Cikal Bakal Sejarah Ibadah Sa’i

Bagikan Ini :

Cikal Bakal Sejarah Ibadah Sa’i – Ibadah Sa’i, adalah ibadah wajib saat melaksanakan umrah. Tidak boleh ditinggalkan. Sa’I yaitu berlari bolak-balik antara Bukit Shafa dan Bukit Marwah sebanyak 7 kali. Namun, sudah tahukah sahabat sejarah kenapa ibadah ini bisa menjadi bagian dari tata pelaksanaan umrah? Berikut kami jabarkan.

Pada zaman Nabi Nuh a.s. kota Mekkah menjadi kosong akibat banjir bandang, begitu pula dengan Ka’bah. Bangunan Ka’bah hanya berupa gundukan batu bundar. Suatu saat, Allah mengutus Nabi Ibrahim a.s. beserta Siti Hajar dan putranya Nabi Ismail a.s. yang masih bayi untuk hijrah dari Palestina (Kanaan) menuju Mekkah tepatnya ke wilayah Hijaz (lokasi Ka’bah saat ini).

Setibanya di Hijaz, Nabi Ibrahim segera bergegas kembali ke Palestina berdasarkan perintah Allah untuk menemui istri pertamanya. Beliau pergi tanpa berkata apa-apa kepada Siti Hajar. Setelah Siti Hajar bertanya terus tapi tidak ada jawaban dari Nabi Ibrahim, akhirnya Siti Hajar bertanya, “Apakah Allah menyuruh agar kau melakukan ini?”. Nabi Ibrahim menjawab, “Ya”. Siti hajar berkata, “Kalau begitu, Allah pasti tidak akan menyia-nyiakan kami.”

Hingga Nabi Ibrahim mencapai perbatasan, beliau tidak mampu menahan gejolak perasaan terhadap istri dan anak yang beliau tinggalkan. Lalu, Nabi Ibrahim mengangkat tangan seraya berdo’a : Q.S. Ibrahim : 37

Ya Tuhan Kami, sesungguhnya aku telah  menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanaman didekat rumah suci-Mu itu. Aku berbuat demikian Ya Tuhan kami, demi untuk memungkinkan mereka mendirikan sholat. Karena itu, jadikanlah hati sebagian manusia gandrung mencintainya. Dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, semoga mereka bersyukur.”

Lama kelamaan perbekalah Siti Hajar habis, terutama air. Nabi Ismail mulai menangis kehausan. Siti Hajar mau tak mau meninggalkan anaknya di bawah pepohonan rindang, ia berusaha untuk mencari air. Ia berlari ke sebuah bukit di dekat situ, yang kemudian dikenal sebagai bukit Shafa, karena seperti melihat sumber air di atas bukit itu. Siti Hajar menuju kesana tapi ternyata sumber air itu hanyalah fatamorgana. Kemudian beliau menengok kanan, kiri dan melihat sumber air juga di atas bukit lainnya, yang kemudian bermana bukit Marwah. Namun, setelah didatangi ternyata itu juga hanyalah fatamorgana. Siti Hajar kembali melihat seperti ada air di bukit Shafa dan berlari kembali ke bukit tersebut. Begitulah yang terjadi dan pada akhirnya Siti Hajar berlari-lari dari bukit Shafa ke bukit Marwah hingga 7 kali. Dan akhirnya Siti Hajar kembali ke Nabi Ismail. Di antara keputus asaannya, Siti Hajar mendapati bahwa air yang dicarinya keluar dari tumit anaknya (malaikat menghentakkan tanah melalui kaki Nabi Ismail hingga keluarlah air zam-zam). Lalu, Siti Hajar mengumpulkan pasir disekitar tempat keluarnya air tersebut seraya berkata “Zam-zam… zam-zam…” yang artinya berkumpullah. Maka dengan air Zam-zam itu mereka berdua dapat bertahan hidup. Karena air zam-zam pulalah, kota Mekkah menjadi kota yang subur, makmur dan berlimpahan berkah dari Allah SWT.

Jadi, ibadah Sa’i adalah untuk memperingati peristiwa pencarian air oleh Siti Hajar tersebut dan kemurahan Allah dalam mengabulkan doa-doa.

Shafa dan Marwah juga disebut dalam Al Qur’an. “Sesungguhnya Shofa dan Marwah adalah sebagian dari syiar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitulloh atau berumroh, maka tiada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah:158)

Maka semakin jelaslah kenapa ibadah Sa’i menjadi bagian penting dalam umrah. Semoga artikel ini makin memperdalam wawasan Anda berkenaan dengan ibadah umrah.

Dan untuk Anda yang ingin berkunjung ke tanah suci dalam rangka melaksanakan ibadah umrah, kami AET Travel saat ini menyediakan harga promo umrah untuk keberangkatan Ramadhan 2020. Penasaran? Silahkan cek paket umrah kami atau hubungi kontak kami.

 

shares