Melukat semakin dikenal masyarakat setelah sejumlah figur publik membagikan pengalamannya menjalani prosesi tersebut di Bali. Ada yang menyebutnya sebagai cara membersihkan diri, melepaskan beban pikiran, mencari ketenangan, atau memulai kehidupan dengan perasaan lebih baik. Penyebarannya melalui media sosial membuat melukat tidak lagi dipandang sebagai kegiatan yang hanya dilakukan oleh masyarakat Hindu Bali.
Bagi seorang muslim, ketertarikan terhadap tradisi daerah perlu disertai pengetahuan yang memadai. Tidak semua kegiatan yang dikemas sebagai wisata dapat dipisahkan dari unsur keagamaan. Ada aktivitas budaya yang boleh disaksikan, ada kegiatan sosial yang dapat diikuti, dan ada pula prosesi ibadah yang harus dihormati tanpa ikut menjalankannya.
Pembahasan melukat menurut Islam bukan bertujuan merendahkan keyakinan umat Hindu. Islam memerintahkan umatnya menjaga hubungan baik dengan masyarakat berbeda agama. Pada saat bersamaan, seorang muslim juga mempunyai kewajiban memelihara tauhid serta menjalankan penyucian diri sesuai tuntunan Al-Qur’an dan sunnah.
Apa Itu Melukat dalam Tradisi Hindu Bali?
Sebelum membicarakan hukumnya bagi umat Islam, melukat perlu dipahami berdasarkan penjelasan pemeluk agama yang menjalankannya. Cara ini penting agar umat Islam tidak memberikan penilaian berdasarkan potongan video atau informasi yang tidak lengkap.
Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama menjelaskan bahwa melukat merupakan ritual pembersihan diri secara lahir dan batin menggunakan air suci yang disebut tirta. Pelaksanaannya dapat dilakukan di beji, pancuran, mata air, sungai, laut, atau tempat lain yang dinilai suci. Melukat juga ditempatkan sebagai bagian dari kehidupan keagamaan umat Hindu, bukan sekadar mandi biasa di tempat wisata.

Prosesi yang dijalankan dapat berbeda mengikuti kebiasaan daerah, tempat, tujuan upacara, serta arahan pemangku. Dalam pelaksanaan tertentu, peserta mengenakan pakaian adat, menyiapkan sarana persembahan, mengikuti doa, menerima percikan tirta, membasuh tubuh di pancuran, dan menjalankan urutan yang telah ditentukan.
Perbedaan bentuk pelaksanaan tidak menghilangkan kedudukannya sebagai kegiatan keagamaan. Air yang digunakan tidak hanya dipandang sebagai air untuk membersihkan badan, tetapi ditempatkan sebagai tirta yang mempunyai kedudukan khusus dalam kepercayaan Hindu.
Melukat Bukan Sekadar Mandi di Mata Air
Seseorang mungkin melihat peserta melukat berdiri di bawah pancuran sehingga menganggapnya sama dengan mandi di air terjun. Penilaian seperti itu belum menggambarkan seluruh proses yang berlangsung. Kegiatan keagamaan tidak hanya ditentukan oleh gerakan tubuh, tetapi juga oleh doa, tujuan, simbol, tata cara, keyakinan, dan pihak yang memimpin pelaksanaannya.
Beberapa unsur berikut dapat menjadi pembeda antara melukat dan mandi biasa:
- Air digunakan sebagai tirta dalam prosesi keagamaan.
- Terdapat doa atau permohonan sesuai ajaran Hindu.
- Pelaksanaannya mengikuti urutan tertentu.
- Prosesi dapat dipimpin atau diarahkan oleh pemangku.
- Terdapat sarana persembahan atau perlengkapan upacara.
- Peserta diarahkan untuk membersihkan unsur buruk secara spiritual.
Karena itu, penyebutan melukat sebagai wisata penyembuhan atau wisata spiritual tidak serta merta mengubah kedudukannya. Kemasan pariwisata dapat membuat suatu prosesi terbuka bagi pengunjung, tetapi unsur ibadahnya tetap perlu diperhatikan oleh seorang muslim.
Hukum Muslim Mengikuti Melukat
Ketika suatu aktivitas terbukti menjadi ritual agama lain, pembahasan hukumnya tidak lagi hanya berkaitan dengan adat, pakaian, lokasi, atau penggunaan air. Persoalan utamanya berada pada keterlibatan seorang muslim dalam tata cara ibadah yang bersumber dari keyakinan berbeda.
MUI Sulawesi Selatan dalam jawaban keagamaan yang diterbitkan pada 2 Mei 2022 menyatakan bahwa melukat dan kegiatan sejenis tidak boleh dilakukan oleh umat Islam. Larangan tersebut diarahkan pada keterlibatan muslim dalam ritual penyucian yang menjadi bagian dari ibadah agama lain. Rujukan ini merupakan jawaban MUI Sulawesi Selatan sehingga penyebutannya perlu tepat dan tidak digeneralisasi sebagai fatwa nasional.

