Bagi jutaan muslim di seluruh dunia, ibadah umroh dan haji bukan hanya sebuah ritual perjalanan spiritual, melainkan sebuah napak tilas sejarah panjang umat manusia dalam mencari pertolongan Allah. Salah satu amalan yang menjadi bagian tak terpisahkan dari rukun haji adalah Sai, yakni berjalan bolak-balik antara bukit Shafa dan Marwah. Namun, jarang yang menyelami lebih dalam mengenai bagaimana ibadah ini lahir, dari sebuah kisah penuh air mata, pengorbanan, dan keteguhan iman seorang perempuan bernama Siti Hajar.
Jejak Siti Hajar di Padang Tandus Makkah
Sejarah ibadah Sai berawal dari kisah Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim, yang ditinggalkan bersama putranya, Nabi Ismail, di sebuah lembah tandus yang kelak menjadi kota Makkah. Nabi Ibrahim atas perintah Allah meninggalkan keduanya di tempat yang pada saat itu tanpa sumber air, tanpa pepohonan, bahkan tanpa penghuni.
Ketika bekal yang mereka bawa habis, Siti Hajar merasakan kehausan yang luar biasa, terlebih ketika bayi Ismail menangis tanpa henti. Dalam kepanikan, ia berlari mencari air dari bukit Shafa menuju bukit Marwah, bolak-balik hingga tujuh kali. Hingga akhirnya, Allah menurunkan mukjizat berupa keluarnya air zamzam dari hentakan kaki Nabi Ismail kecil.
“Kisah Siti Hajar bukan sekadar cerita klasik, melainkan simbol keberanian perempuan yang menghadapi keterbatasan dengan keyakinan penuh kepada Allah.”
Dari Tradisi Menjadi Rukun
Peristiwa Sai ini kemudian diabadikan oleh Allah menjadi bagian dari rukun haji dan umroh. Allah menegaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 158 bahwa Shafa dan Marwah adalah bagian dari syiar Allah, sehingga siapa pun yang berhaji atau berumroh tidak ada dosa baginya untuk melakukan Sai di antara keduanya.
Pernyataan ini menegaskan bahwa ibadah Sai bukan sekadar tiruan dari perjalanan Siti Hajar, tetapi sebuah syiar yang memiliki makna mendalam: perjuangan, keteguhan, serta harapan akan pertolongan Allah. Dari sebuah peristiwa sederhana seorang ibu mencari air, lahirlah ibadah yang kini dilakukan oleh jutaan manusia setiap tahun.
Transformasi Shafa dan Marwah dari Masa ke Masa
Jika dahulu Siti Hajar harus menapaki bukit berbatu dengan kondisi alam yang keras, kini Shafa dan Marwah sudah menjadi bagian dari kompleks Masjidil Haram yang sangat megah. Jalur Sai yang dulu hanya berupa tanah dan batu kini dilengkapi lantai marmer, pendingin udara, serta jalur khusus bagi jamaah yang menggunakan kursi roda.
Namun, di balik modernisasi tersebut, esensi ibadah Sai tetap tidak berubah. Setiap langkah jamaah di antara Shafa dan Marwah adalah simbol perjalanan spiritual, meneladani pengorbanan Siti Hajar.
“Saya selalu merasa merinding setiap kali memulai Sai, membayangkan langkah-langkah penuh harap seorang ibu ribuan tahun lalu, dan kini jutaan orang menapaktilasi jejak yang sama.”
Makna Spiritualitas di Balik Sai
Sai bukan hanya gerakan fisik berjalan bolak-balik. Lebih dari itu, ia mengandung makna mendalam yang menuntun umat Islam dalam kehidupan sehari-hari.
- Keteguhan Iman: Siti Hajar mengajarkan bahwa ketika semua jalan buntu, keimanan yang kuat menjadi pegangan utama.
- Doa dan Ikhtiar: Berlari antara Shafa dan Marwah adalah simbol upaya maksimal seorang hamba sebelum datangnya pertolongan Allah.
- Penghormatan pada Perempuan: Allah mengabadikan kisah perjuangan seorang perempuan dalam rukun haji, sebuah pengakuan mulia atas peran dan keteguhan hati seorang ibu.

