Tujuan Hidup Manusia Menurut Islam : Ibadah, Amanah, dan Jalan Menuju Ridha Allah

Islami128 Views

Tujuan hidup manusia menurut Islam adalah beribadah kepada Allah, menjalankan amanah sebagai hamba dan khalifah di bumi, memperbanyak amal saleh, serta mencari ridha Allah sebagai bekal menuju kehidupan akhirat. Islam tidak memandang kehidupan manusia sekadar rangkaian aktivitas sejak lahir hingga meninggal. Setiap kesempatan, kemampuan, pekerjaan, hubungan sosial, dan harta yang seseorang miliki dapat menjadi bagian dari pengabdian kepada Allah apabila ia menjalankannya dengan niat serta cara yang benar.

Al Quran memberikan jawaban yang sangat jelas ketika manusia mempertanyakan alasan keberadaannya. Allah berfirman dalam QS Adz Dzariyat ayat 56 bahwa Dia menciptakan jin dan manusia agar beribadah kepada-Nya. Ayat tersebut menjadi salah satu landasan utama dalam pembahasan Tujuan hidup manusia menurut Islam.

Namun, ibadah dalam kehidupan seorang Muslim tidak berhenti pada shalat, puasa, zakat, membaca Al Quran, atau ibadah ritual lainnya. Seorang Muslim juga dapat menjadikan pekerjaan, pendidikan, perdagangan, kehidupan keluarga, bantuan kepada sesama, serta usaha menjaga lingkungan sebagai jalan mencari ridha Allah.

Karena itu, seseorang tidak harus meninggalkan aktivitas dunia untuk menjadi hamba yang taat. Islam justru mengajarkan manusia mengelola kehidupan dunia tanpa kehilangan arah kepada Allah dan akhirat. QS Al Qasas ayat 77 mengajarkan agar manusia mencari negeri akhirat melalui karunia yang Allah berikan, tanpa melupakan bagian yang wajar dalam kehidupan dunia. Ayat yang sama juga memerintahkan manusia berbuat baik dan tidak membuat kerusakan di bumi.

Sekilas tentang Tujuan Hidup Manusia Menurut Islam

Dalam Islam, kehidupan manusia mempunyai arah yang jelas, yaitu mengenal Allah, menyembah-Nya, menaati perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, dan mengisi umur dengan amal yang mendapat ridha-Nya. Kehidupan dunia menjadi tempat manusia menjalankan semua tanggung jawab tersebut sebelum kembali kepada Allah.

Pertanyaan seperti “Untuk apa saya hidup?”, “Apa yang sebenarnya harus saya cari?”, atau “Apakah hidup hanya untuk bekerja dan memenuhi kebutuhan?” sering muncul ketika seseorang mulai memikirkan perjalanan hidupnya secara lebih dalam.

Islam menjawab pertanyaan tersebut dengan menghubungkan kehidupan manusia kepada Sang Pencipta. Manusia tidak hadir tanpa tujuan. QS Al Mulk ayat 2 menerangkan bahwa Allah menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji siapa yang paling baik amalnya. Ayat ini menunjukkan bahwa ukuran kehidupan bukan sekadar berapa lama seseorang hidup atau seberapa banyak yang ia kumpulkan, tetapi bagaimana kualitas amal yang ia kerjakan.

Pandangan tersebut membuat setiap fase kehidupan memiliki nilai. Masa belajar dapat menjadi jalan ibadah. Bekerja dapat menjadi jalan ibadah. Mengurus keluarga juga dapat menjadi ibadah. Bahkan membantu orang lain, menjaga kejujuran, memenuhi janji, dan menahan diri dari perbuatan haram dapat mendekatkan seseorang kepada Allah.

MUI juga menjelaskan bahwa arah hidup dalam Islam berpusat pada usaha mencari ridha Allah. Dengan arah seperti itu, aturan syariah, halal, kebaikan, dan keberkahan tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari cara seorang Muslim menjalani kehidupannya.


Apa Tujuan Hidup Manusia yang Paling Utama?

Tujuan hidup manusia yang paling utama adalah beribadah kepada Allah. Dasarnya terdapat dalam QS Adz Dzariyat ayat 56 yang secara tegas menerangkan alasan penciptaan jin dan manusia.

Ibadah berarti seorang hamba mengarahkan ketaatan kepada Allah. Shalat menjadi ibadah, begitu pula puasa, zakat, haji, doa, dan membaca Al Quran. Akan tetapi, cakupannya jauh lebih luas ketika seseorang menghubungkan aktivitas yang halal dengan niat yang benar.

