Dalam kehidupan sehari hari, ada masa ketika seseorang merasa jalan terasa sempit. Ada urusan keluarga yang belum selesai, pekerjaan yang belum menemukan titik terang, hutang yang ingin segera dilunasi, penyakit yang diharap lekas sembuh, sampai keinginan baik yang ingin dipermudah jalannya. Di saat seperti itu, banyak Muslim mengenal satu amalan yang sangat dekat dengan harapan, yaitu sholat hajat. Dalam tradisi keislaman di Indonesia, sholat ini kerap dikerjakan ketika seseorang memiliki kebutuhan khusus dan ingin memohon pertolongan Allah dengan lebih sungguh sungguh.
Sholat hajat pada umumnya dipahami sebagai sholat sunnah yang dilakukan ketika seseorang mempunyai keperluan tertentu, baik urusan agama maupun urusan dunia yang halal. Setelah sholat, orang yang melaksanakannya dianjurkan memperbanyak pujian kepada Allah, membaca shalawat, lalu memanjatkan doa sesuai hajatnya. Dalam sejumlah rujukan, pelaksanaannya disebut dua rakaat, sementara sebagian penjelasan ulama juga menyebut kemungkinan sampai dua belas rakaat dengan salam tiap dua rakaat.
Di tengah masyarakat, sholat hajat sering dipakai untuk banyak hal. Ada yang mengerjakannya saat akan menghadapi ujian, saat memohon kesembuhan, ketika rumah tangga sedang diuji, ketika mencari pekerjaan, atau saat ingin meminta keteguhan hati dalam mengambil keputusan.
Meski begitu, penting juga dipahami bahwa pembahasan sholat hajat tidak sepenuhnya tunggal. Ada ulama yang menerima amalan ini sebagai bagian dari ibadah sunnah yang diamalkan berdasarkan riwayat riwayat yang ada, sementara ada pula ulama yang menilai hadits khusus tentang sholat hajat tidak cukup kuat sebagai landasan untuk menetapkan satu bentuk ibadah yang sangat spesifik. Di sisi lain, para ulama juga menegaskan bahwa seorang Muslim tetap dianjurkan berdoa, berwudhu, memperbanyak sholat sunnah, dan memohon kepada Allah ketika sedang dihimpit kebutuhan. Karena itu, sholat hajat sering diposisikan sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah saat seseorang memiliki permohonan yang mendesak dan baik.
Apa Itu Sholat Hajat
Sholat hajat adalah sholat sunnah yang dilakukan ketika seseorang mempunyai hajat atau keperluan tertentu, lalu ia memohon kepada Allah agar dimudahkan dan dikabulkan apa yang ia harapkan. Kata hajat sendiri mengandung arti kebutuhan, kepentingan, atau sesuatu yang ingin dicapai. Karena itu, sholat ini tidak terbatas pada satu jenis urusan saja. Selama yang diminta adalah perkara baik dan tidak bertentangan dengan syariat, seorang Muslim boleh memanjatkan hajatnya kepada Allah.
Dalam riwayat Jami at Tirmidzi disebutkan bahwa siapa yang memiliki kebutuhan kepada Allah atau kepada salah seorang manusia, hendaknya ia berwudhu dengan baik, lalu sholat dua rakaat, memuji Allah, bershalawat kepada Nabi, kemudian berdoa. Riwayat inilah yang sering dijadikan rujukan ketika masyarakat membahas sholat hajat.
Di kalangan ulama, penjelasan tentang riwayat tersebut memang beragam. Ada yang mengamalkannya dalam ruang amalan utama, dan ada juga yang menganggap hadits khusus sholat hajat tidak cukup kuat untuk membentuk tata cara yang baku. Karena itu, saat membicarakan sholat hajat, sikap yang bijak adalah tidak menjadikannya bahan pertentangan. Yang lebih utama ialah menjaga adab dalam berdoa, memperbaiki niat, dan mengisi ibadah dengan harapan yang lurus kepada Allah.
Sholat Hajat untuk Apa Digunakan
Banyak orang bertanya, sebenarnya sholat hajat itu untuk apa. Jawabannya, sholat ini digunakan untuk memohon pertolongan Allah dalam urusan yang sedang dihadapi. Ia tidak menggantikan ikhtiar lahiriah, tetapi menjadi penopang batin agar seseorang tidak hanya mengandalkan dirinya sendiri. Di sini letak keindahannya. Saat manusia merasa lemah, ia diajak kembali mengingat bahwa ada Allah yang Maha Mendengar.
