Muharram dan Asyura, Ibadah Ringan dengan Pahala Besar yang Sering Luput

Islami335 Views

Bulan Muharram sering datang tanpa banyak sambutan, padahal dalam kalender hijriah, bulan ini memiliki kedudukan yang sangat istimewa. Banyak umat Islam lebih mengenal Ramadan sebagai bulan ibadah besar, sementara Muharram kerap hanya diingat sebagai awal tahun hijriah. Padahal, di dalamnya ada keutamaan besar, ada peluang memperbanyak amal saleh, dan ada satu hari yang sangat dianjurkan untuk berpuasa, yaitu Hari Asyura.

Muharram, Bulan Mulia yang Tidak Boleh Dianggap Biasa

Muharram bukan sekadar bulan pertama dalam kalender Islam. Ia termasuk salah satu bulan haram, yaitu bulan yang dimuliakan Allah SWT. Dalam bulan ini, seorang muslim dianjurkan lebih berhati hati menjaga lisan, perbuatan, niat, dan hubungan dengan sesama. Kemuliaannya membuat amal saleh bernilai sangat penting, sementara perbuatan dosa harus semakin dijauhi.

Dalam tradisi Islam, ada empat bulan haram yang disebut memiliki kedudukan khusus, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Disebut bulan haram bukan karena dilarang beribadah, melainkan karena Allah memuliakannya dan manusia dilarang menodainya dengan kezaliman.

Allah SWT berfirman dalam Surah At Taubah ayat 36 bahwa jumlah bulan di sisi Allah ada dua belas bulan, dan di antaranya terdapat empat bulan haram. Ayat ini mengingatkan bahwa perhitungan waktu dalam Islam bukan hanya urusan kalender, tetapi juga ruang bagi seorang hamba untuk memperbaiki diri.


Mengapa Muharram Disebut Bulan Allah

Penyebutan Muharram sebagai bulan Allah menunjukkan keutamaannya yang besar. Tidak semua bulan mendapat penyandaran khusus seperti ini. Ketika Rasulullah SAW menyebut Muharram sebagai bulan Allah, para ulama memahami bahwa bulan ini memiliki kemuliaan yang sangat tinggi.

“Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharram. Dan salat yang paling utama setelah salat wajib adalah salat malam.”
HR Muslim

Hadits ini menjadi dasar kuat bahwa Muharram bukan bulan yang kosong dari anjuran ibadah. Justru setelah Ramadan, puasa yang paling utama adalah puasa di bulan Muharram. Artinya, siapa pun yang ingin menambah bekal amal setelah Ramadan, Muharram menjadi waktu yang sangat baik untuk memulainya.

Bukan Hanya Awal Tahun Hijriah

Sebagian orang hanya mengingat Muharram saat pergantian tahun hijriah. Tidak sedikit yang sebatas mengucapkan selamat tahun baru Islam, lalu melewatkan hari hari berikutnya tanpa ibadah tambahan. Padahal, keutamaan Muharram tidak berhenti pada tanggal satu saja.

Awal tahun hijriah memang bisa menjadi momen muhasabah. Namun, inti Muharram lebih luas daripada sekadar pergantian angka tahun. Bulan ini adalah kesempatan untuk memperbanyak puasa sunnah, memperbaiki salat, menguatkan doa, dan meninggalkan kebiasaan buruk yang selama ini sulit diputus.


Puasa Asyura, Amalan Besar yang Sering Diremehkan

Puasa Asyura dilakukan pada tanggal 10 Muharram. Amalan ini termasuk puasa sunnah yang sangat dianjurkan karena memiliki keutamaan besar. Sayangnya, banyak orang baru mengingatnya saat tanggalnya sudah lewat, atau menganggapnya sama seperti puasa sunnah biasa.

Rasulullah SAW memberi perhatian besar kepada puasa Asyura. Dalam riwayat disebutkan bahwa beliau berpuasa pada hari itu dan menganjurkan para sahabat untuk ikut berpuasa. Ini menunjukkan bahwa Asyura bukan amalan kecil yang boleh dianggap ringan begitu saja.

“Puasa Asyura, aku berharap kepada Allah agar dapat menghapus dosa setahun yang lalu.”
HR Muslim

Hadits ini membuat hati seorang muslim tersentuh. Dengan satu hari puasa, Allah memberi peluang pengampunan atas dosa setahun sebelumnya. Tentu yang dimaksud adalah dosa kecil, sementara dosa besar tetap membutuhkan taubat sungguh sungguh, penyesalan, dan tekad untuk tidak mengulanginya.

