Hikmah Adanya Dua Khutbah dalam Shalat Jumat

Islami28 Views

Shalat Jumat adalah salah satu syiar Islam yang memiliki kedudukan sangat agung. Berbeda dengan shalat lima waktu pada umumnya, Jumat menghadirkan keistimewaan berupa shalat dua rakaat yang diawali oleh khutbah. Khutbah Jumat tidak dilakukan sekali, tetapi dua kali dengan dipisahkan duduk sejenak oleh khatib. Ketentuan ini bukan sekadar formalitas ibadah, melainkan memiliki hikmah yang dalam, baik dari sisi syariat maupun dari sisi sosial umat Islam.

“Menurut saya, dua khutbah Jumat adalah bukti betapa Islam mengajarkan keseimbangan antara nasihat dan doa. Seseorang tidak hanya butuh peringatan, tetapi juga peneguhan hati lewat doa bersama. Dua khutbah ini memberikan ruang jeda agar nasihat bisa masuk ke dalam hati sebelum ditutup dengan doa yang mengikat jamaah dalam kebersamaan.”

Landasan Syariat Dua Khutbah Jumat

Dua khutbah yang menjadi syarat sah Jumat bukanlah inovasi para ulama, melainkan bersumber dari praktik Nabi Muhammad SAW. Dalam banyak hadis, diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW selalu menyampaikan khutbah dalam dua bagian dengan duduk sebentar di antaranya.

Hadis Riwayat tentang Dua Khutbah

Salah satu dalil utama adalah hadis dari Abdullah bin Umar RA, beliau berkata:

“Nabi SAW berkhutbah dengan berdiri, kemudian beliau duduk, lalu berdiri kembali seperti itu sebagaimana kalian lakukan sekarang.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menjadi dasar bahwa khutbah Jumat dilakukan dua kali, dengan duduk singkat sebagai pemisah. Ulama sepakat bahwa duduk di antara dua khutbah adalah bagian dari sunnah muakkadah bahkan masuk dalam rukun khutbah menurut jumhur.

Pandangan Para Ulama

  • Mazhab Syafi’i dan Hambali menegaskan bahwa dua khutbah merupakan syarat sah shalat Jumat. Jika khutbah hanya dilakukan sekali, maka shalat Jumat tidak sah dan harus diganti dengan Zuhur.
  • Mazhab Hanafi lebih longgar, namun tetap menekankan keutamaan mengikuti sunnah Nabi dengan dua khutbah.
  • Mazhab Maliki menyatakan duduk sejenak di antara dua khutbah adalah sunnah yang tidak boleh ditinggalkan tanpa alasan.

Kesepakatan ulama inilah yang membuat praktik khutbah dua kali dijaga hingga kini di seluruh dunia Islam.

Makna Spiritual Dua Khutbah

Shalat Jumat tidak hanya ibadah individual, melainkan momentum kolektif umat Islam. Dua khutbah mengandung makna spiritual yang dalam, menjadikan nasihat lebih mudah diterima dan doa lebih khusyuk dirasakan.

Khutbah Pertama Sebagai Nasihat dan Peringatan

Khutbah pertama biasanya diawali dengan pujian kepada Allah, shalawat kepada Nabi, dan pengingat tentang takwa. Dalam khutbah inilah khatib menyampaikan pesan moral, ayat Al Quran, dan hadis yang menekankan pentingnya menjauhi larangan Allah serta menjalankan perintah-Nya.

Nasihat di khutbah pertama berfungsi menggugah kesadaran umat agar memperbaiki diri, bertaubat, dan lebih peka terhadap kewajiban sosial.

Khutbah Kedua Sebagai Doa dan Peneguhan

Setelah duduk sejenak, khutbah kedua dilanjutkan dengan doa. Doa ini tidak hanya untuk jamaah, tetapi juga untuk keselamatan umat Islam secara global. Isinya sering mencakup permohonan ampunan, perlindungan, dan doa bagi para pemimpin agar berlaku adil.

Dua khutbah ini melengkapi satu sama lain. Nasihat tanpa doa terasa kering, sedangkan doa tanpa nasihat kehilangan pijakan. Inilah harmoni yang dihadirkan syariat.

“Saya pribadi melihat dua khutbah seperti dua sisi mata uang. Satu menyadarkan kita pada kewajiban, satu lagi menguatkan kita dengan doa. Keduanya saling melengkapi dan tidak bisa dipisahkan.”

Hikmah Jeda di Antara Dua Khutbah

Mengapa harus ada duduk sejenak di antara dua khutbah? Ternyata ini mengandung pesan yang mendalam.

Simbol Rendah Hati

Duduk sejenak menunjukkan bahwa khatib bukanlah sosok yang lebih tinggi dari jamaah. Ia hanyalah hamba Allah yang juga tunduk pada aturan-Nya. Dengan duduk, khatib menunjukkan kerendahan hati bahwa ia menyampaikan pesan bukan atas kehebatan dirinya, melainkan sebagai amanah.

