki nilai yang dalam. Jamaah merasakan getaran iman ketika pertama kali menatap Ka’bah. Air mata seringkali jatuh tanpa disadari, karena momen ini menjadi saksi nyata perjuangan panjang menuju Baitullah.


Tawaf Ifadah

Tawaf Ifadah adalah tawaf yang menjadi rukun utama haji. Tanpa melaksanakan tawaf ini, haji seseorang tidak dianggap sah.

Kedudukan Tawaf Ifadah

Tawaf Ifadah dikenal juga sebagai tawaf rukun atau tawaf ziyadah. Ia merupakan bagian inti dari rangkaian ibadah haji. Setelah melaksanakan wukuf di Arafah dan melempar jumrah Aqabah, jamaah wajib melaksanakan tawaf Ifadah sebagai bentuk penghambaan sempurna.

Waktu Pelaksanaan Tawaf Ifadah

Tawaf Ifadah bisa dilaksanakan mulai tanggal 10 Dzulhijjah setelah wukuf di Arafah dan melempar jumrah Aqabah. Waktunya cukup luas, hingga akhir bulan Dzulhijjah. Namun, ulama menganjurkan agar jamaah melakukannya secepat mungkin agar tidak terlewat.

Tata Cara Tawaf Ifadah

Jamaah memulai tawaf dari Hajar Aswad dengan niat yang benar. Setiap putaran dilakukan dengan khusyuk, membaca doa dan zikir. Setelah menyelesaikan tujuh putaran, jamaah melaksanakan salat dua rakaat di belakang maqam Ibrahim jika memungkinkan, lalu melanjutkan sa’i haji di antara bukit Safa dan Marwah.

Hikmah Tawaf Ifadah

Tawaf ini mengajarkan tentang ketaatan yang sempurna. Setelah melewati puncak haji di Arafah, jamaah melanjutkan perjalanan rohaninya dengan tawaf Ifadah. Ia menjadi tanda penyerahan diri total kepada Allah, meninggalkan segala dosa, dan memulai hidup baru dengan hati yang bersih.


Tawaf Wada

Tawaf Wada disebut juga tawaf perpisahan. Inilah amalan terakhir sebelum jamaah meninggalkan Kota Makkah setelah menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah haji.

Makna Tawaf Wada

Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Begitu pula dalam ibadah haji, tawaf Wada menjadi tanda bahwa jamaah harus kembali ke tanah air. Tawaf ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada Baitullah. Suasana haru kerap menyelimuti, air mata bercucuran karena berat meninggalkan rumah Allah.

Hukum Tawaf Wada

Tawaf Wada hukumnya wajib bagi setiap jamaah haji yang akan meninggalkan Makkah. Jika ditinggalkan, maka jamaah wajib membayar dam (denda). Namun, bagi wanita yang sedang haid atau nifas, syariat memberikan keringanan sehingga mereka tidak diwajibkan melakukannya.

Tata Cara Tawaf Wada

Tawaf dilakukan dengan tujuh putaran penuh di sekitar Ka’bah, dimulai dari Hajar Aswad. Setelah selesai, jamaah disunnahkan untuk minum air Zamzam, berdoa di Multazam, dan memohon keberkahan hidup setelah pulang.

Nilai Spiritual Tawaf Wada

Banyak jamaah mengaku bahwa tawaf Wada adalah momen paling emosional. Setelah berhari-hari berada di Makkah, kini mereka harus mengucapkan selamat tinggal. Namun, doa mereka agar suatu saat bisa kembali lagi ke Baitullah selalu menjadi penguat hati.


Tawaf Umrah

Selain dalam rangkaian haji, ada juga tawaf yang khusus dilakukan dalam ibadah umrah, yaitu tawaf Umrah.

Pengertian Tawaf Umrah

Tawaf Umrah merupakan bagian dari rukun umrah. Tanpa melaksanakan tawaf ini, ibadah umrah tidak sah. Oleh karena itu, jamaah yang berniat umrah wajib melakukannya dengan benar.

Tata Cara Tawaf Umrah

Jamaah memulai dari Hajar Aswad dengan niat tawaf. Setiap putaran dilakukan dengan doa dan zikir, sambil menjaga adab dan sopan santun. Setelah tujuh putaran selesai, jamaah melaksanakan salat dua rakaat di belakang maqam Ibrahim, kemudian melanjutkan sa’i antara Safa dan Marwah, lalu diakhiri dengan tahallul.

Hukum Tawaf Umrah

Tawaf Umrah memiliki hukum wajib sebagai rukun ibadah. Jika tidak dilakukan, maka umrah tidak sah. Oleh sebab itu, setiap jamaah harus memperhatikan pelaksanaan tawaf Umrah dengan benar.

Keutamaan Tawaf Umrah

Tawaf Umrah memiliki banyak keutamaan, di antaranya mendapatkan ampunan Allah, meningkatkan ketakwaan, dan mempererat rasa persaudaraan sesama Muslim yang berkumpul di Baitullah.


Tawaf Sunnah

Selain tawaf yang terkait langsung dengan rukun haji dan umrah, ada juga tawaf sunnah yang dapat dilakukan kapan saja.

Pengertian Tawaf Sunnah

Tawaf Sunnah adalah tawaf yang dilakukan secara sukarela di luar rangkaian haji atau umrah. Jamaah yang berada di Masjidil Haram dapat melaksanakannya kapan pun sebagai bentuk ibadah tambahan.

Keutamaan Tawaf Sunnah

Setiap putaran dalam tawaf sunnah bernilai pahala yang besar. Rasulullah SAW menyebutkan bahwa tawaf di sekitar Ka’bah sama nilainya dengan salat, hanya saja dalam tawaf jamaah diperbolehkan berbicara seperlunya. Setiap langkah yang diambil menjadi saksi ketaatan seorang hamba kepada Allah.

Waktu Pelaksanaan Tawaf Sunnah

Tawaf sunnah bisa dilakukan kapan saja, baik siang maupun malam. Banyak jamaah yang mengisi waktu di Masjidil Haram dengan tawaf sunnah, terutama pada waktu-waktu senggang di luar jadwal ibadah haji.

Suasana Tawaf Sunnah

Suasana tawaf sunnah biasanya lebih tenang dibandingkan tawaf wajib, karena jamaah melakukannya dengan penuh kerelaan tanpa terburu-buru. Banyak jamaah yang mengaku bahwa tawaf sunnah memberi ketenangan batin yang luar biasa.


Setiap jenis tawaf punya nuansa spiritual berbeda

Sebagai penulis yang pernah menyaksikan langsung suasana tawaf di Masjidil Haram, saya merasakan bahwa setiap jenis tawaf memiliki nuansa spiritual yang berbeda. Saat pertama kali melihat Ka’bah, hati bergetar luar biasa, seakan seluruh dunia terhenti. Dalam tawaf Ifadah, terasa sekali bahwa kita menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah. Sementara dalam tawaf Wada, perasaan haru bercampur doa agar bisa kembali lagi suatu hari nanti.

Saya pribadi berpendapat, “Tawaf adalah simbol kehidupan. Kita berputar mengelilingi pusat yang sama, yaitu Allah, dan semakin kita dekat, semakin kita sadar bahwa tiada tujuan lain selain Dia.”