Seorang ayah yang bekerja secara halal untuk memenuhi kebutuhan keluarganya dapat memperoleh pahala. Seorang ibu yang mendidik anak dengan kasih sayang dapat memperoleh pahala. Pelajar yang mencari ilmu untuk tujuan baik juga mempunyai kesempatan menjadikan kegiatannya bernilai ibadah.

Di sinilah niat memainkan peranan penting.

Rasulullah SAW menjelaskan:

“Sesungguhnya amal bergantung pada niat, dan setiap orang memperoleh sesuai dengan apa yang ia niatkan.”
HR. Bukhari.

Hadits tersebut membantu seorang Muslim memahami bahwa dua orang bisa melakukan pekerjaan serupa tetapi memperoleh nilai yang berbeda di sisi Allah karena tujuan di dalam hatinya berbeda.

Karena itu, memperbaiki niat menjadi salah satu cara paling penting untuk mengarahkan aktivitas sehari hari kepada tujuan hidup yang benar.

Mengapa Manusia Diciptakan untuk Beribadah kepada Allah?

Allah tidak membutuhkan ibadah manusia. Setelah menyebut bahwa manusia dan jin diciptakan untuk beribadah kepada-Nya, QS Adz Dzariyat ayat 57 dan 58 menegaskan bahwa Allah tidak membutuhkan rezeki dari makhluk dan Dialah Sang Maha Pemberi Rezeki serta pemilik kekuatan.

Dengan demikian, manfaat ibadah kembali kepada manusia sendiri.

Melalui shalat, manusia mengingat Allah. Melalui puasa, seseorang melatih pengendalian diri dan ketakwaan. Melalui zakat dan sedekah, seorang Muslim belajar berbagi. Sementara itu, doa mengajarkan manusia bahwa kemampuan dirinya tetap terbatas dan pertolongan Allah selalu ia butuhkan.

Ibadah juga menjaga arah ketika kehidupan menawarkan berbagai pilihan. Kekayaan, jabatan, popularitas, pendidikan, dan pencapaian pribadi boleh seseorang kejar selama ia tidak menjadikannya sebagai tujuan tertinggi yang mengalahkan ketaatan kepada Allah.


Tujuan Hidup Manusia Juga Menjadi Khalifah di Bumi

Selain menjadi hamba Allah, manusia menerima tanggung jawab untuk menjalankan kehidupan di bumi dengan baik. QS Al Baqarah ayat 30 menyebut ketika Allah menyampaikan kepada para malaikat bahwa Dia akan menempatkan khalifah di bumi.

Kedudukan tersebut membawa tanggung jawab besar. Manusia memiliki akal, kemampuan belajar, pilihan moral, dan kemampuan mengelola berbagai sumber daya. Semua kemampuan itu tidak seharusnya menjadi alasan untuk bertindak sesuka hati.

Menjalankan amanah di bumi dapat terlihat melalui berbagai perbuatan, antara lain:

  1. Menjaga keadilan ketika berhubungan dengan orang lain.
  2. Tidak mengambil hak orang lain.
  3. Menggunakan harta melalui jalan yang halal.
  4. Menjaga lingkungan dan tidak membuat kerusakan.
  5. Membantu orang yang membutuhkan.
  6. Menjalankan pekerjaan secara jujur.
  7. Menggunakan ilmu untuk membawa kebaikan.
  8. Menjaga keluarga dan mendidik anak dengan baik.

QS Al Qasas ayat 77 bahkan menghubungkan penggunaan karunia Allah dengan pencarian akhirat, perbuatan baik kepada sesama, dan larangan membuat kerusakan di bumi.

Artinya, hubungan manusia dengan Allah berjalan bersama tanggung jawabnya kepada manusia lain dan lingkungan tempat ia hidup.

Apakah Kehidupan Dunia Hanya Sebuah Ujian?

Ya, Al Quran menjelaskan bahwa kehidupan menjadi ujian untuk melihat kualitas amal manusia. QS Al Mulk ayat 2 menyatakan bahwa Allah menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji siapa yang paling baik amalnya.

Ujian tersebut tidak selalu hadir melalui kesulitan. Kesenangan juga dapat menguji seseorang.

Kekurangan menguji kesabaran, sedangkan kelapangan menguji rasa syukur. Keterbatasan menguji keteguhan, sedangkan kekuasaan menguji keadilan. Harta dapat menjadi kesempatan bersedekah, tetapi harta juga dapat membuat seseorang lalai apabila ia tidak menjaganya dengan nilai Islam.

