Menuntut ilmu dalam Islam bukan sekadar kegiatan belajar di ruang kelas, bukan pula hanya urusan para pelajar, santri, ustaz, dosen, atau peneliti. Dalam ajaran Islam, ilmu adalah bekal utama seorang muslim untuk mengenal Allah, memahami ibadah, menjaga akhlak, mencari rezeki yang halal, dan menjalani hidup dengan arah yang benar. Karena itu, pembahasan tentang kewajiban menuntut ilmu selalu terasa dekat dengan kehidupan umat, dari anak kecil yang baru belajar membaca Al Quran sampai orang tua yang terus memperbaiki bacaan salatnya.
Islam memberi kedudukan tinggi kepada orang berilmu. Dalam Surah Al Mujadilah ayat 11, Allah menyebut akan mengangkat derajat orang beriman dan orang yang diberi ilmu. Ayat ini menjadi salah satu dasar kuat bahwa ilmu bukan hiasan pikiran, melainkan jalan kemuliaan di sisi Allah.
Kewajiban Menuntut Ilmu dalam Islam
Kewajiban menuntut ilmu memiliki tempat istimewa dalam ajaran Islam. Seorang muslim tidak cukup hanya memiliki semangat beribadah, tetapi juga harus memahami cara beribadah yang benar. Salat, puasa, zakat, muamalah, adab kepada orang tua, sampai cara mencari nafkah yang halal, semuanya membutuhkan ilmu.
Hadis yang sangat dikenal tentang kewajiban ini diriwayatkan dalam Sunan Ibnu Majah. Bagian yang masyhur dari hadis tersebut berbunyi:
“Menuntut ilmu adalah kewajiban atas setiap muslim.”
Riwayat ini sering menjadi pintu pembahasan para ulama saat menjelaskan bahwa setiap muslim wajib mempelajari ilmu yang membuat ibadahnya sah dan hidupnya tidak keluar dari batas halal dan haram. Artinya, seseorang wajib tahu dasar akidah, cara bersuci, cara salat, kewajiban puasa, aturan zakat bila sudah memenuhi syarat, serta ilmu yang berkaitan dengan pekerjaan dan tanggung jawabnya.
Seorang pedagang wajib tahu hukum jual beli agar tidak terjerumus dalam riba, penipuan, atau kecurangan timbangan. Seorang kepala keluarga wajib memahami tanggung jawab kepada istri dan anak. Seorang anak wajib belajar adab kepada orang tua. Seorang pekerja wajib memahami amanah dalam pekerjaan. Ilmu menjadi pagar agar amal tidak hanya terlihat baik, tetapi juga benar menurut syariat.
Ilmu Membuat Ibadah Lebih Jernih
Ibadah yang dilakukan tanpa ilmu mudah berubah menjadi kebiasaan kosong. Seseorang bisa rajin salat, tetapi keliru dalam bersuci. Seseorang bisa semangat berpuasa, tetapi tidak tahu hal yang membatalkan puasanya. Seseorang bisa gemar bersedekah, tetapi tidak paham bahwa harta yang diberikan harus berasal dari jalan yang halal.
Karena itulah para ulama selalu menekankan adab belajar sebelum memperbanyak amal sunnah. Ilmu membuat seseorang tahu mana yang wajib, mana yang sunnah, mana yang haram, mana yang makruh, dan mana yang mubah. Dengan ilmu, ibadah menjadi lebih tenang karena dilakukan berdasarkan pemahaman, bukan sekadar ikut kebiasaan.
Al Quran juga mengajarkan doa yang sangat indah tentang ilmu. Dalam Surah Taha ayat 114, terdapat doa:
“Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.”
Ayat ini menunjukkan bahwa seorang hamba tidak boleh merasa cukup dengan pengetahuan yang sudah dimiliki. Bahkan doa yang diajarkan Al Quran adalah permintaan agar Allah menambah ilmu, bukan menambah pujian manusia atau kedudukan duniawi.
Tuntutlah Ilmu Hingga ke Negeri Cina
Ungkapan “tuntutlah ilmu hingga ke negeri Cina” sangat populer di tengah masyarakat muslim. Kalimat ini kerap dipakai untuk membangkitkan semangat belajar, terutama ketika seseorang harus pergi jauh demi memperoleh pengetahuan. Secara pesan moral, ungkapan ini mengingatkan bahwa ilmu layak diperjuangkan, meski jarak, biaya, dan lelah harus dihadapi.
Namun, dalam penulisan keislaman, kalimat ini perlu disampaikan dengan hati hati. Ada ulama yang menilai riwayat “carilah ilmu walaupun ke negara Cina” sebagai riwayat yang lemah. Karena itu, kalimat tersebut lebih aman disebut sebagai ungkapan penyemangat belajar, bukan sebagai hadis sahih yang pasti berasal dari Rasulullah SAW.
