Apa Itu Tajassus, Larangan Mencari Aib Orang dalam Islam

Hukum Islam393 Views

Tajassus menjadi salah satu istilah penting dalam ajaran Islam yang berkaitan langsung dengan adab menjaga kehormatan sesama manusia. Istilah ini sering muncul ketika membahas kebiasaan mencari kesalahan orang lain, menyelidiki urusan pribadi, mengorek rahasia keluarga, membuka aib teman, hingga memantau kehidupan seseorang dengan niat buruk. Dalam kehidupan harian, perbuatan ini kadang terlihat sepele, padahal Islam menaruh perhatian besar terhadap kehormatan manusia.

Secara sederhana, tajassus berarti mencari cari keburukan, menyelidiki rahasia, atau berusaha mengetahui aib orang lain yang sebenarnya tidak tampak dan tidak perlu diketahui. Perbuatan ini bisa terjadi dalam hubungan keluarga, pertemanan, lingkungan kerja, bahkan di ruang digital. Islam melarang tajassus karena manusia tidak diperintahkan menjadi pengintai kesalahan orang lain, melainkan diperintahkan menjaga lisan, menahan prasangka, dan menutup aib sesama selama tidak ada alasan syar’i yang benar.

Arti Tajassus dalam Islam

Tajassus berasal dari bahasa Arab yang berkaitan dengan kegiatan mencari berita, menyelidiki sesuatu, atau menelusuri hal tersembunyi. Dalam pembahasan akhlak Islam, tajassus lebih sering dipakai untuk menyebut perbuatan mencari aib, keburukan, atau rahasia seseorang dengan cara yang tidak dibenarkan.

Dalam arti yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat, tajassus adalah ketika seseorang sengaja menggali kesalahan orang lain, bukan untuk menolong, bukan untuk memperbaiki keadaan, tetapi untuk memuaskan rasa penasaran, membuka celah celaan, atau menjadikan aib itu sebagai bahan pembicaraan. Di sinilah tajassus menjadi penyakit hati yang merusak hubungan antarmanusia.

Tajassus tidak selalu dilakukan dengan tindakan besar. Kadang ia hadir dalam bentuk membaca pesan pribadi tanpa izin, menguping percakapan, memeriksa ponsel pasangan secara sembunyi, menanyakan rahasia rumah tangga orang lain kepada tetangga, atau mengikuti akun media sosial seseorang hanya untuk mencari bahan gunjingan.

Islam memandang manusia sebagai makhluk yang memiliki kehormatan. Aib seseorang bukan bahan hiburan, bukan bahan komentar, dan bukan pula bahan untuk menaikkan posisi sosial orang lain. Jika Allah menutup keburukan seorang hamba, maka seorang Muslim tidak layak berusaha membukanya tanpa alasan yang benar.


Dalil Al Quran tentang Larangan Tajassus

Larangan tajassus disebut secara tegas dalam Al Quran, yaitu dalam Surah Al Hujurat ayat 12. Ayat ini menjadi dasar utama pembahasan tentang adab menjaga prasangka, larangan memata matai, dan larangan menggunjing sesama.

Allah berfirman yang artinya:

Wahai orang orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah kamu mencari cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Apakah salah seorang di antara kamu suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.

Ayat ini menunjukkan bahwa tajassus tidak berdiri sendiri. Ia sering berawal dari prasangka buruk, lalu berubah menjadi keinginan menyelidiki, kemudian berakhir sebagai ghibah. Seseorang mula mula curiga, lalu mencari bukti dengan cara yang salah, kemudian menceritakan hasil pencariannya kepada orang lain.

Urutan ini sangat halus, tetapi berbahaya. Karena itu, Al Quran menutup pintunya sejak awal dengan perintah menjauhi banyak prasangka. Islam tidak ingin hubungan sesama Muslim dibangun di atas kecurigaan, saling intai, dan kebiasaan membongkar hal pribadi.

Ayat ini juga memakai perumpamaan yang sangat kuat tentang ghibah, yaitu seperti memakan daging saudara sendiri yang sudah meninggal. Perumpamaan tersebut menggambarkan betapa buruknya membicarakan aib orang yang tidak hadir dan tidak mampu membela diri.