Karena itu, seorang Muslim tidak hanya bertanya, “Mengapa hal ini terjadi kepada saya?” Ia juga perlu bertanya, “Apa sikap yang Allah sukai ketika saya menghadapi keadaan ini?”

Pertanyaan kedua membantu seseorang mengarahkan perhatian kepada tindakan yang berada dalam kendalinya.


Apakah Islam Melarang Manusia Mengejar Kehidupan Dunia?

Tidak. Islam tidak melarang seseorang bekerja, memiliki harta, membangun usaha, mengejar pendidikan, menikah, menikmati makanan, atau memperoleh kehidupan yang layak. Islam mengatur cara manusia mengejarnya agar kehidupan dunia tidak mengalahkan ketaatan kepada Allah.

QS Al Qasas ayat 77 memberi gambaran yang seimbang. Manusia diperintahkan mencari negeri akhirat melalui karunia yang Allah berikan sekaligus tidak melupakan bagiannya di dunia.

Karena itu, masalahnya bukan terletak pada memiliki harta, tetapi bagaimana seseorang mendapatkan dan menggunakannya.

Masalahnya bukan pada jabatan, tetapi bagaimana seseorang menjalankan kekuasaan.

Masalahnya bukan pada keberhasilan, tetapi apakah keberhasilan membuat seseorang semakin bersyukur atau justru menjauh dari Allah.

Islam menempatkan dunia sebagai tempat beramal. Seorang Muslim dapat menikmati rezeki yang halal sambil tetap menyadari bahwa semua yang ia miliki akan dimintai pertanggungjawaban.

Hubungan Tujuan Hidup Manusia dengan Akhirat

Kesadaran terhadap akhirat membuat seorang Muslim melihat kehidupan dunia secara berbeda. Ia mengetahui bahwa umur mempunyai batas dan setiap kesempatan tidak akan selalu tersedia.

Rasulullah SAW pernah memberikan pesan kepada Abdullah bin Umar:

“Jadilah di dunia seperti orang asing atau seorang musafir.”
HR. Bukhari.

Perumpamaan musafir memberikan gambaran yang kuat. Seorang musafir menggunakan tempat persinggahan seperlunya, tetapi ia tidak melupakan tujuan perjalanannya.

Demikian pula kehidupan seorang Muslim. Rumah, pekerjaan, penghasilan, kendaraan, jabatan, dan berbagai kepemilikan dapat membantu perjalanan kehidupan, tetapi semuanya bukan tujuan terakhir.

Kesadaran seperti ini bukan alasan untuk meninggalkan dunia. Sebaliknya, seorang Muslim terdorong menggunakan waktu dan sumber daya dengan lebih bertanggung jawab karena ia mengetahui bahwa kesempatan hidup terbatas.


Bagaimana Menjalani Hidup Sesuai Tujuan Islam?

Cara menjalani hidup sesuai ajaran Islam dimulai dengan menjadikan ridha Allah sebagai arah utama dalam mengambil keputusan. Pilihan hidup kemudian seseorang ukur melalui halal dan haram, kewajiban, manfaat, keadilan, serta tanggung jawab kepada sesama.

Beberapa kebiasaan dapat membantu menjaga arah tersebut.

Perbaiki Niat Sebelum Melakukan Aktivitas

Niat membedakan aktivitas biasa dengan amal yang seseorang tujukan kepada Allah. Hadits tentang niat menunjukkan bahwa nilai amal berhubungan erat dengan tujuan seseorang ketika melakukannya.

Sebelum bekerja, belajar, berdagang, menikah, atau membantu orang lain, seorang Muslim dapat membiasakan diri bertanya apakah tindakannya sejalan dengan keridhaan Allah.

Jaga Ibadah Wajib sebagai Prioritas

Kesibukan tidak seharusnya membuat seseorang meninggalkan kewajiban. Shalat, puasa Ramadan, zakat bagi yang memenuhi ketentuan, serta kewajiban lain menjadi bagian utama hubungan seorang hamba dengan Allah.

Ibadah wajib juga menjadi pengingat yang terus hadir di tengah kesibukan sehari hari.

Cari Rezeki dengan Cara Halal

Pekerjaan merupakan bagian besar dari kehidupan manusia. Karena itu, seorang Muslim perlu memperhatikan bukan hanya jumlah penghasilan, tetapi juga cara memperolehnya.

Kejujuran, amanah, tanggung jawab, dan menjauhi yang haram membuat pekerjaan selaras dengan pengabdian kepada Allah.

Jadikan Diri Bermanfaat bagi Orang Lain

Islam tidak mengajarkan kesalehan yang hanya berputar pada kepentingan pribadi. Hubungan dengan keluarga, tetangga, teman, rekan kerja, masyarakat, dan orang yang membutuhkan menjadi tempat luas untuk berbuat baik.

