Rukun Islam Ada Berapa ? Ini Penjelasan Tiap Rukunnya

Hukum Islam631 Views

Di tengah banyaknya istilah keislaman yang sering terdengar, rukun Islam termasuk yang paling dasar namun juga paling sering ditanyakan ulang. Pertanyaannya sederhana, rukun Islam ada berapa. Jawabannya tegas, rukun Islam ada lima. Lima rukun ini disebut langsung dalam hadis sahih yang sangat masyhur, diriwayatkan antara lain oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, dengan redaksi inti bahwa Islam dibangun di atas lima perkara.

Sebelum masuk satu per satu, penting dipahami bahwa rukun Islam adalah amalan pokok yang menjadi penyangga kehidupan seorang Muslim. Banyak lembaga dan rujukan keislaman menjelaskan kelima rukun ini sebagai fondasi ibadah yang wajib ditegakkan.

Rukun Islam Ada Lima dan Ini Dasar Penyebutannya

Kalau ada yang bertanya, dari mana urutan dan jumlah rukun Islam ditetapkan, jawabannya kembali ke hadis Nabi yang menjelaskan lima pilar tersebut. Hadis ini sering dikenal sebagai hadis tentang Islam dibangun di atas lima, dan redaksinya mencakup syahadat, mendirikan salat, menunaikan zakat, puasa Ramadan, serta haji bagi yang mampu.

Di berbagai penjelasan populer, kelima rukun itu juga disebut sebagai pilar utama yang wajib diketahui umat Islam, karena dari sinilah seseorang menata hubungan dengan Allah sekaligus hubungan sosial dengan sesama.

Urutan yang Paling Dikenal di Indonesia

Di Indonesia, urutan yang paling umum diajarkan adalah syahadat, salat, zakat, puasa Ramadan, lalu haji. Banyak artikel keislaman arus utama juga memakai urutan ini ketika menjelaskan rukun Islam.

Namun yang paling penting bukan sekadar menghafal urutannya. Yang lebih utama adalah memahami isinya, syaratnya, serta bagaimana rukun itu dijalankan dengan benar sesuai tuntunan.


Rukun Islam Pertama Syahadat

Saat orang masuk Islam, kalimat yang pertama kali diikrarkan adalah syahadat. Karena itu syahadat selalu ditempatkan di awal, sebab ia menjadi pintu pengakuan iman dan identitas seorang Muslim. Dalam hadis rukun Islam, syahadat disebut sebagai persaksian bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.

Syahadat bukan hanya lafal. Ia menuntut pembenaran dalam hati, pengucapan dengan lisan, lalu pembuktian dalam perbuatan, minimal dengan tidak menyekutukan Allah dan berusaha taat kepada ajaran Rasul.

Dua Kalimat Syahadat dan Kandungannya

Sebelum membahas rincian, perlu dipahami bahwa syahadat terdiri dari dua bagian yang saling menguatkan. Bagian pertama adalah tauhid, menegaskan keesaan Allah. Bagian kedua menegaskan kerasulan Nabi Muhammad, yang berarti ajaran agama diikuti melalui tuntunan beliau.

Kalau seseorang mengaku bertauhid tetapi menolak tuntunan Rasul, pengakuannya menjadi janggal. Sebaliknya, mengaku mengikuti Rasul tetapi tidak memurnikan ibadah kepada Allah, itu pun tidak sejalan dengan inti syahadat.

Tanda Syahadat Hidup dalam Perilaku Harian

Syahadat yang benar biasanya terlihat dari cara seseorang menjaga ibadah, menjauhi kesyirikan, serta menjaga akhlak. Dalam praktik sehari hari, syahadat menjadi alasan mengapa seorang Muslim merasa diawasi Allah, lebih hati hati terhadap halal haram, dan lebih serius menjaga amanah.


Rukun Islam Kedua Salat

Setelah syahadat, rukun yang paling sering hadir dalam keseharian adalah salat. Ia tidak menunggu Ramadan, tidak menunggu musim haji, tidak juga menunggu seseorang kaya. Salat hadir lima kali sehari, menjadi pengingat rutin bahwa seorang hamba harus kembali kepada Tuhannya. Dalam hadis rukun Islam, salat disebut dengan istilah mendirikan salat.