Hadis tentang Tajassus dan Mencari Kesalahan Orang

Rasulullah saw memberikan peringatan tegas agar umat Islam tidak mudah berprasangka, tidak mencari kesalahan, dan tidak saling membenci. Hadis ini menjadi pegangan penting dalam menjaga hubungan sosial.

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda: “Jauhilah prasangka, karena prasangka adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah kalian mencari cari kesalahan orang lain, janganlah kalian memata matai, janganlah kalian saling iri, janganlah kalian saling membelakangi, janganlah kalian saling membenci. Jadilah kalian hamba hamba Allah yang bersaudara.”
Hadis riwayat Bukhari

Hadis ini memperlihatkan bahwa tajassus bukan sekadar kesalahan perilaku, tetapi bagian dari rangkaian akhlak buruk yang bisa merusak persaudaraan. Jika prasangka buruk dibiarkan, seseorang akan terdorong untuk mencari kesalahan. Setelah kesalahan ditemukan, muncul rasa benci, iri, dan jarak di antara sesama.

Ada pula hadis lain yang memperingatkan bahaya mencari keburukan manusia.

Dari Muawiyah ra, Rasulullah saw bersabda: “Jika engkau mencari cari keburukan manusia, engkau telah merusak mereka atau hampir merusak mereka.”
Hadis riwayat Abu Dawud

Hadis ini memberi pelajaran bahwa orang yang gemar memburu aib tidak hanya merusak nama orang lain, tetapi juga merusak suasana masyarakat. Lingkungan yang dipenuhi tajassus akan kehilangan rasa aman. Orang menjadi takut berbicara, takut bergaul, takut salah, dan sulit saling percaya.


Perbedaan Tajassus, Tahassus, dan Ghibah

Dalam pembahasan akhlak, tajassus sering berdekatan dengan beberapa istilah lain seperti tahassus dan ghibah. Ketiganya sama sama berkaitan dengan kesalahan dalam menjaga kehormatan orang lain, tetapi memiliki sisi yang berbeda.

Tajassus biasanya dipahami sebagai mencari cari aib atau rahasia orang lain dengan cara menyelidiki. Tujuannya adalah mengetahui hal yang tersembunyi, terutama keburukan yang sebenarnya tidak tampak.

Tahassus sering dijelaskan sebagai usaha mendengar atau menangkap berita secara langsung, seperti menguping pembicaraan orang lain atau mencari kabar yang tidak seharusnya diketahui. Sebagian ulama menyamakan tajassus dan tahassus, sementara sebagian lain membedakannya dari sisi cara.

Ghibah adalah membicarakan keburukan seseorang ketika orang itu tidak hadir, meskipun yang dibicarakan benar. Jika berita itu tidak benar, maka ia menjadi fitnah yang lebih berat dosanya.

Hubungan ketiganya sangat dekat. Tajassus bisa menjadi jalan menuju ghibah. Seseorang menyelidiki aib orang lain, lalu menceritakannya kepada teman, keluarga, atau publik. Dari sinilah dosa bertambah luas, karena aib yang tadinya tersembunyi berubah menjadi konsumsi banyak orang.

Contoh Tajassus dalam Kehidupan Harian

Tajassus tidak selalu tampak sebagai tindakan besar. Banyak contoh yang terjadi di sekitar masyarakat, bahkan sering dianggap biasa. Padahal, jika niatnya mencari aib dan caranya melanggar hak pribadi, perbuatan tersebut masuk dalam wilayah yang dilarang.

Beberapa contoh tajassus antara lain:

  1. Membuka ponsel orang lain tanpa izin untuk membaca pesan pribadi.
  2. Menguping pembicaraan tetangga, teman kerja, atau anggota keluarga.
  3. Mencari tahu isi rumah tangga orang lain dari pembantu, anak kecil, atau tetangga.
  4. Menyebarkan tangkapan layar percakapan pribadi tanpa izin.
  5. Memantau media sosial seseorang hanya untuk mencari kesalahan.
  6. Menyelidiki masa lalu seseorang untuk menjatuhkan kehormatannya.
  7. Membongkar aib teman setelah hubungan menjadi renggang.
  8. Mengorek masalah rumah tangga orang lain lalu menjadikannya bahan obrolan.
  9. Mengikuti akun gosip yang isinya membuka rahasia pribadi orang.
  10. Menanyakan urusan pribadi seseorang dengan niat mempermalukan.

