Bulan Ramadhan menghadirkan suasana yang berbeda di setiap waktu shalat, terutama menjelang Maghrib ketika adzan berkumandang dan orang yang berpuasa bersiap berbuka. Pada momen ini, banyak umat Islam bertanya tentang doa setelah adzan yang sebaiknya dibaca, apakah sama seperti hari biasa, bagaimana urutannya, dan kapan doa dibaca agar tidak tercampur dengan doa berbuka puasa.
Dalam tuntunan Nabi Muhammad ﷺ, doa setelah adzan tetap berlaku umum untuk setiap adzan, termasuk adzan Maghrib di bulan Ramadhan. Ada juga anjuran lain yang sangat kuat, yaitu menjawab lafaz adzan, membaca shalawat, memohon wasilah untuk Nabi ﷺ, lalu memanfaatkan waktu antara adzan dan iqamah untuk berdoa karena waktu itu termasuk waktu yang sangat utama. Semua ini menjadi rangkaian ibadah yang indah saat menunggu shalat Maghrib dan berbuka puasa.
Doa setelah adzan saat Ramadhan apakah berbeda
Pertanyaan ini sering muncul karena adzan Maghrib di bulan Ramadhan sangat lekat dengan momen berbuka. Banyak orang mengira ada doa khusus yang menggantikan doa setelah adzan. Padahal, doa setelah adzan yang diajarkan Nabi ﷺ tetap sama dan dibaca setelah mendengar adzan selesai, baik di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan. Hadits tentang doa setelah adzan bersifat umum dan tidak dibatasi hanya pada waktu tertentu.
Doa setelah adzan yang paling dikenal dan bersumber dari hadits
Doa yang paling masyhur dibaca setelah adzan adalah doa yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah رضي الله عنه. Dalam riwayat tersebut disebutkan bahwa orang yang membacanya setelah mendengar adzan akan mendapatkan syafaat Nabi ﷺ pada hari kiamat.
Rasulullah ﷺ bersabda, siapa yang setelah mendengar adzan membaca doa
Allahumma Rabba hadzihid da watit tammah wash shalatil qa imah ati Muhammadanil wasilata wal fadhilah wab atshu maqaman mahmudanil ladzi wa adtah
maka syafaat beliau akan halal baginya pada hari kiamat.
Bacaan Arab yang umum dipakai di masyarakat juga banyak merujuk pada redaksi ini. Di lingkungan masyarakat Muslim Indonesia, doa setelah adzan juga sering dibaca dengan tambahan lafaz yang populer, termasuk penutup innaka la tukhliful mi ad, yang dikenal luas dalam amalan harian.
Bacaan latin dan arti doa setelah adzan
Setelah memahami dasar haditsnya, berikut bacaan latin yang mudah diikuti untuk keperluan amalan harian saat adzan Maghrib Ramadhan maupun adzan lainnya.
Latin
Allahumma rabba hadzihid da watit tammah wash shalatil qa imah ati Muhammadanil wasilata wal fadhilah wab atshu maqaman mahmudanil ladzi wa adtah.
Arti
Ya Allah, Tuhan pemilik seruan yang sempurna ini dan shalat yang akan ditegakkan, berikanlah kepada Nabi Muhammad wasilah dan keutamaan, serta bangkitkan beliau pada kedudukan terpuji yang telah Engkau janjikan.
Di sebagian kalangan, bacaan ini ditambah dengan kalimat innaka la tukhliful mi ad. Tambahan ini sangat populer dalam kitab doa dan amalan masyarakat.
Urutan amalan ketika mendengar adzan Maghrib saat puasa
Momen adzan Maghrib saat Ramadhan sering berlangsung cepat. Ada yang langsung minum, ada yang fokus menjawab adzan, ada yang bingung kapan membaca doa setelah adzan dan kapan membaca doa berbuka. Agar lebih tenang, urutannya bisa dipahami dari hadits tentang adzan dan anjuran menyegerakan berbuka.