Untuk Memohon Kemudahan Urusan
Kebutuhan yang paling sering dikaitkan dengan sholat hajat adalah permohonan agar urusan dipermudah. Ada yang akan menghadapi wawancara kerja, sidang, ujian, perjalanan jauh, proses pengobatan, atau pembicaraan penting dalam keluarga. Sholat hajat menjadi cara untuk menenangkan diri sekaligus memohon agar Allah membuka jalan terbaik.
Untuk Meminta Jalan Keluar dari Kesulitan
Dalam banyak penjelasan ulama, sholat hajat sering dipahami sebagai amalan bagi orang yang sedang sempit urusannya dan ingin memohon jalan keluar dalam urusan agama maupun dunianya. Ini membuat sholat hajat dekat dengan situasi yang sangat manusiawi, seperti masalah ekonomi, tekanan hidup, atau kebingungan menghadapi keadaan yang terasa berat.
“Barang siapa mempunyai kebutuhan kepada Allah atau kepada salah seorang dari Bani Adam, hendaklah ia berwudhu dengan baik, lalu sholat dua rakaat, kemudian memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi.”
Untuk Meneguhkan Hati sebelum Meminta Sesuatu yang Baik
Sholat hajat juga digunakan ketika seseorang ingin memohon sesuatu yang baik, tetapi hatinya belum tenang. Ia ingin tetap menjaga adab kepada Allah, tidak tergesa gesa, dan tidak hanya sibuk meminta tanpa mendekatkan diri. Dalam posisi seperti ini, sholat hajat dapat menjadi pembuka doa. Bukan semata agar permintaan segera tercapai, tetapi agar hati disiapkan menerima apa pun ketetapan Allah. Ini sejalan dengan sifat doa dalam Islam yang selalu mengandung penghambaan.
Untuk Urusan Dunia dan Agama
Sholat hajat tidak hanya dikaitkan dengan urusan dunia seperti rezeki dan pekerjaan. Ia juga dapat dipakai untuk urusan agama, misalnya memohon istiqamah, kemudahan dalam belajar Al Quran, diberi keikhlasan, dilapangkan untuk bertaubat, atau dikuatkan meninggalkan kebiasaan buruk. Dalam banyak penjelasan, sholat hajat memang dikaitkan dengan kebutuhan dalam kebaikan agama dan dunia.
Kapan Sholat Hajat Digunakan
Pertanyaan berikutnya adalah kapan sholat hajat digunakan. Jawaban paling ringkasnya, sholat ini dikerjakan ketika seseorang memiliki hajat atau kebutuhan tertentu yang ingin dipanjatkan kepada Allah. Artinya, ia tidak terikat pada satu hari khusus atau satu momentum tertentu saja. Begitu seseorang memiliki kepentingan yang baik dan ingin memohon pertolongan Allah dengan sungguh sungguh, ia boleh melaksanakannya.
Bisa Dilakukan Kapan Saja selain Waktu yang Dilarang
Sholat hajat bisa dilakukan kapan saja selama bukan pada waktu waktu yang dilarang untuk sholat. Ini berarti pelaksanaannya cukup luas. Seseorang dapat mengerjakannya siang atau malam, selama tidak masuk waktu larangan.
Secara umum, waktu yang dilarang untuk sholat sunnah adalah setelah Subuh hingga matahari terbit sempurna, saat matahari tepat di atas kepala sebelum Zhuhur, dan setelah Ashar hingga matahari terbenam. Karena itu, bila ingin lebih aman, banyak orang memilih mengerjakan sholat hajat di malam hari atau di waktu yang tidak bersinggungan dengan waktu larangan tersebut. Penjelasan tentang malam juga sering dikaitkan dengan suasana yang lebih tenang untuk bermunajat.
Sering Dikerjakan pada Malam Hari
Walaupun tidak wajib malam, sholat hajat kerap dikerjakan pada malam hari karena waktu itu lebih sunyi dan lebih mudah menghadirkan kekhusyukan. Dalam tradisi ibadah, malam memang identik dengan doa yang lebih intim, lebih tenang, dan lebih leluasa dari gangguan urusan dunia. Karena itu, banyak orang memilih selesai Isya atau di sepertiga malam untuk melaksanakan sholat hajat. Ini lebih merupakan pilihan adab dan suasana, bukan syarat mutlak.
“Setelah sholat hajat, dianjurkan pula melantunkan doa.”
Digunakan Saat Ada Hajat yang Jelas
Sholat hajat biasanya terasa lebih hidup ketika seseorang memang tahu apa yang ingin dimintanya. Misalnya, Ya Allah, mudahkan urusan orang tua saya, Ya Allah, beri saya jalan keluar dari hutang, atau Ya Allah, beri kesembuhan dan kekuatan. Hajat yang jelas membantu seseorang berdoa dengan lebih khusyuk. Namun ia tidak harus selalu berupa kalimat yang panjang. Kadang doa yang paling jujur justru lahir dari hati yang merasa sangat membutuhkan pertolongan Allah.