Waktu untuk Merenung

Bagi jamaah, jeda ini adalah momen penting untuk menenangkan pikiran. Setelah mendengar nasihat berat di khutbah pertama, hati diberi waktu untuk mencerna sebelum menerima doa di khutbah kedua. Inilah keindahan syariat Islam yang memperhatikan kondisi psikologis manusia.

Menciptakan Kekhusyukan

Jeda singkat menjadikan suasana lebih sakral. Jamaah tidak sekadar mendengar tanpa henti, tetapi ada ruang untuk menyerap pesan. Hal ini menambah kekhusyukan ibadah Jumat yang memang menjadi hari raya mingguan bagi umat Islam.

Dua Khutbah sebagai Sarana Dakwah

Khutbah Jumat adalah salah satu media dakwah paling efektif dalam Islam. Karena diwajibkan bagi laki-laki Muslim, khutbah menjadi ruang strategis bagi khatib untuk menyampaikan pesan agama, sosial, dan kebangsaan.

Menyatukan Pesan Umat

Dengan dua khutbah, pesan yang disampaikan lebih terstruktur. Khatib bisa menekankan peringatan di khutbah pertama, lalu memperkuat dengan doa bersama di khutbah kedua. Hal ini membuat jamaah lebih mudah menangkap maksud khutbah.

Media Pemersatu

Tidak ada forum yang lebih besar bagi umat Islam setiap pekan selain shalat Jumat. Dari pejabat hingga rakyat jelata, semuanya duduk sejajar di masjid. Dua khutbah menjadi media pemersatu, mengingatkan bahwa semua hamba Allah setara di hadapan-Nya.

Membangun Kesadaran Kolektif

Khutbah bukan hanya soal akidah, tetapi juga kesadaran sosial. Banyak khatib menyampaikan isu kemanusiaan, keadilan, hingga pentingnya persatuan. Dengan dua khutbah, pesan ini semakin mengakar di hati jamaah.

Relevansi Dua Khutbah di Era Modern

Meskipun lahir dari tradisi Nabi, dua khutbah tetap relevan dalam kehidupan modern. Bahkan, semakin dibutuhkan sebagai pengingat di tengah derasnya arus informasi digital.

Menghadapi Tantangan Moral

Di era media sosial, umat sering terjebak dalam arus hedonisme. Khutbah Jumat hadir sebagai filter moral. Dengan dua khutbah, umat tidak hanya diberi nasihat, tetapi juga dikuatkan dengan doa agar tetap istiqamah.

Ruang Refleksi Kolektif

Masyarakat modern cenderung individualis. Shalat Jumat memaksa umat untuk berkumpul, mendengar nasihat bersama, dan berdoa bersama. Dua khutbah memperkuat fungsi refleksi kolektif ini, agar umat tidak terjebak dalam egoisme pribadi.

Meneguhkan Identitas Islam

Di tengah globalisasi, dua khutbah menjadi identitas khas umat Islam. Keberadaannya membedakan shalat Jumat dari sekadar shalat berjamaah, menegaskan bahwa Islam punya tradisi ibadah yang kaya nilai dan makna.

“Saya merasa bahwa di zaman sekarang, dua khutbah bukan sekadar ibadah, tetapi benteng moral. Nasihatnya menyentuh, doanya menguatkan, dan keduanya menjaga kita agar tidak hanyut dalam arus modernitas yang serba cepat.”

Pandangan Ulama tentang Kedalaman Hikmah Dua Khutbah

Para ulama sepanjang sejarah memberikan penjelasan yang indah mengenai hikmah dua khutbah.

  • Imam Nawawi dalam Al Majmu’ menjelaskan bahwa dua khutbah dimaksudkan agar khutbah lebih mudah diingat jamaah.
  • Imam Al Ghazali melihat khutbah sebagai sarana tazkiyatun nafs, yaitu pembersihan jiwa. Dua khutbah membuat hati lebih lembut menerima pesan.
  • Ibnu Hajar Al Asqalani menegaskan bahwa duduk di antara dua khutbah adalah simbol tawaadhu’ seorang khatib.

Dengan pandangan ulama ini, terlihat bahwa dua khutbah bukan sekadar ritual, melainkan sarana pendidikan ruhani yang mendalam.

Kesinambungan Tradisi dari Nabi hingga Umat

Dua khutbah telah dijaga sejak masa Rasulullah SAW hingga kini. Meski bentuk penyampaian bisa berbeda, substansinya tetap sama. Dari masjid kecil di desa hingga masjid megah di kota besar, dua khutbah menjadi simbol kesatuan umat Islam.

Setiap pekan, jutaan khatib di seluruh dunia menyampaikan pesan yang sama: nasihat dan doa. Jamaah di seluruh penjuru bumi pun duduk mendengarkan dalam suasana yang sama. Inilah keberkahan dari sunnah Nabi yang terus hidup sepanjang zaman.