Pengampunan yang Sering Terlupakan

Banyak orang mencari cara agar hidupnya lebih tenang, tetapi lupa bahwa ketenangan terbesar datang dari ampunan Allah. Puasa Asyura mengajarkan bahwa rahmat Allah sangat luas. Ibadah yang tampak sederhana dapat menjadi jalan penghapus dosa bila dilakukan dengan iman dan mengharap pahala.

Keutamaan ini seharusnya membuat umat Islam tidak menunda kebaikan. Puasa Asyura hanya datang setahun sekali. Jika terlewat, seseorang harus menunggu Muharram berikutnya. Karena itu, mengetahui tanggalnya sejak awal menjadi bagian penting dari persiapan ibadah.

Sejarah Puasa Asyura dan Pelajaran dari Nabi Musa

Hari Asyura juga memiliki kaitan dengan peristiwa besar dalam sejarah para nabi. Ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah, beliau mendapati orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Mereka mengatakan bahwa hari itu adalah hari ketika Allah menyelamatkan Nabi Musa AS dan Bani Israil dari kejaran Firaun.

Rasulullah SAW kemudian menjelaskan bahwa umat Islam lebih berhak mengikuti Nabi Musa AS. Maka beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa.

“Ini adalah hari yang agung. Pada hari ini Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya, serta menenggelamkan Firaun dan kaumnya. Maka Musa berpuasa sebagai bentuk syukur kepada Allah, lalu kami pun berpuasa.”
HR Bukhari dan Muslim

Kisah ini menunjukkan bahwa puasa Asyura bukan hanya ibadah menahan lapar dan haus. Di dalamnya ada rasa syukur, pengakuan atas pertolongan Allah, dan pengingat bahwa kezaliman sebesar apa pun akan kalah di hadapan kuasa Allah.

Asyura Mengajarkan Syukur yang Hidup

Syukur tidak selalu cukup diucapkan. Dalam Islam, syukur juga dibuktikan lewat ketaatan. Nabi Musa AS berpuasa sebagai bentuk syukur atas keselamatan yang Allah berikan. Rasulullah SAW pun menghidupkan puasa tersebut sebagai ibadah yang dianjurkan bagi umat Islam.

Dari sini, seorang muslim belajar bahwa nikmat keselamatan, iman, kesehatan, keluarga, dan kesempatan hidup perlu dibalas dengan ibadah. Puasa Asyura menjadi salah satu wujud syukur yang sangat indah.


Dianjurkan Puasa Tasu’a Bersama Asyura

Selain berpuasa pada 10 Muharram, umat Islam juga dianjurkan berpuasa pada 9 Muharram yang dikenal sebagai puasa Tasu’a. Anjuran ini berkaitan dengan keinginan Rasulullah SAW untuk menyelisihi kebiasaan kaum Yahudi yang hanya berpuasa pada tanggal 10.

“Jika aku masih hidup sampai tahun depan, sungguh aku akan berpuasa pada hari kesembilan.”
HR Muslim

Hadits ini menjadi dasar anjuran puasa Tasu’a. Maka, amalan yang banyak dianjurkan ulama adalah berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram. Jika tidak mampu, seorang muslim tetap bisa berpuasa pada tanggal 10 Muharram saja. Sebagian ulama juga membolehkan berpuasa tanggal 10 dan 11 Muharram.

Pilihan Puasa yang Bisa Dikerjakan

Agar lebih mudah dipahami, berikut pilihan puasa Muharram yang sering dijelaskan para ulama:

  1. Puasa tanggal 9 dan 10 Muharram, yaitu Tasu’a dan Asyura.
  2. Puasa tanggal 10 Muharram saja bila tidak mampu menambah hari.
  3. Puasa tanggal 10 dan 11 Muharram.
  4. Puasa tanggal 9, 10, dan 11 Muharram bagi yang ingin menambah ibadah.

Pilihan terbaik adalah berpuasa pada 9 dan 10 Muharram. Namun, jangan sampai seseorang meninggalkan Asyura hanya karena tidak sempat puasa Tasu’a. Jika hanya mampu satu hari, maka tetaplah berpuasa pada 10 Muharram.

Keutamaan yang Sering Luput dari Perhatian

Ada beberapa keutamaan Muharram dan Asyura yang sering tidak mendapat perhatian cukup. Banyak muslim mengetahui bahwa Asyura itu baik, tetapi belum benar benar memahami betapa besarnya peluang amal di bulan ini.

Pertama, Muharram adalah bulan yang sangat baik untuk memperbanyak puasa sunnah. Bukan hanya Asyura, hari hari lain di bulan Muharram juga dapat diisi dengan puasa bagi yang mampu.