Menjawab lafaz adzan terlebih dahulu
Nabi ﷺ mengajarkan agar orang yang mendengar muadzin mengucapkan seperti yang diucapkan muadzin. Dalam riwayat sahih disebutkan urutan amalan saat mendengar adzan, yakni mengikuti lafaz muadzin, lalu membaca shalawat, kemudian memohon wasilah untuk Nabi ﷺ. Ini menunjukkan bahwa adzan tidak hanya menjadi penanda waktu, tetapi juga momen dzikir yang terarah.

Ketika kalian mendengar muadzin, ucapkan seperti yang ia ucapkan, lalu bershalawatlah kepadaku, kemudian mintalah kepada Allah al Wasilah untukku.
Karena itu, saat adzan Maghrib berkumandang di bulan Ramadhan, menjawab adzan tetap menjadi adab utama sebelum masuk ke amalan lain.
Membaca shalawat lalu doa setelah adzan
Setelah menjawab adzan, sunnah berikutnya adalah membaca shalawat kepada Nabi ﷺ, lalu membaca doa setelah adzan sebagaimana redaksi hadits Jabir. Urutan ini selaras dengan keterangan hadits tentang tahapan amalan setelah mendengar muadzin.
Banyak orang langsung melompat ke doa setelah adzan tanpa shalawat. Secara amalan masyarakat, hal itu sering terjadi karena terburu waktu berbuka. Namun jika memungkinkan, urutan lengkapnya lebih baik dijaga agar lebih sesuai tuntunan.
Menyegerakan berbuka ketika waktu Maghrib masuk
Setelah waktu Maghrib benar benar masuk, orang yang berpuasa dianjurkan untuk menyegerakan berbuka. Terdapat sabda Nabi ﷺ bahwa manusia akan tetap berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka. Ini menjadi pegangan penting agar tidak menunda berbuka tanpa alasan.
Rasulullah ﷺ bersabda, manusia akan tetap berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.
Dalam praktik sehari hari, adzan Maghrib menjadi penanda kuat masuknya waktu berbuka.
Mana yang didahulukan saat adzan Maghrib Ramadhan
Pertanyaan ini sangat dekat dengan kebiasaan masyarakat. Ketika adzan Maghrib terdengar, apakah harus menyelesaikan doa setelah adzan dulu baru berbuka, atau boleh langsung minum. Dalam praktik ibadah, keduanya bisa dipadukan dengan tenang tanpa saling meniadakan.
Prinsip utamanya jangan menunda berbuka tanpa alasan
Karena ada anjuran kuat untuk menyegerakan berbuka, jangan sampai seseorang justru menahan diri terlalu lama hanya karena ingin memperpanjang rangkaian bacaan. Sunnah menyegerakan berbuka tetap dijaga.
Jika situasi memungkinkan, seseorang dapat menjawab adzan, membaca doa setelah adzan dengan ringkas, lalu berbuka dengan air atau kurma. Jika sangat sempit waktunya, minimal jangan meninggalkan adab adzan sepenuhnya dan tetap menyegerakan berbuka.
Contoh urutan yang mudah diamalkan di rumah
Agar tidak bingung, berikut pola yang lazim dan tetap selaras dengan tuntunan hadits serta adab Ramadhan:
- Dengarkan adzan Maghrib dan jawab lafaznya
- Baca shalawat singkat kepada Nabi ﷺ
- Baca doa setelah adzan
- Segera berbuka dengan air atau kurma
- Lanjutkan shalat Maghrib
- Setelah itu makan lebih tenang
Urutan ini membantu menjaga adab adzan sekaligus sunnah menyegerakan berbuka. Dasarnya berasal dari hadits adzan dan hadits tentang menyegerakan ifthar.
Jika sedang di masjid atau menjadi muadzin
Di masjid, keadaan bisa berbeda. Ada orang yang bertugas iqamah, ada imam, ada jamaah yang harus segera merapatkan saf. Dalam kondisi seperti ini, yang penting adalah menjaga prioritas ibadah dengan tertib. Sebagian orang cukup berbuka ringan terlebih dahulu, kemudian shalat, lalu melanjutkan makan setelah shalat.
