Muhasabah Awal Muharram untuk Diri, Keluarga, dan Amanah Pekerjaan

Islami155 Views

Datangnya awal tahun Islam sering lewat dengan sederhana. Tidak seramai pergantian tahun Masehi, tidak penuh hitung mundur, tidak dibungkus pesta besar. Namun justru di situlah letak keindahannya. Tahun baru Hijriah datang seperti ketukan halus di pintu hati. Ia tidak berisik, tetapi cukup kuat untuk membuat orang beriman berhenti sejenak, menoleh ke belakang, lalu bertanya dengan jujur, sudah sejauh mana diri ini berjalan.

Muharram sebagai pembuka tahun Islam menghadirkan suasana yang sangat layak dipakai untuk muhasabah. Bukan sekadar mengganti angka tahun, melainkan mengganti cara memandang hidup. Ada ibadah yang perlu dipulihkan, ada rumah yang perlu dihangatkan lagi, ada pekerjaan yang harus dibersihkan dari niat yang melenceng, dari cara yang kurang hati hati, dan dari kebiasaan yang membuat hati kering.

Di tengah hari hari yang padat, muhasabah sering kalah oleh alasan sibuk. Padahal orang justru paling membutuhkan muhasabah ketika hidupnya sedang penuh. Sebab pada saat itulah manusia gampang merasa semuanya baik baik saja, padahal salat mulai ditunda, bacaan Al Qur’an makin jarang, nada bicara di rumah makin tajam, dan pekerjaan dikerjakan hanya demi target tanpa rasa diawasi Allah.

Awal tahun Islam memberi ruang untuk merapikan tiga hal yang paling dekat dengan hidup sehari hari, yaitu diri sendiri, keluarga, dan pekerjaan. Tiga bidang ini tidak berdiri sendiri. Saat diri mulai tertib, rumah ikut tenang. Saat rumah hangat, kerja lebih jujur. Saat pekerjaan halal dan amanah, hati lebih mudah khusyuk dalam ibadah.


Muharram dan ajakan untuk menimbang ulang hidup

Muharram bukan hanya nama bulan. Ia seperti tanda bahwa seorang Muslim tidak boleh hidup dengan cara yang sama terus menerus, lalu heran mengapa hati tidak bertambah bersih. Muharram mengajak kita memulai lagi dengan kesadaran yang lebih matang. Dalam suasana seperti ini, muhasabah menjadi pintu pertama yang patut dibuka.

Muhasabah bukan pekerjaan orang yang putus asa. Muhasabah justru tanda bahwa iman masih hidup. Orang yang masih mau memeriksa dirinya berarti belum menyerah pada kelalaian. Ia belum rela menjadi biasa biasa saja dalam urusan yang menyangkut akhirat.

Ada kalanya manusia sibuk mengevaluasi pengeluaran, omzet, jadwal, dan target, tetapi lupa mengevaluasi hati. Padahal hati adalah pusat dari banyak keputusan. Dari hati lahir niat, lalu niat bergerak menjadi ucapan dan perbuatan. Karena itu, awal tahun Islam layak dimulai bukan dari daftar ambisi yang panjang, melainkan dari keberanian menatap diri sendiri.

“Amal itu bergantung pada niat.”

Kalimat pendek ini terasa sangat penting saat memasuki tahun yang baru. Bisa jadi seseorang tetap rajin bekerja, tetap hadir di banyak kegiatan, tetap terlihat baik di mata orang lain, tetapi niatnya perlahan bergeser. Dari mencari ridha Allah menjadi mencari pujian. Dari melayani keluarga menjadi ingin dianggap paling berjasa. Dari bekerja dengan amanah menjadi sekadar mengejar angka.

Muhasabah awal tahun Islam juga menolong kita membedakan dua hal yang sering tertukar, yaitu bergerak dan bertumbuh. Tidak semua yang sibuk itu sedang membaik. Tidak semua yang ramai itu sedang benar. Ada orang yang hari harinya penuh kegiatan, tetapi justru makin jauh dari adab, makin gampang marah, makin sedikit syukur, dan makin berat menerima nasihat.


Muhasabah untuk diri sendiri dimulai dari hal yang paling sering ditunda

Sebelum berbicara tentang keluarga dan pekerjaan, seseorang harus berani duduk sendirian bersama dirinya. Tidak untuk memuji diri, juga tidak untuk membenci diri, melainkan untuk melihat dengan jernih apa yang selama ini luput disadari. Muhasabah pribadi selalu berat di awal, sebab manusia punya bakat besar untuk memaklumi kesalahannya sendiri.

Periksa ibadah yang mulai longgar tanpa disadari

Kerusakan yang besar sering dimulai dari longgarnya perkara kecil. Salat yang tadinya dijaga di awal waktu mulai mundur. Zikir pagi petang yang dulu rutin mulai jarang. Tilawah yang dulu menjadi teman hari hari mulai tergeser oleh layar ponsel. Sedekah yang dulu ringan mulai terasa berat. Semua itu sering terjadi pelan pelan sampai akhirnya dianggap biasa.