Penilaian tersebut sejalan dengan prinsip bahwa umat Islam mempunyai tata cara ibadah dan penyucian sendiri. Seorang muslim tidak diperbolehkan menjadikan doa, simbol, persembahan, atau tata cara agama lain sebagai jalan untuk memperoleh pengampunan, perlindungan, ketenangan spiritual, maupun keselamatan.
Allah berfirman dalam Surah Al-Kafirun ayat 6:
“Untukmu agamamu dan untukku agamaku.”
Ayat ini mengajarkan ketegasan dalam urusan ibadah tanpa memerintahkan permusuhan terhadap pemeluk agama lain. Perbedaan jalan peribadatan harus dihormati, tetapi tidak dicampurkan.
Niat Baik Tidak Selalu Membenarkan Tata Cara
Sebagian orang mengikuti melukat dengan alasan tidak ingin berpindah agama. Mereka merasa hanya mencari ketenangan, membersihkan pikiran, menghargai budaya, atau menemani sahabat. Niat tersebut mungkin tidak berisi keinginan meninggalkan Islam, tetapi niat bukan satu-satunya unsur dalam penilaian suatu perbuatan.
Tata cara yang dilakukan juga harus diperiksa. Seseorang tidak dapat menjalankan suatu ritual keagamaan secara lengkap lalu menganggapnya netral hanya karena di dalam hati tidak mempercayainya. Ketika seseorang mengikuti doa, menerima tirta sebagai sarana penyucian spiritual, memakai perlengkapan upacara, dan menjalankan arahan pemimpin ritual, keterlibatannya sudah terlihat dalam perbuatan.
Hal ini berbeda dari mempelajari tradisi melalui buku, mendengarkan penjelasan tokoh Hindu, menyaksikan upacara untuk kepentingan pendidikan, atau berkunjung ke kawasan budaya dengan tetap menjaga batas. Pengetahuan mengenai agama lain tidak dilarang selama tidak berubah menjadi pengamalan ritualnya.
Apakah Muslim Boleh Datang ke Tempat Melukat?
Kedatangan ke lokasi perlu dibedakan dari keikutsertaan dalam prosesi. Tidak setiap orang yang berada di dekat tempat melukat otomatis dianggap menjalankan ritual. Seseorang mungkin datang sebagai peneliti, pemandu wisata, petugas keamanan, fotografer, anggota keluarga, atau pengunjung kawasan alam.
Dalam pembahasan fikih mengenai masuk ke tempat ibadah nonmuslim, para ulama mempunyai beberapa pendapat. Ada yang memakruhkan, ada yang membolehkan dengan syarat tertentu, dan ada yang mengharuskan adanya izin. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa berada di suatu lokasi tidak selalu disamakan dengan menjalankan ibadah yang dilakukan di sana.
Walaupun demikian, seorang muslim tetap perlu mempertimbangkan situasi. Apabila kehadirannya mengharuskan memakai perlengkapan upacara, membawa persembahan, mengikuti doa, menerima pemberkatan, atau menjalankan urutan melukat, ia sebaiknya menolak secara santun.
Seorang muslim dapat menjelaskan bahwa dirinya menghormati tempat tersebut, tetapi keyakinannya tidak memperbolehkan mengikuti ritual. Sikap seperti ini tidak termasuk penghinaan. Penolakan yang disampaikan dengan bahasa lembut justru memperlihatkan bahwa toleransi dapat berjalan tanpa menghapus batas agama.
Mandi Biasa di Sumber Air yang Sama
Air pada asalnya merupakan benda yang suci selama tidak terkena najis atau mengalami perubahan yang menjadikannya tidak layak digunakan. Sebuah mata air tidak otomatis haram hanya karena pernah dipakai dalam kegiatan agama tertentu.
Namun, mandi biasa perlu benar-benar terpisah dari prosesi melukat. Seseorang tidak mengikuti doa, tidak menggunakan sarana persembahan, tidak mempercayai air tersebut mempunyai kekuatan gaib, tidak meminta pembersihan spiritual kepada selain Allah, dan tidak mengikuti urutan ibadah agama lain.
Izin pengelola serta aturan masyarakat setempat juga wajib dihormati. Apabila suatu pancuran dikhususkan untuk kegiatan suci umat Hindu, seorang muslim tidak seharusnya menggunakannya sesuka hati. Menjaga kesopanan terhadap rumah ibadah dan tempat suci merupakan bagian dari akhlak bermasyarakat.

Penyucian Diri yang Diajarkan Islam
Islam memberikan perhatian besar terhadap kebersihan badan, pakaian, tempat ibadah, serta hati. Akan tetapi, cara mencapai kesucian tersebut telah diatur melalui thaharah, tobat, istigfar, amal saleh, salat, doa, dan usaha memperbaiki akhlak.
Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 222 bahwa Dia menyukai orang yang bertobat dan menyukai orang yang menyucikan diri. Ayat tersebut mempertemukan dua jenis kebersihan, yaitu kebersihan batin melalui tobat dan kebersihan lahir melalui bersuci.
Rasulullah SAW juga bersabda:
“Kesucian adalah setengah dari keimanan.”
Hadis riwayat Muslim tersebut memperlihatkan tingginya kedudukan bersuci dalam Islam. Kesucian yang dimaksud dijalankan melalui aturan yang diajarkan Rasulullah SAW, bukan melalui pengambilan tata cara ibadah dari keyakinan lain.
Wudu untuk Menghilangkan Hadas Kecil
Wudu dilakukan sebelum salat ketika seseorang berada dalam keadaan berhadas kecil. Anggota tubuh yang dibasuh serta urutannya telah dijelaskan dalam Surah Al-Maidah ayat 6. Wudu tidak sekadar menyegarkan tubuh, tetapi menjadi syarat sah salat dalam keadaan tertentu.
Seorang muslim membasuh wajah, tangan hingga siku, mengusap kepala, dan membasuh kaki hingga mata kaki. Air yang digunakan tidak diyakini mempunyai kekuatan sendiri. Kesucian diperoleh karena Allah menetapkan wudu sebagai ibadah dan orang tersebut menjalankannya sesuai perintah.
Inilah salah satu perbedaan mendasar antara thaharah dan ritual penyucian agama lain. Dalam Islam, aturan, niat, bacaan, serta tujuan ibadah bersumber dari ajaran Islam.
Mandi Wajib untuk Menghilangkan Hadas Besar
Mandi wajib dilakukan setelah seseorang mengalami keadaan tertentu, seperti junub, selesai haid, atau selesai nifas. Air harus mengenai seluruh bagian tubuh disertai niat menghilangkan hadas besar.
Mandi wajib bukan ritual untuk membuang nasib buruk, energi tertentu, kesialan, atau gangguan yang tidak terlihat. Tujuannya ialah mengangkat hadas besar agar seorang muslim kembali dapat menjalankan ibadah yang mensyaratkan kesucian.
Selain mandi wajib, Islam juga menganjurkan mandi pada waktu tertentu, seperti sebelum salat Jumat. Seluruh ketentuannya berpijak pada syariat, bukan pada anggapan bahwa lokasi tertentu mempunyai kuasa membersihkan dosa.
Tobat untuk Membersihkan Kesalahan
Dosa tidak hilang hanya karena tubuh disiram air. Kesalahan kepada Allah dibersihkan melalui tobat yang sungguh-sungguh. Seseorang mengakui kesalahannya, menyesal, berhenti dari perbuatan tersebut, serta bertekad tidak mengulanginya.
Apabila dosa berkaitan dengan hak manusia, tobat juga disertai pengembalian hak atau permintaan maaf. Orang yang mengambil harta harus mengembalikannya. Orang yang mempunyai utang wajib berusaha melunasinya. Orang yang menyakiti pihak lain perlu memperbaiki kesalahannya dengan cara yang tidak menimbulkan persoalan baru.
Air dapat membersihkan kotoran pada badan. Akan tetapi, pengampunan dosa berada dalam kekuasaan Allah. Karena itu, muslim diarahkan memohon ampun langsung kepada-Nya tanpa perantara benda, tempat, atau prosesi dari agama lain.

Mencari Ketenangan Tanpa Mengikuti Melukat
Keinginan memperoleh ketenangan merupakan kebutuhan yang wajar. Tekanan pekerjaan, konflik keluarga, kegagalan, kehilangan orang terdekat, dan penyesalan dapat membuat seseorang ingin mencari suasana baru. Masalah muncul ketika jalan yang dipilih memasukkan seorang muslim ke dalam ritual yang bertentangan dengan keyakinannya.
Islam menyediakan banyak amalan untuk menata kembali hati. Seorang muslim dapat memperbaiki salat, memperbanyak istigfar, membaca Al-Qur’an, berdoa, bersedekah, berpuasa, berzikir, serta mengikuti majelis ilmu. Ia juga dapat beristirahat, berolahraga, menikmati alam, berbicara dengan keluarga, atau meminta bantuan tenaga profesional ketika masalahnya terasa berat.
Kegiatan di alam seperti mengunjungi pantai, pegunungan, mata air, dan air terjun pada dasarnya dapat dilakukan. Seorang muslim boleh menikmati keindahan ciptaan Allah selama menjaga aurat, keselamatan, kebersihan, serta tidak mengikuti prosesi keagamaan yang berlangsung di tempat tersebut.
Ketenangan tidak harus dicari melalui kegiatan yang diberi label penyucian spiritual. Duduk di tempat yang tenang, melakukan muhasabah, kemudian berdoa kepada Allah dapat menjadi pilihan yang lebih sesuai dengan tauhid.
Toleransi Tidak Berarti Mengikuti Semua Ritual
Hubungan baik dengan umat Hindu harus terus dijaga, terutama di wilayah yang masyarakatnya hidup berdampingan. Muslim dapat membantu tetangganya dalam urusan sosial, menghadiri kegiatan kemasyarakatan, menjaga keamanan lingkungan, menolong saat terjadi musibah, dan bekerja sama merawat kebersihan.
Al-Qur’an memerintahkan umat Islam untuk saling menolong dalam kebajikan dan ketakwaan serta melarang kerja sama dalam dosa dan permusuhan. Pedoman ini memberikan ruang luas bagi kegiatan sosial, tetapi tetap menghadirkan batas ketika kerja sama berubah menjadi keterlibatan dalam ibadah.
MUI dalam hasil Ijtima Ulama Komisi Fatwa VIII juga menegaskan bahwa toleransi tidak dilakukan dengan mencampuradukkan ajaran agama. Umat Islam tetap diperintahkan menghormati pemeluk agama lain dan tidak merendahkan keyakinannya, tetapi doa serta ibadah khusus agama lain tidak diikuti oleh muslim.
Sikap yang tepat bukan mencela melukat, menyebut pemeluknya dengan perkataan kasar, atau mengganggu pelaksanaannya. Bagi umat Hindu, melukat merupakan bagian dari keyakinan yang mereka jalankan. Bagi umat Islam, penghormatan diwujudkan dengan memberikan ruang kepada mereka sambil tetap berpegang pada ibadah Islam.
Cara Menolak Ajakan Melukat dengan Santun
Ajakan mengikuti melukat dapat datang dari sahabat, rekan kerja, pasangan, penyelenggara wisata, atau anggota keluarga. Penolakan tidak perlu disampaikan melalui perdebatan panjang. Bahasa yang jelas dan ramah biasanya sudah cukup.
Seorang muslim dapat mengatakan, “Saya menghormati tradisi ini, tetapi dalam ajaran Islam saya tidak diperbolehkan mengikuti ritual agama lain.” Ia juga dapat memilih menunggu di luar lokasi prosesi atau mengikuti kegiatan wisata lain yang tidak berisi unsur peribadatan.
Beberapa sikap yang dapat diterapkan antara lain:
- Menanyakan susunan kegiatan sebelum membeli paket wisata.
- Memastikan apakah kegiatan hanya kunjungan atau berisi ritual.
- Menolak memakai perlengkapan upacara.
- Tidak mengikuti doa atau pemberkatan.
- Tidak menerima air sebagai sarana pembersihan spiritual.
- Menjaga ucapan agar tidak merendahkan tuan rumah.
Ketegasan seperti ini tidak merusak persahabatan apabila disampaikan dengan baik. Masyarakat yang terbiasa hidup dalam keberagaman umumnya dapat memahami bahwa setiap agama mempunyai batas peribadatan masing-masing.

Langkah Muslim yang Pernah Mengikuti Melukat
Seseorang yang pernah mengikuti melukat tidak perlu tenggelam dalam keputusasaan. Bisa jadi ia melakukannya karena belum mengetahui kedudukan prosesi tersebut, terbawa ajakan, atau mengira kegiatan itu hanya mandi di objek wisata.
Langkah pertama ialah menghentikan keterlibatan dalam ritual serupa. Setelah itu, ia dapat bertobat kepada Allah, menyesali perbuatannya, memperbanyak istigfar, mengucapkan kembali dua kalimat syahadat sebagai bentuk pembaruan komitmen, serta mempelajari dasar tauhid agar tidak mudah mengikuti kegiatan yang belum dipahami.
Ia tidak perlu mengumumkan kesalahannya kepada banyak orang. Dosa pribadi yang telah ditutupi Allah tidak seharusnya disebarkan demi memperoleh perhatian. Hal yang lebih utama ialah memperbaiki ibadah, menjaga salat, memilih lingkungan yang menguatkan iman, dan bertanya kepada ustaz atau lembaga keagamaan tepercaya apabila masih merasa ragu.
Apabila selama prosesi pernah mengucapkan kalimat yang berisi pengakuan terhadap sesembahan selain Allah, memberikan persembahan, atau meyakini adanya kekuatan spiritual di luar kekuasaan Allah, persoalannya perlu dijelaskan secara jujur kepada ulama yang memahami akidah dan fikih. Penjelasan secara langsung akan membantu menentukan bimbingan yang sesuai berdasarkan ucapan, keyakinan, serta perbuatan yang benar-benar terjadi.