Seseorang tidak harus menunggu kaya untuk membantu. Ilmu, tenaga, waktu, perhatian, nasihat yang baik, dan sikap adil juga dapat menjadi bentuk kebaikan.

Gunakan Nikmat sebagai Jalan Menuju Kebaikan

Kemampuan setiap orang berbeda. Ada yang memiliki harta, ilmu, keahlian, pengaruh, kesehatan, atau waktu lebih banyak.

QS Al Qasas ayat 77 mengajarkan manusia menggunakan apa yang Allah berikan untuk mencari akhirat serta melakukan kebaikan kepada orang lain.

Karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukan hanya “Apa yang saya punya?”, melainkan “Untuk apa saya menggunakan pemberian Allah ini?”


Apakah Kesuksesan Menjadi Tujuan Hidup Manusia?

Kesuksesan dunia boleh menjadi sasaran, tetapi Islam tidak menempatkannya sebagai tujuan tertinggi kehidupan. Kekayaan, karier, pendidikan, bisnis, dan pencapaian sosial merupakan bagian dari perjalanan hidup yang dapat bernilai baik ketika seseorang mendapatkannya melalui jalan halal dan menggunakannya dengan benar.

Seseorang boleh memiliki cita cita besar. Ia boleh membangun perusahaan, menjadi dokter, guru, ilmuwan, pengusaha, pekerja profesional, seniman, petani, atau menjalani pekerjaan halal lainnya.

Namun, pencapaian tersebut seharusnya tetap berada di bawah tujuan yang lebih tinggi, yaitu mencari ridha Allah.

Ketika prinsip ini kuat, seseorang tidak harus mengorbankan kejujuran demi keuntungan. Ia tidak perlu mengambil hak orang lain demi jabatan. Ia juga tidak perlu menjadikan penilaian manusia sebagai satu satunya ukuran keberhasilan hidup.

Mengapa Mengetahui Tujuan Hidup Membantu Seorang Muslim?

Mengetahui arah kehidupan membantu seseorang menentukan prioritas. Ketika berbagai keinginan datang bersamaan, seorang Muslim memiliki ukuran untuk memilih mana yang layak dikejar dan mana yang perlu ia tinggalkan.

Arah tersebut juga membantu seseorang menghadapi perubahan keadaan. Kehilangan pekerjaan, kegagalan usaha, berkurangnya harta, atau tidak tercapainya suatu keinginan tentu dapat menimbulkan kesedihan. Namun, kehidupan tidak kehilangan seluruh nilainya hanya karena satu sasaran dunia tidak tercapai.

Selama kesempatan beribadah dan berbuat baik masih tersedia, seseorang masih mempunyai ruang untuk memperbaiki amalnya.

Hal yang sama berlaku ketika seseorang memperoleh keberhasilan. Keberhasilan tidak membuat perjalanan selesai. Ia justru menghadirkan tanggung jawab baru untuk bersyukur dan menggunakan nikmat Allah secara benar.


Jadikan Tujuan Hidup Manusia sebagai Arah dalam Setiap Pilihan

Mengetahui ajaran Islam tentang kehidupan seharusnya mendorong perubahan pada cara seseorang menentukan pilihan. Mulailah dari hal yang dekat, seperti menjaga shalat, memperbaiki niat bekerja, mencari rezeki halal, menghormati keluarga, membayar kewajiban, menjauhi perbuatan yang Allah larang, dan memperbanyak kebaikan kepada orang lain.

Tidak semua perubahan harus berlangsung sekaligus. Seseorang dapat memulai dengan memeriksa kembali apa yang selama ini paling banyak menghabiskan waktu, tenaga, dan pikirannya. Kemudian tanyakan apakah semua itu semakin mendekatkannya kepada ketaatan atau justru membuatnya sering melupakan Allah.

Jika hidup selama ini hanya berputar pada pekerjaan, penghasilan, pengakuan, atau pencapaian pribadi, inilah saat yang baik untuk menyusun kembali prioritas. Dunia tetap boleh dikejar melalui jalan yang halal, tetapi ridha Allah tetap berada di tempat tertinggi.

Pada akhirnya, Tujuan hidup manusia menurut Islam bukan sekadar memperoleh sebanyak mungkin hal selama berada di dunia. Manusia hidup untuk beribadah kepada Allah, menjalankan amanah dengan baik, mengisi umur dengan amal saleh, menggunakan nikmat untuk kebaikan, dan menyiapkan diri untuk kembali kepada-Nya.