Kedua, Asyura menjadi jalan penghapus dosa setahun lalu. Ini adalah karunia besar yang seharusnya tidak dilewatkan tanpa alasan kuat.

Ketiga, Muharram melatih seorang muslim untuk membuka tahun hijriah dengan ketaatan. Saat banyak orang sibuk membuat rencana dunia, Islam mengajarkan agar awal perjalanan waktu diisi dengan ibadah.

Keempat, Asyura mengingatkan bahwa pertolongan Allah selalu dekat dengan orang yang beriman. Kisah Nabi Musa AS dan Firaun menjadi pengingat bahwa kekuatan manusia tidak ada artinya di hadapan kehendak Allah.

Amalan yang Dianjurkan Selama Muharram

Muharram adalah waktu yang baik untuk memperbanyak amal saleh. Tidak harus selalu dengan ibadah yang berat. Amalan kecil yang dilakukan dengan ikhlas dapat menjadi sebab turunnya rahmat Allah.

Beberapa amalan yang dapat diperbanyak selama Muharram antara lain:

  1. Memperbanyak puasa sunnah, terutama Tasu’a dan Asyura.
  2. Menjaga salat wajib tepat waktu.
  3. Menambah salat sunnah, terutama salat malam.
  4. Memperbanyak istighfar.
  5. Membaca Al Qur’an dengan lebih teratur.
  6. Bersedekah sesuai kemampuan.
  7. Memperbaiki hubungan dengan keluarga.
  8. Menahan diri dari gibah, fitnah, iri, dan marah berlebihan.

Amalan tersebut terlihat sederhana, tetapi bila dilakukan di bulan yang mulia, nilainya menjadi sangat berharga. Muharram mengajarkan bahwa kemuliaan waktu seharusnya membuat manusia lebih serius menjaga diri.

Jangan Menodai Bulan Haram dengan Kezaliman

Dalam bulan haram, seorang muslim dianjurkan lebih kuat menahan diri dari dosa. Kezaliman tidak hanya berupa tindakan besar terhadap orang lain. Lisan yang menyakiti, janji yang diingkari, hak orang yang ditahan, dan kebencian yang dipelihara juga termasuk perkara yang harus diwaspadai.

Muharram menjadi pengingat agar seseorang tidak mudah meremehkan dosa kecil. Dosa yang terus diulang dapat mengeraskan hati. Karena itu, bulan ini sebaiknya dijadikan waktu untuk membersihkan diri dari kebiasaan buruk yang selama ini dianggap biasa.


Puasa Asyura dan Taubat yang Sungguh Sungguh

Puasa Asyura memiliki keutamaan menghapus dosa setahun lalu, tetapi bukan berarti seseorang boleh sengaja bermaksiat lalu merasa cukup dengan puasa. Pemahaman seperti ini keliru. Ibadah sunnah seharusnya membuat hati semakin takut kepada Allah, bukan semakin berani meremehkan dosa.

Taubat tetap menjadi pintu utama bagi siapa pun yang pernah melakukan kesalahan. Puasa Asyura menjadi penguat, penyempurna, dan jalan mendekat kepada ampunan Allah. Orang yang berpuasa seharusnya juga menjaga lisan, pandangan, dan hatinya.

Puasa yang Tidak Hanya Menahan Lapar

Nilai puasa tidak hanya terletak pada kosongnya perut dari makanan dan minuman. Puasa yang baik juga menahan diri dari ucapan buruk, emosi yang tidak terkendali, dan perbuatan yang merusak pahala.

Rasulullah SAW mengingatkan bahwa ada orang yang berpuasa tetapi hanya mendapatkan lapar dan haus. Karena itu, puasa Asyura perlu dijaga dengan adab. Jangan sampai seseorang berpuasa, tetapi tetap sibuk menyakiti orang lain lewat kata kata dan sikap.

Cara Menyambut Muharram agar Tidak Lewat Begitu Saja

Banyak orang melewatkan Muharram karena tidak menandai tanggal pentingnya. Saat sadar, Asyura sudah berlalu. Agar tidak terjadi lagi, umat Islam perlu membiasakan diri memperhatikan kalender hijriah.

Langkah sederhana yang bisa dilakukan adalah mencatat tanggal 9 dan 10 Muharram, mengingatkan keluarga, menyiapkan sahur, dan mengajak teman untuk ikut berpuasa. Kebaikan seperti ini dapat menjadi amal tambahan karena mengajak orang lain kepada ibadah.

Menghidupkan Rumah dengan Ibadah

Muharram tidak harus dirayakan dengan acara besar. Yang lebih penting adalah menghidupkan rumah dengan suasana taat. Orang tua bisa mengajak anak mengenal Asyura, menceritakan kisah Nabi Musa AS, dan menjelaskan mengapa umat Islam dianjurkan berpuasa.