Contoh tersebut menunjukkan bahwa tajassus bisa masuk ke banyak ruang kehidupan. Bahkan seseorang bisa melakukannya sambil merasa benar, karena menganggap dirinya hanya ingin tahu. Padahal rasa ingin tahu tidak selalu menjadi alasan yang dibenarkan dalam Islam.


Tajassus di Media Sosial

Perkembangan media sosial membuat tajassus semakin mudah terjadi. Banyak orang bisa melihat kehidupan orang lain, menyimpan foto, membagikan percakapan, membaca komentar lama, atau mencari jejak kesalahan seseorang hanya dengan ponsel. Kemudahan ini menuntut akhlak yang lebih kuat.

Di dunia digital, tajassus bisa hadir dalam bentuk mengikuti akun seseorang untuk mencari cela, menyebarkan tangkapan layar tanpa izin, membongkar percakapan pribadi, atau menyusun potongan informasi agar seseorang terlihat buruk. Perbuatan seperti ini tidak berubah menjadi benar hanya karena dilakukan di ruang terbuka.

Ada orang yang beralasan bahwa sesuatu yang sudah muncul di internet boleh dibicarakan sesuka hati. Alasan ini perlu hati hati. Tidak semua hal yang terlihat boleh dijadikan bahan celaan. Seorang Muslim tetap wajib menjaga lisan, menimbang niat, dan menghindari penyebaran aib.

Media sosial juga membuat dosa lebih mudah menyebar. Satu unggahan tentang aib seseorang bisa dibagikan berulang kali, dikomentari banyak orang, lalu tersimpan lama. Orang yang pertama membuka aib bisa ikut menanggung dosa karena menjadi jalan tersebarnya keburukan itu.

Mengapa Islam Melarang Tajassus

Islam melarang tajassus karena agama ini menjaga kehormatan manusia. Setiap orang memiliki kelemahan, kesalahan, dan bagian hidup yang tidak ingin diketahui orang lain. Jika setiap aib dibuka, masyarakat akan dipenuhi rasa curiga dan permusuhan.

Larangan tajassus juga menjaga pintu tobat. Bisa jadi seseorang pernah berbuat salah, lalu Allah menutup aibnya agar ia punya kesempatan memperbaiki diri. Jika orang lain membongkar aib itu, ia bukan hanya mempermalukan, tetapi juga bisa membuat orang tersebut semakin jauh dari perbaikan.

Selain itu, tajassus menumbuhkan kesombongan halus. Orang yang sibuk mencari aib orang lain sering lupa memeriksa dirinya sendiri. Ia merasa lebih bersih karena menemukan kekurangan orang lain, padahal setiap manusia juga memiliki kekurangan yang Allah tutupi.

Islam mengajarkan agar seorang Muslim lebih sibuk memperbaiki dirinya daripada membongkar kesalahan orang lain. Menasihati orang yang salah tetap dianjurkan, tetapi nasihat memiliki adab. Nasihat dilakukan dengan ilmu, kelembutan, dan tujuan memperbaiki, bukan mempermalukan.


Apakah Semua Penyelidikan Termasuk Tajassus

Tidak semua bentuk penyelidikan otomatis termasuk tajassus yang haram. Islam membedakan antara mencari aib tanpa alasan dan melakukan pemeriksaan untuk mencegah kejahatan atau menjaga hak orang banyak.

Misalnya, aparat yang menyelidiki tindak kriminal dengan aturan yang jelas tidak sama dengan orang biasa yang mengorek aib tetangga. Orang tua yang menjaga anak dari bahaya nyata juga berbeda dari orang yang membuka rahasia tanpa sebab. Pemimpin yang memeriksa pelanggaran besar demi keselamatan masyarakat juga tidak sama dengan penggunjing yang mencari bahan celaan.