Tata Cara Sholat Hajat
Dalam praktik yang umum diajarkan, sholat hajat dikerjakan dua rakaat seperti sholat sunnah pada umumnya. Ada juga keterangan yang menyebut boleh sampai dua belas rakaat, namun dua rakaat sudah dipandang memadai dalam banyak penjelasan. Di Indonesia, bentuk yang paling lazim adalah dua rakaat, lalu ditutup dengan doa hajat.
Niat Sholat Hajat
Niat yang banyak dicantumkan dalam rujukan adalah sebagai berikut:
اُصَلِّيْ سُنَّةَ الْحَاجَةِ رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushallii sunnatal haajati rak‘ataini lillaahi ta‘aalaa.
Artinya: Saya niat sholat sunnah hajat dua rakaat karena Allah Ta’ala.
Langkah Pelaksanaannya
Setelah niat, pelaksanaannya sama seperti sholat sunnah biasa. Takbiratul ihram, membaca Al Fatihah, lalu membaca surat atau ayat Al Quran, rukuk, itidal, sujud, duduk di antara dua sujud, lalu bangkit ke rakaat kedua, dan diakhiri tasyahud serta salam. Beberapa penjelasan menyebut anjuran membaca Ayat Kursi dan Al Ikhlas, tetapi ada juga yang menegaskan cukup Al Fatihah dan surat pendek lain sebagaimana sholat sunnah biasa. Ini menunjukkan bahwa inti sholat hajat bukan pada bacaan surat tertentu, melainkan pada kesungguhan ibadah dan doanya.
Sesudah Salam
Sesudah salam, seseorang dianjurkan memuji Allah, membaca shalawat kepada Nabi Muhammad, lalu membaca doa yang diajarkan dalam riwayat, kemudian menyampaikan hajat pribadinya. Inilah bagian yang sangat penting. Jangan terburu buru bangkit setelah salam. Beri ruang bagi hati untuk memohon dengan tenang. Dalam banyak penjelasan, justru setelah sholat itulah inti permohonan disampaikan.
Doa Sholat Hajat
Doa yang paling sering dikutip setelah sholat hajat adalah sebagai berikut:
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ الْحَلِيمُ الْكَرِيمُ، سُبْحَانَ اللّٰهِ رَبِّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، أَسْأَلُكَ مُوجِبَاتِ رَحْمَتِكَ، وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ، وَالْغَنِيمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ، وَالسَّلَامَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ، لَا تَدَعْ لِي ذَنْبًا إِلَّا غَفَرْتَهُ، وَلَا هَمًّا إِلَّا فَرَّجْتَهُ، وَلَا حَاجَةً هِيَ لَكَ رِضًا إِلَّا قَضَيْتَهَا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ
Latin:
Laa ilaaha illallaahul haliimul kariim. Subhaanallaahi rabbil ‘arsyil ‘azhiim. Alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin. As aluka muujibaati rahmatika, wa ‘azaa ima maghfiratika, wal ghaniimata min kulli birrin, was salaamata min kulli itsmin. Laa tada‘ lii dzanban illaa ghafartah, wa laa hamman illaa farrajtah, wa laa haajatan hiya laka ridhan illaa qadhaitahaa yaa arhamar raahimiin.
Artinya:
Tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Penyantun lagi Maha Mulia. Maha Suci Allah, Tuhan Pemilik Arsy yang agung. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Aku memohon kepada Mu hal hal yang mendatangkan rahmat Mu, ampunan Mu yang besar, bagian dari setiap kebaikan, dan keselamatan dari setiap dosa. Jangan Engkau biarkan satu dosa pun padaku kecuali Engkau ampuni, jangan pula ada kesusahan kecuali Engkau lapangkan, dan jangan ada satu hajat yang Engkau ridhai kecuali Engkau tunaikan, wahai Dzat Yang Maha Penyayang di antara semua yang penyayang.
Setelah Doa Itu, Sampaikan Hajat dengan Bahasa Sendiri
Sesudah membaca doa di atas, para ulama yang menjelaskan amalan ini menganjurkan agar seseorang melanjutkan dengan doa sesuai kebutuhannya. Di sinilah seseorang boleh berbicara kepada Allah dengan bahasa yang paling ia pahami. Tidak harus panjang, tidak harus indah. Yang utama adalah jujur, sopan, penuh harap, dan tidak meminta sesuatu yang haram.