Hal ini sering dipahami sebagai bentuk kemudahan syariat, karena tujuan utamanya adalah menjaga sunnah berbuka tepat waktu dan shalat Maghrib tidak tertunda.
Waktu antara adzan dan iqamah adalah kesempatan doa yang sangat baik
Selain doa setelah adzan, ada satu amalan yang sering terlewat ketika Ramadhan, yaitu berdoa di antara adzan dan iqamah. Padahal Nabi ﷺ menyebut waktu ini sebagai waktu doa yang tidak ditolak. Saat puasa, momen ini terasa lebih kuat karena hati sedang lembut, lapar dan haus baru saja dilepas, dan suasana ibadah sedang hidup.
Hadits tentang doa antara adzan dan iqamah
Terdapat hadits dari Anas bin Malik رضي الله عنه yang sering dijadikan dasar untuk memperbanyak doa pribadi setelah adzan selesai.
Rasulullah ﷺ bersabda, doa yang dipanjatkan antara adzan dan iqamah tidak tertolak.
Hadits ini sangat relevan saat Maghrib Ramadhan. Setelah menjawab adzan, membaca shalawat, dan doa setelah adzan, seseorang dapat melanjutkan dengan doa pribadi, misalnya memohon ampunan, kesehatan, kelapangan rezeki, dan keteguhan ibadah.
Doa apa yang dibaca pada waktu ini
Tidak ada satu redaksi tunggal yang wajib dibaca untuk semua kebutuhan pribadi pada waktu antara adzan dan iqamah. Justru di sini setiap orang bisa berdoa sesuai kebutuhannya. Kita bisa berdoa dengan bahasa Arab, Indonesia, atau bahasa yang kita pahami, selama isinya baik.
Jika ingin sederhana, seseorang bisa memohon ampunan untuk diri sendiri dan orang tua, memohon keberkahan Ramadhan, kemudahan menahan lisan, serta kekuatan menjaga shalat tepat waktu. Di tengah suasana berbuka, doa seperti ini terasa sangat dekat dengan kebutuhan harian.
Bedakan doa setelah adzan dengan doa berbuka puasa
Banyak orang mencampur dua hal ini karena waktunya berdekatan. Padahal doa setelah adzan dan doa berbuka puasa adalah dua amalan yang berbeda. Doa setelah adzan dibaca karena mendengar seruan adzan. Doa berbuka dibaca saat membatalkan puasa. Keduanya bisa dibaca berurutan, bukan dipilih salah satu.
Fungsi doa setelah adzan
Doa setelah adzan berisi permohonan untuk Nabi Muhammad ﷺ agar diberi wasilah, keutamaan, dan maqam mahmud. Keutamaan yang disebut dalam hadits adalah mendapatkan syafaat Nabi ﷺ. Jadi isi doanya bukan tentang lapar, haus, atau berbuka, melainkan tentang adab terhadap syiar shalat dan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ.

Fungsi doa berbuka puasa
Doa berbuka puasa berhubungan dengan momen ifthar, rasa syukur, dan pengakuan bahwa puasa dijalani karena Allah. Di Indonesia, beberapa redaksi doa berbuka dikenal luas dan dibaca turun temurun.
Yang utama tetap menyegerakan berbuka ketika waktu telah masuk, lalu menjaga tata cara berbuka yang sesuai adab dan melanjutkan shalat Maghrib.
Supaya tidak bingung saat adzan Maghrib
Cara paling mudah adalah mengingat dua kata kunci:
- Pertama, adzan mengingatkan kita pada jawaban adzan, shalawat, dan doa setelah adzan.
- Kedua, berbuka mengingatkan kita pada sunnah menyegerakan ifthar dan doa berbuka.
Jika dua jalur ini dipahami, insya Allah momen Maghrib Ramadhan terasa lebih tertib dan tidak terburu buru.