Namun, batas ini tidak boleh dijadikan alasan untuk membenarkan rasa penasaran pribadi. Prinsipnya, penyelidikan yang dibenarkan harus memiliki alasan kuat, dilakukan oleh pihak yang memiliki kewenangan atau tanggung jawab, memakai cara yang benar, dan bertujuan mencegah keburukan yang nyata.

Jika tidak ada keperluan yang sah, maka mencari rahasia orang lain tetap dilarang. Apalagi jika hasilnya hanya menjadi bahan pembicaraan, bahan sindiran, atau bahan mempermalukan seseorang di hadapan orang banyak.

Tajassus dalam Keluarga dan Rumah Tangga

Tajassus juga bisa terjadi di dalam keluarga. Banyak orang mengira hubungan dekat memberi izin untuk membuka semua rahasia tanpa batas. Padahal Islam tetap mengajarkan adab, izin, dan kepercayaan.

Dalam rumah tangga, suami dan istri memang perlu saling terbuka. Namun keterbukaan tidak berarti boleh memata matai tanpa alasan. Memeriksa ponsel pasangan secara sembunyi, memasang alat pelacak tanpa alasan yang benar, atau menyelidiki setiap percakapan bisa merusak kepercayaan.

Jika ada persoalan, Islam mendorong komunikasi yang jujur, nasihat yang baik, dan penyelesaian dengan kepala dingin. Kecurigaan yang tidak berdasar hanya akan membuat rumah tangga terasa sempit. Setiap percakapan menjadi bahan curiga, setiap keterlambatan menjadi tuduhan, setiap diam menjadi persoalan.

Orang tua juga perlu berhati hati. Mengawasi anak adalah tanggung jawab, tetapi tetap harus dilakukan dengan hikmah. Anak perlu dididik untuk jujur, bukan hanya dibuat takut karena selalu dicurigai. Pengawasan yang baik dilakukan untuk menjaga, bukan mempermalukan.


Cara Menghindari Tajassus

Menghindari tajassus dimulai dari menjaga hati. Sebelum mencari tahu tentang orang lain, seorang Muslim perlu bertanya kepada dirinya sendiri: untuk apa saya ingin tahu, apakah ini perlu, apakah ini akan memperbaiki keadaan, atau justru hanya memuaskan rasa penasaran.

Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan agar terhindar dari tajassus:

  1. Menahan prasangka buruk sebelum ada bukti yang jelas.
  2. Tidak membuka barang pribadi orang lain tanpa izin.
  3. Menghindari obrolan yang mengarah pada aib seseorang.
  4. Tidak mengikuti akun atau konten yang gemar membongkar rahasia pribadi.
  5. Menolak ajakan untuk menyebarkan tangkapan layar percakapan pribadi.
  6. Mengingat bahwa diri sendiri juga memiliki aib yang Allah tutupi.
  7. Memilih menasihati secara baik jika memang ada kesalahan yang perlu diperbaiki.
  8. Berdoa agar hati dijauhkan dari rasa senang melihat keburukan orang lain.

Sikap paling aman adalah berhenti pada hal yang tampak. Jika seseorang tampak baik, perlakukan ia dengan baik. Jika ada kesalahan yang terlihat jelas dan perlu dinasihati, nasihati dengan adab. Jika hanya dugaan dan kabar samar, jangan jadikan itu bahan tuduhan.

Jika Sudah Terlanjur Melakukan Tajassus

Seseorang yang pernah melakukan tajassus tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah. Islam selalu membuka pintu tobat bagi hamba yang ingin kembali. Namun tobat harus dilakukan dengan sungguh sungguh, bukan hanya merasa bersalah sesaat lalu mengulanginya kembali.

Langkah pertama adalah berhenti dari perbuatan tersebut. Jangan melanjutkan pencarian aib, jangan menyimpan bahan untuk menyakiti, dan jangan menyebarkan hal yang sudah diketahui. Jika ada foto, pesan, rekaman, atau dokumen pribadi yang didapat dengan cara tidak benar, hapus dan jangan disebarkan.