Dengan cara itu, anak anak tidak hanya mengenal Muharram sebagai nama bulan, tetapi juga memahami bahwa Islam memiliki waktu waktu mulia yang perlu dihormati. Kebiasaan baik dalam keluarga sering kali menjadi bekal kuat bagi anak saat tumbuh dewasa.


Kekeliruan yang Sering Terjadi Saat Muharram

Ada beberapa kebiasaan yang perlu diluruskan ketika Muharram datang. Sebagian orang terlalu sibuk pada perayaan simbolik, tetapi lupa pada ibadah utama yang dianjurkan. Sebagian lainnya menyebarkan amalan tertentu tanpa dasar yang jelas.

Yang paling aman bagi seorang muslim adalah mengikuti tuntunan yang jelas dari Rasulullah SAW. Puasa Muharram, terutama Asyura, memiliki dalil kuat. Salat malam, sedekah, membaca Al Qur’an, dan istighfar juga termasuk amal saleh yang dianjurkan secara umum.

Tidak Perlu Berlebihan dalam Perayaan

Islam mengajarkan keseimbangan. Muharram memang bulan mulia, tetapi kemuliaannya tidak perlu diisi dengan hal yang berlebihan. Yang paling utama adalah memperbanyak ibadah, menjaga hati, dan memperbaiki amal.

Bila ada kegiatan keagamaan seperti kajian, santunan, atau pengajian, itu bisa menjadi kebaikan selama tidak diyakini sebagai kewajiban khusus yang tidak berdasar. Umat Islam perlu cerdas membedakan antara amal saleh yang dianjurkan dan tradisi yang boleh dilakukan selama tidak bertentangan dengan syariat.

Muharram sebagai Pintu Memperbaiki Hubungan dengan Allah

Setiap bulan memiliki kesempatan ibadah, tetapi Muharram memiliki daya panggil yang berbeda karena ia berada di awal kalender hijriah dan termasuk bulan haram. Seorang muslim dapat menjadikannya sebagai titik awal untuk kembali lebih dekat kepada Allah.

Kedekatan dengan Allah tidak selalu dimulai dari amal yang besar. Bisa dimulai dari satu hari puasa Asyura, satu malam salat tahajud, satu mushaf yang mulai dibaca kembali, atau satu dosa yang mulai ditinggalkan.

“Sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah adalah yang terus menerus dilakukan meskipun sedikit.”
HR Bukhari dan Muslim

Hadits ini memberi harapan bagi siapa pun yang ingin berubah. Tidak harus menunggu menjadi sempurna. Mulailah dari amalan yang mampu dikerjakan, lalu jaga agar tidak mudah putus.

Saatnya Tidak Lagi Melewatkan Asyura

Puasa Asyura adalah hadiah besar yang datang setahun sekali. Ia ringan bagi yang diberi kemudahan, tetapi nilainya sangat besar di sisi Allah. Satu hari puasa dapat menjadi jalan penghapus dosa setahun lalu, penguat syukur, dan bukti cinta kepada sunnah Rasulullah SAW.

Muharram juga mengajak umat Islam untuk lebih sadar terhadap waktu. Setiap bulan yang datang membawa kesempatan, tetapi tidak semua kesempatan akan kembali dengan mudah. Ketika Allah masih memberi umur, kesehatan, dan kemampuan untuk beribadah, maka Asyura seharusnya tidak lagi dibiarkan berlalu tanpa bekas di hati.


Bekal Ringan untuk Mengisi Hari Hari Muharram

Memasuki Muharram, seorang muslim tidak perlu menunggu suasana sempurna untuk beramal. Mulailah dari hal yang bisa dilakukan hari ini. Niatkan puasa, perbaiki salat, jaga lisan, hubungi keluarga yang lama tidak disapa, dan luangkan waktu untuk membaca Al Qur’an.

Bila mampu, ajak orang lain ikut berpuasa Asyura. Kirimkan pengingat yang lembut, bukan dengan memaksa. Berikan contoh, bukan hanya perintah. Sebab kebaikan yang disampaikan dengan cara baik lebih mudah masuk ke hati.

Muharram adalah bulan yang mulia, Asyura adalah hari yang agung, dan puasa di dalamnya adalah ibadah yang terlalu berharga untuk dilupakan. Di antara kesibukan hidup yang tidak pernah benar benar selesai, selalu ada panggilan dari Allah agar hamba Nya kembali, meski melalui satu hari puasa yang dikerjakan dengan tulus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *