Selama berabad-abad, kubah menjadi simbol kuat dalam arsitektur masjid. Hampir di setiap kota Muslim, kubah menjulang menjadi ikon yang mudah dikenali. Namun, apakah masjid selalu harus memiliki kubah? Ternyata tidak. Di beberapa belahan dunia, arsitek dan komunitas Muslim memilih meninggalkan tradisi kubah dan menggantikannya dengan gaya yang lebih modern, kontekstual, bahkan eksperimental.
Keputusan untuk menghadirkan masjid tanpa kubah ini bukan sekadar persoalan estetika, melainkan juga jawaban atas kebutuhan fungsi, iklim, hingga representasi budaya. Dari Indonesia hingga Tiongkok, ada deretan masjid yang tampil tanpa kubah namun tetap megah dan penuh makna.
“Ketiadaan kubah justru membuat saya semakin sadar bahwa rumah ibadah ini tak perlu mengikuti satu simbol baku. Kehadirannya tetap terasa sakral, meski tampil dengan wajah yang benar-benar berbeda.”
Masjid Al Irsyad, Bandung – Minimalisme Spiritual di Kaki Gunung
Bandung, yang dikenal dengan julukan Kota Kembang, menyimpan banyak karya arsitektur ikonik. Salah satunya adalah Masjid Al Irsyad di Kota Baru Parahyangan. Masjid ini dirancang oleh Ridwan Kamil ketika ia masih berprofesi sebagai arsitek, jauh sebelum terjun ke dunia politik. Sejak berdiri, masjid ini langsung mencuri perhatian karena tampil berbeda: tidak ada kubah, tidak ada ornamen berlebih, hanya sebuah bangunan kotak dengan dinding beton ekspos.
Keunikan masjid ini ada pada dinding berlubang yang membentuk kaligrafi Allah. Cahaya alami masuk melalui rongga tersebut, menciptakan nuansa spiritual yang sederhana namun penuh makna. Ruangan dalam masjid terasa lapang, tanpa tiang penyangga yang mengganggu pandangan jamaah. Latar belakang pegunungan menjadikan masjid ini seolah berpadu dengan alam.
Arsitektur Al Irsyad mengusung konsep minimalis. Tidak ada cat berwarna mencolok atau ornamen rumit. Semua dibuat sederhana, membumi, namun sarat simbol. Misalnya, orientasi kiblat diarahkan lurus menghadap ke Mekah, sehingga dinding masjid menyatu dengan garis lurus menuju Ka’bah.
“Saya merasa seakan berada dalam ruang hening yang membebaskan pikiran. Tidak ada ornamen berlebih, hanya keheningan yang membuat doa lebih fokus.”
Al Irsyad membuktikan bahwa kesederhanaan bisa menjadi kemegahan tersendiri, terutama saat menyatukan arsitektur dengan suasana spiritual.
Masjid Baiturrahman, Semarang – Sejuk di Tengah Tropis
Semarang dikenal dengan iklim panasnya yang kerap membuat siapa pun merasa gerah. Di tengah kondisi itu, Masjid Baiturrahman hadir dengan desain tropis modern tanpa kubah. Arsitektur masjid ini didominasi atap miring lebar yang membuat sirkulasi udara berjalan maksimal.
Bangunannya memadukan elemen kayu, kaca, dan beton. Dari luar, masjid ini terlihat modern dan ringan. Dari dalam, jamaah dimanjakan dengan cahaya alami dan sirkulasi udara yang membuat ibadah terasa nyaman meski tanpa pendingin ruangan.
Keputusan untuk tidak menghadirkan kubah bukanlah sekadar gaya, melainkan jawaban atas kebutuhan iklim tropis. Atap miring berlapis berfungsi seperti payung besar yang menaungi jamaah. Bahkan, sistem pencahayaan alami membuat masjid ini hemat energi.
“Keputusan berani untuk melepas kubah seolah membuktikan bahwa fungsi dan kenyamanan jamaah lebih penting dibanding simbol visual semata.”
Masjid Baiturrahman menjadi contoh bagaimana arsitektur masjid bisa menyesuaikan diri dengan iklim lokal, sekaligus tetap tampil menawan tanpa harus mengikuti konvensi.
Masjid Negara, Kuala Lumpur – Payung Raksasa Simbol Bangsa
Di tengah hiruk pikuk ibu kota Malaysia, Kuala Lumpur, berdiri Masjid Negara yang sejak awal memang diniatkan sebagai simbol kemerdekaan dan kemajuan bangsa. Diresmikan pada tahun 1965, masjid ini sengaja dibangun dengan desain berbeda: tanpa kubah.