Langkah kedua adalah menyesali perbuatan itu. Penyesalan penting karena tajassus melukai hak manusia. Bisa jadi orang yang diawasi tidak tahu, tetapi Allah mengetahui. Bisa jadi aib itu belum tersebar, tetapi niat buruk sudah tercatat.

Langkah ketiga adalah menjaga kehormatan orang yang pernah dicari aibnya. Jika aibnya sudah terlanjur tersebar karena ucapan kita, maka perlu memperbaiki semampunya. Jangan menambah komentar, jangan mengulang cerita, dan jangan membiarkan orang lain terus membicarakannya jika kita mampu menghentikan.

Langkah keempat adalah memperbanyak amal baik. Lisan yang dulu dipakai untuk membicarakan orang lain bisa dilatih untuk berzikir, membaca Al Quran, memberi nasihat baik, dan mendoakan sesama. Mata yang dulu dipakai mencari cela bisa diarahkan untuk membaca ilmu yang bermanfaat.


Menjaga Aib Orang Lain adalah Akhlak Mulia

Islam mengajarkan bahwa menutup aib sesama adalah akhlak yang tinggi. Menutup aib bukan berarti membenarkan kesalahan. Menutup aib berarti tidak menjadikan kesalahan pribadi seseorang sebagai bahan celaan publik, selama tidak ada bahaya besar yang harus dicegah.

Seorang Muslim yang baik tidak senang melihat saudaranya jatuh. Ia tidak bahagia ketika menemukan rahasia buruk orang lain. Ia tidak menjadikan kelemahan orang sebagai tangga untuk merasa lebih suci. Justru ia merasa takut, karena bisa jadi Allah juga sedang menutup banyak aibnya sendiri.

Dalam masyarakat yang sehat, orang saling menasihati tanpa mempermalukan. Orang saling mengingatkan tanpa membongkar kehormatan. Orang bisa salah, tetapi tetap diberi ruang untuk memperbaiki diri. Inilah salah satu keindahan akhlak Islam.

Tajassus mengajarkan satu pelajaran besar: tidak semua hal harus diketahui, tidak semua rahasia harus dibuka, dan tidak semua kesalahan harus dibicarakan. Ada saatnya seorang Muslim memilih diam karena menjaga kehormatan saudaranya. Ada saatnya ia menahan jari dari membagikan unggahan. Ada saatnya ia menutup telinga dari gosip, karena sadar bahwa kehormatan manusia bukan bahan permainan.

Adab Menjaga Rasa Ingin Tahu

Rasa ingin tahu adalah bagian dari manusia. Namun dalam Islam, rasa ingin tahu harus dipandu oleh iman dan adab. Mengetahui hal yang bermanfaat adalah kebaikan. Mencari ilmu adalah ibadah. Tetapi mencari aib orang lain adalah jalan yang dilarang.

Seorang Muslim perlu membedakan antara peduli dan mencampuri. Peduli berarti membantu ketika seseorang membutuhkan pertolongan. Mencampuri berarti masuk ke ruang pribadi orang lain tanpa hak. Peduli membuat orang merasa aman. Mencampuri membuat orang merasa diawasi.

Karena itu, ketika mendengar kabar buruk tentang seseorang, sikap terbaik adalah tidak tergesa percaya, tidak ikut menyebarkan, dan tidak menambah bumbu cerita. Bila orang itu membutuhkan nasihat, nasihati dengan cara yang menjaga kehormatannya. Bila tidak ada hak untuk ikut campur, maka diam lebih selamat.

Dalam urusan aib, seorang Muslim seharusnya takut kepada Allah sebelum takut kepada manusia. Sebab aib yang dibuka di dunia bisa menjadi perkara berat di akhirat. Orang yang hari ini terlihat lemah bisa saja lebih mulia di sisi Allah karena tobatnya, sedangkan orang yang sibuk membongkar aib bisa jatuh karena kesombongannya sendiri.

Tajassus bukan sekadar persoalan mencari informasi. Ia adalah ujian hati, ujian lisan, dan ujian akhlak. Siapa yang mampu menahan diri dari mencari keburukan orang lain, ia sedang menjaga kehormatan saudaranya sekaligus menjaga keselamatan dirinya sendiri di hadapan Allah.