Kesalahan yang sering terjadi dan cara membenahinya
Kebiasaan di masyarakat sangat beragam. Ada yang semangat sekali membaca banyak doa, ada yang justru langsung sibuk makanan sampai lupa menjawab adzan. Bagian ini penting agar ibadah tetap hangat, tetapi juga rapi secara urutan.
Langsung makan tanpa menjawab adzan
Ini cukup sering terjadi ketika hidangan sudah tersaji dan rasa lapar memuncak. Padahal menjawab adzan adalah sunnah yang sangat dianjurkan, dan adzan adalah panggilan ibadah, bukan sekadar alarm buka puasa. Mulailah dengan melatih diri untuk diam sejenak, menjawab adzan, lalu lanjutkan amalan berikutnya. Dasarnya jelas dari hadits tentang mengulangi ucapan muadzin, bershalawat, dan memohon wasilah.
Mengira doa setelah adzan hanya untuk selain Maghrib
Sebagian orang hanya terbiasa membaca doa setelah adzan pada Subuh atau ketika di masjid. Padahal hadits menggunakan redaksi umum bagi siapa pun yang mendengar adzan. Karena itu, adzan Maghrib saat Ramadhan justru menjadi kesempatan yang sangat baik untuk menghidupkan sunnah ini setiap hari.
Menunda berbuka terlalu lama karena ingin membaca banyak bacaan
Niatnya baik, tetapi perlu ditata. Hadits tentang menyegerakan berbuka memberi arah yang jelas. Karena itu, setelah menjalankan adab adzan secukupnya, segerakan berbuka dengan yang ringan. Tidak perlu menunggu semua hidangan tersusun sempurna. Cukup air atau kurma terlebih dahulu, lalu shalat Maghrib.
Panduan singkat amalan harian selama Ramadhan saat adzan Maghrib
Agar mudah diulang setiap hari, berikut rangkuman amalan yang bisa dijadikan kebiasaan di rumah bersama keluarga. Pola ini sederhana, tidak memberatkan, dan tetap berpijak pada hadits hadits yang sahih.
Pola singkat yang bisa diajarkan ke anak dan keluarga
Sebelum adzan, siapkan makanan ringan dan air secukupnya agar tidak panik saat waktu berbuka tiba. Begitu adzan terdengar, ajak keluarga menjawab lafaz muadzin bersama. Setelah itu baca shalawat singkat dan lanjutkan doa setelah adzan. Kemudian berbuka dengan kurma atau air, lalu bersiap shalat Maghrib.
Dengan cara ini, anak anak juga belajar bahwa adzan Maghrib di bulan Ramadhan bukan hanya tanda makan, tetapi juga momen ibadah yang lengkap.
Bacaan inti yang sebaiknya dihafal
Fokus dulu pada tiga hal inti agar konsisten:
Jawaban adzan
Shalawat kepada Nabi ﷺ
Doa setelah adzan
Jika tiga ini sudah lancar, tambahkan kebiasaan doa pribadi di antara adzan dan iqamah karena waktunya sangat dianjurkan untuk berdoa. Hadits tentang doa yang tidak tertolak pada waktu tersebut bisa menjadi motivasi harian yang kuat.
Saat sedang bepergian atau buka di jalan
Dalam kondisi perjalanan, suasana sering lebih sibuk. Tidak masalah jika bacaan dibuat ringkas, asalkan inti sunnah tetap dijaga. Dengarkan adzan, jawab sebisanya, baca doa setelah adzan, lalu berbuka ringan segera ketika waktu masuk. Hadits tentang menyegerakan ifthar tetap menjadi pegangan utama dalam kondisi seperti ini.
Ramadhan sering mengajarkan bahwa ibadah yang konsisten lebih terasa menenangkan daripada amalan yang panjang tetapi jarang dikerjakan. Karena itu, menjaga doa setelah adzan setiap Maghrib selama Ramadhan bisa menjadi kebiasaan yang sangat berharga, apalagi ketika disambung dengan doa pribadi pada waktu antara adzan dan iqamah yang disebut tidak tertolak.