Sai sebagai Simbol Kehidupan Modern
Banyak jamaah umroh dan haji yang merenungkan Sai sebagai refleksi perjalanan hidup. Dalam kehidupan modern yang serba cepat, Sai mengajarkan pentingnya kesabaran, perjuangan, dan keyakinan bahwa pertolongan Allah akan datang di waktu yang tepat.
Tidak jarang, jamaah yang melakukan Sai menitikkan air mata karena merasa ibadah ini begitu relevan dengan kisah hidup mereka. Ada yang teringat perjuangan mencari nafkah, ada yang mengenang ujian hidup yang berat, ada pula yang merasa sedang menapaki doa yang lama dipanjatkan.
“Setiap kali saya menapaki Sai, saya merasa sedang berjalan bersama doa-doa saya yang belum terkabul, seakan Allah sedang mendidik saya untuk sabar menunggu zamzam kehidupan saya sendiri.”
Perubahan Sosial dan Dampaknya pada Ibadah Sai
Seiring dengan meningkatnya jumlah jamaah haji dan umroh, pemerintah Arab Saudi melakukan berbagai modernisasi fasilitas Sai. Ruang Sai diperluas, dibuat bertingkat, serta disediakan jalur khusus agar jamaah lebih nyaman. Perubahan ini bukan sekadar fisik, tetapi juga menunjukkan bagaimana syiar agama terus dijaga meski zaman berubah.
Modernisasi ini pun memunculkan perenungan bahwa esensi Sai tetap sama: keteguhan iman dan perjuangan. Walau kini jamaah berjalan di lantai ber-AC dengan pencahayaan modern, tetap saja setiap langkahnya membawa makna spiritual mendalam.
Sai dalam Pandangan Ulama
Para ulama sepakat bahwa Sai adalah bagian dari rukun haji yang tidak bisa ditinggalkan. Dalam fiqih, pelaksanaan Sai memiliki tata cara yang jelas, mulai dari niat, urutan, hingga jumlah putaran. Namun lebih dari sekadar teknis, ulama juga menekankan aspek maknawi dari Sai.
Sai mengingatkan umat Islam untuk tidak pernah putus asa dalam berusaha. Usaha Siti Hajar yang berulang-ulang adalah pelajaran bahwa manusia harus berikhtiar terus-menerus, meski hasilnya belum terlihat.
“Di balik Sai, saya belajar bahwa doa tidak cukup sekali dipanjatkan. Ada saatnya Allah ingin melihat kita terus berusaha, hingga akhirnya pertolongan itu datang dengan cara yang tak terduga.”
Sai dalam Budaya Perjalanan Umroh dan Haji
Bagi jamaah yang berangkat ke Tanah Suci, Sai selalu menjadi momen yang penuh emosi. Banyak agen travel yang memberi arahan khusus agar jamaah memahami makna Sai sebelum melakukannya, sehingga tidak sekadar ritual fisik, tetapi perjalanan batin.
Setiap langkah Sai seakan menjadi pengingat akan perjuangan manusia menghadapi kerasnya kehidupan. Dalam paket perjalanan umroh maupun haji, sesi Sai kerap menjadi titik di mana jamaah benar-benar larut dalam refleksi spiritual.
Sai dan Warisan Perempuan dalam Sejarah Islam
Salah satu hal yang membuat Sai begitu istimewa adalah fakta bahwa ibadah ini lahir dari kisah seorang perempuan. Dalam sejarah panjang peradaban, jarang ada ritual keagamaan yang bersumber dari perjuangan seorang ibu. Namun Islam justru mengabadikannya dalam rukun haji.
Hal ini menjadi pesan kuat bagi umat Islam bahwa perempuan bukan hanya bagian dari kisah, melainkan tokoh sentral dalam perjalanan spiritual manusia. Sai menjadi bukti bahwa Allah mengangkat perjuangan seorang ibu sebagai teladan universal.
“Setiap kali menuliskan kisah Sai, saya selalu merasa kagum bahwa dunia berputar mengikuti jejak langkah seorang perempuan yang tak pernah menyerah pada keadaan.”






