Inilah 3 Jenis Nasi Favorit Khas Arab Saudi Selain Nasi Biryani

Travel14 Views

Arab Saudi dikenal sebagai Tanah Suci umat Islam dengan dua kota paling mulia, Makkah dan Madinah. Namun, negeri ini bukan hanya tempat ibadah, melainkan juga pusat budaya dan kuliner yang kaya akan sejarah. Salah satu makanan pokok yang paling mencerminkan identitas masyarakat Arab adalah nasi. Jika nasi biryani sudah begitu populer di seluruh dunia, ternyata ada tiga jenis nasi khas Arab Saudi lainnya yang juga menjadi favorit, yaitu nasi kabsa, nasi mandi, dan nasi jareesh.

Bagi jamaah haji, umrah, maupun wisatawan muslim, mencicipi tiga jenis nasi ini adalah pengalaman yang bukan hanya soal rasa, tetapi juga perjalanan spiritual. Setiap butir nasi menyimpan kisah sejarah, makna religius, dan filosofi kebersamaan.


Nasi Kabsa, Sajian Ikonik Arab Saudi

Nasi kabsa adalah hidangan yang sangat identik dengan Arab Saudi. Banyak yang menyebut kabsa sebagai hidangan nasional negeri ini. Kabsa menggunakan beras basmati panjang, dimasak bersama tomat, daging ayam atau kambing, dan rempah-rempah seperti kapulaga, cengkeh, kayu manis, lada hitam, hingga jintan.

Asal Usul dan Nilai Religius Kabsa

Kabsa diyakini berasal dari Yaman sebelum akhirnya menyebar ke Hijaz dan Najd. Dalam sejarahnya, kabsa sering disajikan pada momen keagamaan seperti Idul Fitri dan Idul Adha sebagai simbol rasa syukur atas rezeki. Warna oranye kemerahan dari tomat mencerminkan keceriaan dan keberkahan.

Di beberapa majelis ilmu, kabsa disajikan setelah kajian Al Qur’an. Hal ini memperlihatkan bahwa makanan ini bukan sekadar hidangan, tetapi bagian dari aktivitas religius yang menguatkan ukhuwah islamiyah.

Filosofi Kebersamaan

Kabsa hampir selalu disajikan di atas nampan besar untuk disantap bersama. Dalam tradisi Arab, makan dari satu wadah diyakini mempererat hubungan persaudaraan. Bagi saya pribadi, mencicipi kabsa di Riyadh terasa seperti menikmati kehangatan keluarga, walau jauh dari tanah air.

Tempat Terbaik Menikmati Kabsa

Jika berada di Makkah, restoran Al Tazaj menjadi pilihan populer dengan kabsa ayamnya yang gurih. Sedangkan di Riyadh, Najd Village menyajikan kabsa dalam suasana klasik lengkap dengan dekorasi khas rumah tradisional Najd.


Nasi Mandi, Favorit Jamaah Haji dan Umrah

Nasi mandi juga menjadi salah satu hidangan paling dicari di Arab Saudi. Dibanding kabsa, nasi mandi terasa lebih ringan dan sederhana, tetapi tetap memikat dengan aroma khas daging panggang.

Proses Memasak Nasi Mandi

Nasi mandi dimasak dengan teknik unik: daging ayam atau kambing dipanggang atau diasap, kemudian dimasak bersamaan dengan nasi dalam wadah tertutup. Cara ini membuat aroma daging meresap ke setiap butir nasi.

Makna Religius Nasi Mandi

Mandi kerap disajikan untuk menghormati tamu. Dalam Islam, memuliakan tamu adalah sunnah Nabi Muhammad SAW dan dianggap tanda iman. Oleh sebab itu, nasi mandi menjadi simbol keramahan dan penghormatan.

Bagi jamaah haji dan umrah, nasi mandi terasa istimewa karena sering disantap setelah ibadah di Masjidil Haram atau Masjid Nabawi. Banyak jamaah Indonesia menyebut nasi ini sebagai makanan penuh barakah karena hadir di momen spiritual.

Sejarah dan Hubungan dengan Haji

Sejak abad pertengahan, nasi mandi sudah menjadi makanan musafir yang datang ke Makkah. Kombinasi nasi basmati dengan daging asap yang tahan lama membuatnya cocok untuk jamaah haji yang menempuh perjalanan panjang.

Tempat Terbaik Menikmati Nasi Mandi

Di Makkah, restoran Al Romansiah terkenal dengan nasi mandi kambing yang empuk dan aromatik. Di Madinah, restoran Abu Zaid menyediakan nasi mandi dengan varian ayam dan kambing, dilengkapi saus pedas khas Arab. Lokasinya dekat dengan Masjid Nabawi sehingga mudah dijangkau peziarah.


Nasi Jareesh, Warisan Kuliner Kuno

Jika kabsa dan mandi berbasis beras basmati, jareesh justru unik karena menggunakan gandum pecah. Teksturnya lebih lembut, mirip bubur kasar, dan sudah menjadi bagian dari kuliner kuno masyarakat Najd.

Sejarah dan Makna Religius Jareesh

Jareesh disebut-sebut sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Makanan ini kerap disajikan dalam acara keagamaan, seperti peringatan Maulid Nabi atau doa bersama. Dalam Al Qur’an, gandum disebut sebagai salah satu nikmat Allah, sehingga jareesh dianggap simbol keberkahan dan kesederhanaan.

Filosofi Kehangatan

Jareesh dimasak dalam waktu lama sehingga butuh kesabaran. Proses ini melambangkan kasih sayang, karena hidangan yang dibuat dengan sabar dianggap membawa keberkahan. Saat saya mencicipinya di Riyadh, keluarga tuan rumah menyajikan jareesh sambil membaca doa syukur, menciptakan suasana yang penuh dengan nilai spiritual.

Tempat Terbaik Menikmati Jareesh

Riyadh menjadi kota terbaik untuk menikmati jareesh. Restoran Najd Village menyajikannya dengan resep tradisional, lengkap dengan suasana rumah Arab klasik. Banyak keluarga di Riyadh juga masih menjadikan jareesh hidangan wajib dalam pertemuan keagamaan.


Panduan Kuliner Islami untuk Jamaah dan Wisatawan

Bagi Anda yang berencana mencicipi ketiga hidangan ini, berikut panduan singkat yang bisa membantu:

KotaHidangan UtamaRekomendasi TempatKisaran HargaCatatan
MakkahKabsa, MandiAl Tazaj, Al RomansiahSAR 25 – 40 per porsiDekat Masjidil Haram, populer di kalangan jamaah
MadinahMandiAbu Zaid, restoran lokal sekitar NabawiSAR 20 – 35 per porsiMudah ditemukan di sekitar Masjid Nabawi
RiyadhKabsa, JareeshNajd Village, restoran tradisional NajdSAR 30 – 50 per porsiSuasana klasik, cocok untuk wisata budaya

Harga bisa bervariasi tergantung porsi dan jenis daging. Biasanya, satu porsi cukup besar sehingga bisa disantap berdua atau bertiga. Inilah sebabnya banyak jamaah lebih memilih makan bersama, selain hemat juga menambah makna kebersamaan.