Seorang muslim tetap boleh mengambil semangat baik dari kalimat tersebut, selama tidak menyandarkannya secara pasti kepada Nabi bila belum jelas kekuatan riwayatnya. Sikap seperti ini justru bagian dari ilmu. Cinta kepada Rasulullah SAW tidak hanya dibuktikan dengan banyak mengutip perkataan yang diklaim sebagai hadis, tetapi juga dengan memastikan bahwa perkataan itu benar benar layak disandarkan kepada beliau.
Belajar Jauh Boleh, Tetapi Niat Harus Lurus
Semangat mencari ilmu sampai tempat jauh sangat sejalan dengan sejarah umat Islam. Para ulama terdahulu menempuh perjalanan panjang untuk mendengar hadis, berguru kepada ahli fikih, memperdalam bahasa Arab, dan mengumpulkan pengetahuan. Mereka rela meninggalkan kenyamanan rumah karena paham bahwa ilmu tidak selalu datang ke pangkuan seseorang.
Namun, perjalanan mencari ilmu harus dimulai dari niat yang bersih. Seorang muslim belajar bukan hanya untuk menang debat, mencari pujian, atau merasa lebih tinggi dari orang lain. Ilmu yang benar seharusnya membuat hati lebih tunduk, lisan lebih terjaga, dan amal lebih rapi.
Ilmu juga tidak selalu berarti belajar di tempat jauh. Bagi sebagian orang, ilmu bisa dimulai dari memperbaiki bacaan Al Quran di masjid terdekat. Bagi yang lain, ilmu bisa dimulai dari menghadiri kajian, membaca kitab dasar, bertanya kepada guru yang terpercaya, atau mempelajari hukum pekerjaan yang sedang dijalani.
Jauh atau dekat bukan ukuran utama. Yang paling penting adalah kesungguhan, guru yang benar, sumber yang dapat dipercaya, serta adab yang dijaga.
Ilmu Agama dan Ilmu Dunia Tidak Perlu Dipertentangkan
Dalam kehidupan muslim, ilmu agama dan ilmu dunia tidak harus saling dipisahkan secara kaku. Ilmu agama memberi arah halal dan haram, sedangkan ilmu dunia dapat menjadi sarana untuk membawa manfaat bagi manusia. Dokter muslim membutuhkan ilmu kedokteran sekaligus adab terhadap pasien. Pengusaha muslim membutuhkan ilmu bisnis sekaligus pemahaman tentang kejujuran dan riba. Pejabat muslim membutuhkan ilmu tata kelola sekaligus rasa takut kepada Allah saat memegang amanah.
Ketika ilmu dunia dijalankan dengan iman, ia bisa menjadi ladang amal. Seorang guru yang mengajar dengan sabar, seorang petani yang menjaga kehalalan hasil panen, seorang teknisi yang bekerja jujur, dan seorang penulis yang menyampaikan kebenaran, semuanya sedang memakai ilmu sebagai jalan kebaikan.
Masalah muncul ketika ilmu membuat seseorang sombong. Ada orang yang semakin banyak belajar, tetapi semakin mudah merendahkan orang lain. Ada yang hafal banyak istilah, tetapi lisannya tajam kepada sesama muslim. Ilmu seperti ini kehilangan ruh adab.
Dalam tradisi Islam, adab berjalan bersama ilmu. Orang berilmu tidak hanya diukur dari banyaknya kutipan yang ia hafal, tetapi dari bagaimana ilmu itu tampak dalam cara bicara, cara bersikap, dan cara mengambil keputusan.
Adab Penuntut Ilmu yang Sering Dilupakan
Penuntut ilmu membutuhkan adab agar ilmu yang masuk ke hati tidak berubah menjadi kesombongan. Adab pertama adalah ikhlas. Belajar harus diarahkan untuk mencari ridha Allah, memperbaiki diri, dan memberi manfaat kepada sesama.
Adab kedua adalah menghormati guru. Menghormati guru bukan berarti menganggap guru tidak mungkin salah, tetapi menjaga sopan santun saat bertanya, berdiskusi, atau berbeda pandangan. Banyak orang ingin cepat pintar, tetapi tidak sabar menjalani proses belajar. Padahal, ilmu yang berkah sering datang bersama kesabaran.
Adab ketiga adalah teliti dalam menerima informasi. Di zaman ketika kutipan agama mudah tersebar, seorang muslim perlu berhati hati sebelum membagikan hadis, fatwa, atau nasihat keagamaan. Tidak semua kalimat indah otomatis benar sebagai hadis. Tidak semua potongan ceramah cukup untuk dijadikan pegangan hukum.