Sebagai gantinya, arsitek menghadirkan atap berbentuk payung raksasa dengan 18 sisi. Angka ini melambangkan 13 negeri di Malaysia dan 5 rukun Islam. Bentuk payung dipilih sebagai simbol perlindungan Allah bagi umat manusia.
Masjid Negara mampu menampung lebih dari 15.000 jamaah sekaligus. Interiornya dihiasi dengan pilar tinggi menjulang, sementara area shalat utama terasa monumental tanpa perlu banyak ornamen.
Uniknya, pada awal pembangunan sempat terjadi perdebatan karena absennya kubah dianggap melawan tradisi. Namun, seiring waktu, masjid ini justru menjadi ikon arsitektur modern Asia Tenggara.
“Setiap kali melihat Masjid Negara, saya merasakan energi optimisme bangsa. Seakan kubah yang absen justru membuka langit lebih luas bagi doa-doa yang terucap.”
Kini, Masjid Negara menjadi salah satu destinasi religi dan wisata paling penting di Kuala Lumpur, membuktikan bahwa masjid tanpa kubah bisa tetap menjadi simbol nasional.
Masjid Quba, Singapura – Kubus Putih Ramah Lingkungan
Singapura selalu dikenal dengan tata kota yang rapi dan modern. Tak heran jika masjid-masjid di sana pun kerap tampil dengan desain futuristik. Salah satunya adalah Masjid Quba yang terletak di kawasan Geylang.
Masjid ini dibangun dengan bentuk kubus putih minimalis tanpa kubah maupun menara. Filosofi kesederhanaan menjadi kunci utama. Interiornya terang berkat cahaya alami yang masuk melalui dinding kaca, sementara ventilasi silang membuat sirkulasi udara terasa segar.
Keputusan menghadirkan bentuk kubus bukan sekadar estetika, tetapi juga efisiensi. Bangunan lebih mudah dirawat, hemat energi, dan ramah lingkungan. Meski sederhana, jamaah yang datang tetap merasakan kekhusyukan.
“Saya melihat masjid ini seperti kanvas kosong. Semakin polos, semakin terasa kesakralannya.”
Keberadaan Masjid Quba menjadi bukti bahwa masjid bisa tampil sederhana, modern, dan tetap sarat makna spiritual.
Masjid Niujie, Beijing – Harmoni Islam dan Budaya Tiongkok
Jika berbicara masjid tanpa kubah, Masjid Niujie di Beijing mungkin yang paling unik. Dibangun pada tahun 996 Masehi, masjid ini merupakan salah satu masjid tertua di Tiongkok. Menariknya, arsitektur masjid ini sama sekali tidak mengikuti gaya Timur Tengah.
Masjid Niujie tampil dengan gaya kuil tradisional Tiongkok. Atapnya bertingkat melengkung khas arsitektur istana, lengkap dengan ukiran naga dan motif awan. Satu-satunya elemen Islami yang menonjol adalah kaligrafi Arab yang terpahat di dinding dan tiang.
Masjid ini merepresentasikan bagaimana Islam bisa beradaptasi dengan budaya lokal tanpa kehilangan identitasnya. Meski tidak berkubah, suasana Islami tetap kental terasa saat jamaah beribadah di dalamnya.
“Saya merasakan keunikan yang sulit ditemukan di tempat lain. Masjid Niujie mengajarkan bahwa Islam bisa tumbuh dalam harmoni budaya lokal tanpa kehilangan jati diri.”
Kini, Masjid Niujie bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga destinasi wisata budaya yang memperlihatkan perjalanan panjang Islam di Tiongkok.
Arsitektur Masjid Tanpa Kubah, Sebuah Gerakan Baru?
Melihat fenomena ini, muncul pertanyaan: apakah tren masjid tanpa kubah akan semakin banyak di masa depan? Meski tidak semua arsitek sepakat, banyak yang menilai bahwa arsitektur masjid kini lebih menekankan fungsi, iklim, dan konteks budaya daripada sekadar simbol visual.
Masjid tanpa kubah memberi ruang eksplorasi yang luas bagi arsitek untuk menghadirkan rumah ibadah yang relevan dengan zamannya. Di satu sisi, desain ini bisa lebih ramah lingkungan. Di sisi lain, ia juga memperlihatkan bahwa Islam bukan agama yang kaku, melainkan bisa menyatu dengan berbagai ekspresi budaya.
“Masjid tanpa kubah bukan sekadar soal bentuk, melainkan pesan bahwa ibadah bisa berlangsung di ruang apa pun, selama hati dan niat tertuju pada Allah.”