Di banyak penjelasan ulama dan lembaga keislaman, salat dipahami sebagai pilar yang menjaga disiplin ibadah. Ia juga menjadi pembeda yang jelas antara seorang Muslim yang menjaga kewajiban dan yang meremehkannya.

Mengapa Redaksinya Mendirikan Salat

Sebelum masuk ke teknis, ada detail menarik. Hadis tidak sekadar menyebut salat, tetapi mendirikan salat. Ini memberi isyarat bahwa salat bukan gerakan asal jadi. Salat harus ditegakkan sesuai syarat, rukun, waktu, dan kekhusyukan yang diupayakan.

Mendirikan salat juga bisa dimaknai sebagai menjaganya secara konsisten, bukan hanya sesekali.

Hal Hal Pokok yang Wajib Dijaga dalam Salat

Sebelum membahas lebih jauh, setiap Muslim perlu memahami inti inti dasar salat. Wudhu yang sah, menutup aurat, menghadap kiblat, masuk waktu, serta mengikuti rukun salat adalah hal yang tidak boleh diabaikan.

Dalam praktik, kualitas salat sering naik turun. Tetapi konsistensi adalah kuncinya. Orang boleh belum sempurna khusyuknya, namun ia terus menjaga salatnya dan memperbaiki sedikit demi sedikit.

Salat sebagai Disiplin Waktu dan Akhlak

Salat mengajari ketepatan waktu, keteraturan, dan sikap tunduk. Dalam ruang sosial, salat berjamaah juga melatih kebersamaan, kesetaraan di saf, serta adab di masjid. Bagi banyak orang, salat yang terjaga menjadi pagar dari perilaku yang merusak, karena ada rasa malu untuk melanggar setelah baru saja berdiri di hadapan Allah.


Rukun Islam Ketiga Zakat

Setelah salat, Islam tidak hanya bicara ibadah personal. Ada kewajiban yang menyentuh harta dan masyarakat, yaitu zakat. Dalam hadis rukun Islam, zakat disebut sebagai menunaikan zakat.

Zakat menegaskan bahwa harta tidak boleh berputar pada segelintir orang saja. Ada hak orang lain yang dititipkan Allah dalam harta orang yang mampu.

Siapa yang Wajib Zakat dan Kapan Wajibnya

Sebelum membahas jenisnya, prinsip umumnya begini. Zakat wajib bagi Muslim yang memenuhi syarat, terutama kepemilikan harta tertentu yang mencapai nisab dan melewati haul, tergantung jenis hartanya. Karena itu, tidak semua orang otomatis wajib zakat mal, sebab ada ukuran kemampuan yang jelas.

Namun, ada jenis zakat yang hampir merata, yaitu zakat fitrah yang ditunaikan menjelang Idulfitri, dengan ketentuan yang dikenal luas dalam fikih.

Zakat Mal dan Zakat Fitrah

Zakat mal berkaitan dengan harta, bisa berupa emas, perak, uang, perdagangan, hasil pertanian, peternakan, dan seterusnya, sesuai pembahasan fikih. Zakat fitrah berkaitan dengan penyucian diri di akhir Ramadan, umumnya berupa makanan pokok atau nilainya.

Di lapangan, banyak orang terbantu dengan adanya lembaga amil zakat yang mengelola penghimpunan dan penyaluran. Ini memudahkan muzaki menunaikan kewajiban dengan tertib.

Tujuan Sosial Zakat dalam Kehidupan Umat

Zakat menutup celah kesenjangan. Ia menghadirkan mekanisme yang rapi untuk membantu delapan golongan penerima zakat yang disebut dalam pembahasan syariat. Ketika zakat berjalan, kebutuhan mendesak masyarakat miskin lebih cepat tertangani, pendidikan anak yatim lebih terbantu, dan program pemberdayaan ekonomi lebih mungkin dijalankan.


Rukun Islam Keempat Puasa Ramadan

Setelah urusan harta, ada rukun yang menguatkan pengendalian diri, yaitu puasa Ramadan. Dalam hadis rukun Islam, puasa disebut sebagai puasa di bulan Ramadan.

Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Puasa adalah latihan kesabaran, latihan menahan lisan, dan latihan menata kebiasaan.

Batasan Puasa yang Harus Dipahami Sejak Awal

Sebelum membahas hikmah, batasannya jelas. Puasa Ramadan dilakukan dari terbit fajar hingga terbenam matahari, dengan menahan diri dari hal hal yang membatalkan, seperti makan, minum, dan hubungan suami istri di siang hari, serta menjaga diri dari perbuatan yang merusak nilai puasa.

Puasa juga punya keringanan bagi kondisi tertentu, misalnya sakit atau safar, dengan aturan mengganti di hari lain atau fidyah sesuai ketentuan fikih.

Puasa dan Pendidikan Pengendalian Diri

Puasa mendidik seseorang mengenali dirinya. Di hari biasa, seseorang mudah sekali mengikuti keinginan. Saat puasa, ia belajar menunda, belajar menahan, dan belajar memilih. Dari sinilah muncul kebiasaan baik seperti lebih peduli kepada orang yang kekurangan, lebih ringan bersedekah, dan lebih rajin membaca Al Quran.

Tradisi Ramadan yang Menguatkan Kebersamaan

Ramadan juga menghidupkan kebersamaan. Ada sahur, buka puasa bersama, tarawih berjamaah, tadarus, hingga kegiatan sosial di masjid. Bagi sebagian keluarga, Ramadan menjadi bulan yang memperbaiki suasana rumah, karena ritme ibadahnya membuat orang lebih mudah menahan emosi dan lebih sering berkumpul.


Rukun Islam Kelima Haji bagi yang Mampu

Rukun yang terakhir adalah haji, dan ia memiliki catatan yang selalu disebutkan para ulama, yaitu bagi yang mampu. Dalam hadis rukun Islam, haji disebut sebagai menunaikan haji ke Baitullah, dan urusan kemampuan menjadi penegasan dalam fikih.

Haji adalah ibadah yang menggabungkan fisik, harta, dan waktu. Ia bukan kewajiban tahunan seperti puasa, tetapi kewajiban sekali seumur hidup bagi yang memenuhi syarat kemampuan.

Apa yang Dimaksud Mampu dalam Ibadah Haji

Sebelum membahas rangkaian manasik, kemampuan mencakup beberapa hal. Kemampuan finansial untuk biaya perjalanan dan kebutuhan keluarga yang ditinggal. Kemampuan fisik untuk menjalankan rangkaian ibadah. Juga kemampuan keamanan perjalanan. Karena itu, seseorang yang belum mampu tidak berdosa karena belum berhaji, tetapi ia tetap dianjurkan menyiapkan diri jika peluang itu terbuka.

Gambaran Rangkaian Besar Manasik Haji

Secara umum, haji meliputi ihram, wukuf di Arafah, mabit, melontar jumrah, tawaf, sa’i, dan tahallul, sesuai ketentuan manasik. Haji mempertemukan Muslim dari berbagai bangsa, bahasa, dan warna kulit dalam satu tujuan yang sama, beribadah kepada Allah di tempat yang sama.

Banyak orang merasakan haji sebagai pengalaman spiritual yang kuat, karena di sana seluruh atribut dunia terasa kecil, sementara panggilan sebagai hamba justru terasa sangat dekat.

Haji dan Pelajaran Kesederhanaan

Haji mengajarkan kesederhanaan lewat pakaian ihram, mengajarkan kesabaran lewat padatnya manusia, serta mengajarkan kepatuhan lewat aturan manasik yang rinci. Dalam kondisi yang melelahkan, seseorang belajar tidak mudah marah, belajar tertib, dan belajar mengalah.

Di titik ini, rukun Islam terlihat sebagai rangkaian yang saling menguatkan. Syahadat menegaskan keyakinan, salat menjaga hubungan harian dengan Allah, zakat membersihkan harta dan menguatkan kepedulian, puasa melatih pengendalian diri, dan haji menjadi puncak pengorbanan bagi yang diberi kemampuan.