Adab keempat adalah mengamalkan ilmu sedikit demi sedikit. Ilmu yang tidak diamalkan bisa menjadi beban. Seseorang yang sudah tahu pentingnya salat tepat waktu harus berusaha memperbaiki salatnya. Seseorang yang sudah tahu bahaya ghibah harus mulai menjaga lisannya. Seseorang yang sudah tahu kewajiban amanah harus lebih jujur dalam pekerjaannya.
Peran Keluarga dalam Menumbuhkan Cinta Ilmu
Keluarga adalah madrasah pertama bagi seorang anak. Sebelum anak mengenal guru di sekolah atau ustaz di masjid, ia lebih dulu melihat kebiasaan orang tuanya di rumah. Bila rumah akrab dengan Al Quran, doa, buku, dan percakapan yang baik, anak akan lebih mudah mencintai ilmu.
Orang tua tidak harus menjadi ulama untuk menumbuhkan budaya belajar. Mereka bisa memulai dari hal sederhana, seperti mengajari anak membaca doa harian, menjelaskan adab makan, membiasakan salam, mengajak anak ke masjid, atau menjawab pertanyaan anak dengan sabar.
Anak yang bertanya tidak seharusnya dimarahi. Pertanyaan adalah pintu ilmu. Bila orang tua tidak tahu jawabannya, kalimat jujur seperti “nanti kita cari bersama” jauh lebih baik daripada memberi jawaban asal. Dari sana, anak belajar bahwa mencari ilmu adalah perjalanan yang terhormat.
Keluarga muslim juga perlu menjaga bahan bacaan dan tontonan. Ilmu yang masuk ke rumah akan membentuk cara berpikir anggota keluarga. Karena itu, memilih bacaan yang baik, guru yang jelas, dan lingkungan yang sehat menjadi bagian penting dari pendidikan.
Menuntut Ilmu di Tengah Ramainya Informasi
Hari ini, informasi hadir sangat cepat melalui layar ponsel. Kajian agama, potongan hadis, nasihat ulama, sampai perdebatan keagamaan dapat ditemukan dalam hitungan detik. Kemudahan ini membawa peluang besar, tetapi juga menuntut kewaspadaan.
Seorang muslim perlu membedakan antara informasi dan ilmu. Informasi bisa datang dari mana saja, tetapi ilmu membutuhkan bimbingan, susunan, dan pemahaman yang benar. Menonton potongan pendek tidak selalu cukup untuk memahami satu hukum. Membaca satu kutipan tidak selalu cukup untuk menilai sebuah persoalan.
Karena itu, belajar kepada guru yang jelas tetap penting. Guru membantu murid memahami urutan belajar, menjelaskan istilah yang sulit, meluruskan salah paham, dan mengingatkan ketika ilmu mulai dipakai untuk kesombongan.
Ilmu agama tidak boleh diambil hanya dari potongan yang sesuai selera. Seorang muslim harus siap menerima nasihat yang mungkin berat bagi dirinya. Itulah tanda bahwa ia mencari kebenaran, bukan sekadar mencari pembenaran.
Ilmu yang Mengangkat Derajat dan Menenangkan Hati
Ilmu yang benar akan membawa seseorang lebih dekat kepada Allah. Ia membuat pemiliknya semakin sadar bahwa dirinya lemah tanpa petunjuk Allah. Semakin dalam seseorang mengenal agama, semakin besar pula kebutuhannya kepada rahmat Allah.
Karena itu, orang berilmu tidak semestinya merasa paling suci. Ia justru lebih sering memeriksa diri. Ia tahu bahwa amal membutuhkan keikhlasan, lisan membutuhkan penjagaan, dan hati membutuhkan bimbingan.
Dalam kehidupan masyarakat, orang berilmu juga menjadi penyejuk. Ia tidak mudah memanas manasi keadaan, tidak sembarangan menuduh, dan tidak menjadikan agama sebagai alat merendahkan orang lain. Ilmunya membuat ia berhati hati, baik saat berbicara di mimbar, menulis di media, maupun memberi nasihat kepada keluarga.
Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim karena hidup tanpa ilmu mudah terseret oleh kebiasaan yang salah. Ilmu menjadi cahaya dalam ibadah, kompas dalam bekerja, penjaga dalam berbicara, dan penguat dalam menjalani amanah. Ungkapan “tuntutlah ilmu hingga ke negeri Cina” boleh menjadi pengingat tentang kesungguhan, sementara dalil yang lebih kokoh tetap menjadi pegangan utama dalam membangun semangat belajar yang benar.