Misalnya seseorang bisa berdoa, Ya Allah, bila urusan ini baik untuk agama dan hidupku, mudahkanlah. Bila tidak baik, palingkanlah aku darinya dan gantilah dengan yang lebih baik. Bentuk seperti ini sering membuat doa terasa lebih teduh, karena ia tidak hanya meminta tercapai, tetapi juga meminta pilihan terbaik dari Allah. Ini juga membantu hati tetap tenang bila hasilnya tidak sesuai keinginan awal. Prinsipnya, sholat hajat bukan sekadar memaksa keadaan agar mengikuti mau kita, melainkan menyerahkan kebutuhan kita di hadapan Allah dengan adab seorang hamba.
Adab Saat Melaksanakan Sholat Hajat
Sholat hajat akan terasa lebih hidup bila dijalankan dengan adab yang baik.
Pertama, pastikan yang diminta adalah perkara halal dan baik. Jangan menjadikan doa sebagai alat untuk merugikan orang lain atau memohon sesuatu yang bertentangan dengan syariat.
Kedua, perbaiki niat. Jangan sampai sholat hanya menjadi pelampiasan panik, tetapi jadikan ia sebagai bentuk penghambaan.
Ketiga, sertakan ikhtiar nyata. Orang yang memohon pekerjaan misalnya, tetap harus mencari lowongan, memperbaiki kemampuan, dan berusaha sebaik mungkin.
Keempat, jangan tergesa gesa dalam menuntut jawaban doa. Dalam ajaran Islam, doa tidak selalu dijawab dengan cara yang sama seperti yang dibayangkan manusia. Ada yang dikabulkan segera, ada yang ditunda, ada pula yang diganti dengan kebaikan lain. Maka sesudah sholat hajat, yang perlu dijaga bukan hanya semangat meminta, tetapi juga kelapangan hati untuk menerima ketetapan Allah.
“Dalam Islam, berdoa sangat dianjurkan dalam setiap waktu dan keadaan, terutama ketika kita punya hajat tertentu.”
Perlukah Bacaan Khusus di Tiap Rakaat
Sebagian orang merasa ragu karena pernah mendengar ada bacaan tertentu yang wajib dibaca dalam sholat hajat. Dalam rujukan yang banyak dipakai, memang ada anjuran membaca Ayat Kursi dan Al Ikhlas, atau ada pula yang menyebut Al Kafirun dan Al Ikhlas. Namun keterangan lain menegaskan bahwa sholat hajat pada pokoknya tidak berbeda jauh dari sholat sunnah biasa. Karena itu, jika seseorang hanya membaca Al Fatihah dan surat pendek yang ia hafal, sholatnya tetap sah sebagaimana sholat sunnah pada umumnya.
Di sinilah pentingnya memahami mana yang inti dan mana yang pelengkap. Intinya adalah sholat sunnah, lalu doa yang tulus setelahnya. Bacaan surat tertentu bisa menjadi tambahan yang baik bagi yang ingin mengamalkan, tetapi tidak seharusnya membuat orang merasa tidak bisa sholat hajat hanya karena belum hafal susunan bacaan tertentu.
Apakah Harus Selalu Sholat Hajat Saat Punya Keinginan
Tentu tidak harus selalu. Seorang Muslim boleh berdoa kapan saja tanpa menunggu sholat hajat. Ia juga boleh memperbanyak sujud, berdoa setelah sholat wajib, berdoa pada sepertiga malam, atau memperbanyak dzikir dan istighfar. Sholat hajat adalah salah satu jalan yang dikenal dan diamalkan banyak orang ketika mempunyai keperluan khusus. Jadi, amalan ini bukan satu satunya pintu doa, tetapi salah satu bentuk penghambaan yang indah saat hati sedang sangat membutuhkan pertolongan Allah.
Bahkan bagi yang berhati hati karena mengetahui adanya perbedaan pendapat tentang kekuatan haditsnya, ia tetap bisa mengambil ruh yang sama: berwudhu dengan baik, sholat sunnah dua rakaat, lalu berdoa dengan penuh harap kepada Allah. Sikap seperti ini tetap berada dalam semangat ibadah dan penghambaan, tanpa harus menjadikan pembahasan fiqih sebagai alasan untuk meninggalkan doa.
Sholat hajat pada akhirnya mengajarkan satu hal yang sangat lembut. Saat manusia punya kebutuhan, ia tidak hanya sibuk mengejar jalan keluar dengan tangannya, tetapi juga mengetuk langit dengan doanya. Dari sini, seorang hamba belajar bahwa ada masa untuk berusaha, ada masa untuk menangis dalam sujud, dan ada masa untuk menyerahkan apa yang paling ia ingin raih kepada Allah yang lebih tahu apa yang terbaik baginya.