Awal tahun Islam adalah waktu yang baik untuk bertanya dengan jujur:

  1. Apakah salat saya masih dijaga dengan sungguh sungguh
  2. Apakah saya masih punya waktu khusus untuk Al Qur’an
  3. Apakah lisan saya lebih banyak berzikir atau mengeluh
  4. Apakah saya masih mudah menangis saat mengingat dosa
  5. Apakah saya masih punya rasa malu ketika berbuat salah

Pertanyaan seperti ini lebih berguna daripada target yang terlalu tinggi tetapi tidak menyentuh akar masalah. Banyak orang ingin menambah amal, padahal yang lebih mendesak adalah memperbaiki kualitas amal yang sudah ada.

Lihat dosa yang paling sering diberi alasan

Muhasabah yang jujur tidak hanya melihat ibadah yang kurang, tetapi juga melihat dosa yang sering dilindungi dengan pembenaran. Ada yang berkata, saya marah karena capek. Ada yang berkata, saya bicara keras karena mendidik. Ada yang berkata, saya terpaksa berbohong karena tuntutan pekerjaan. Ada pula yang berkata, saya menunda tobat karena masih muda.

Padahal dosa tetap dosa meski dibungkus alasan yang terdengar masuk akal. Awal tahun Islam seharusnya tidak berhenti pada rasa haru sesaat. Ia harus menyentuh wilayah yang lebih dalam, yaitu keberanian memutus kebiasaan yang selama ini terus diulang.

Di antara tanda muhasabah yang sehat adalah ketika seseorang mulai berhenti menyalahkan keadaan untuk menutupi aib dirinya. Ia tidak lagi sibuk menunjuk orang lain. Ia mulai berkata, memang ada yang harus saya benahi. Kalimat itu sederhana, tetapi sangat mahal.

Rapikan niat sebelum menyusun target

Banyak orang suka memulai tahun baru dengan daftar keinginan. Itu tidak salah. Namun seorang Muslim perlu lebih dulu merapikan niat sebelum merapikan target. Sebab target tanpa niat yang lurus hanya akan membuat hati lelah. Dapat capeknya, tetapi tidak dapat tenangnya.

Kalau ingin memperbaiki ibadah, niatkan untuk mencari ridha Allah, bukan supaya terlihat alim. Kalau ingin memperbaiki penampilan rumah tangga, niatkan untuk menjaga amanah, bukan agar tampak harmonis di depan orang. Kalau ingin mengejar rezeki lebih baik, niatkan untuk menafkahi dengan halal, bukan sekadar mengejar gengsi.

Awal tahun Islam mengingatkan bahwa perbaikan sejati selalu dimulai dari dalam. Hati yang lurus akan melahirkan langkah yang lebih bersih. Hati yang penuh riya akan membuat amal kehilangan rasa.


Keluarga adalah cermin yang paling jujur

Sesudah diri sendiri, wilayah muhasabah berikutnya adalah keluarga. Banyak orang terlihat sabar di luar rumah, tetapi mudah meledak di dalam rumah. Banyak yang ramah kepada tamu, tetapi kasar kepada pasangan. Banyak yang dermawan kepada orang lain, tetapi pelit perhatian kepada anak sendiri. Karena itu, rumah adalah tempat paling jujur untuk melihat akhlak seseorang.

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban.”

Hadis ini membuat urusan keluarga tidak bisa dianggap sampingan. Rumah tangga bukan hanya tempat istirahat setelah kerja. Rumah tangga adalah amanah. Di dalamnya ada hati yang perlu dijaga, ada anak yang merekam semua kebiasaan, ada pasangan yang menanggung letih bersama, dan ada suasana yang bisa menjadi ladang pahala atau justru sumber luka.

Suasana rumah sering ditentukan oleh lisan

Muhasabah keluarga bisa dimulai dari satu hal yang sangat dekat, yaitu cara berbicara. Banyak rumah tidak rusak karena kekurangan uang, tetapi karena kehilangan kelembutan. Kalimat sinis, nada merendahkan, kebiasaan membentak, sindiran yang diulang terus, semua itu membuat rumah terasa sesak.

Awal tahun Islam menjadi saat yang baik untuk memeriksa lisan di dalam rumah. Apakah anak lebih sering mendengar pujian atau omelan. Apakah pasangan lebih sering menerima terima kasih atau kritik. Apakah orang tua dihubungi dengan penuh hormat atau hanya saat dibutuhkan.

Orang yang ingin keluarga lebih baik tidak bisa hanya fokus pada kebutuhan materi. Rumah yang diberi makan dengan halal memang penting, tetapi rumah juga perlu diberi kata kata yang menenangkan. Kadang satu kalimat lembut di malam hari lebih menyembuhkan daripada banyak nasihat yang keluar dalam keadaan marah.

Anak belajar dari kebiasaan yang diulang

Anak tidak hanya mendengar nasihat, mereka menyerap suasana. Mereka belajar dari cara ayah pulang ke rumah. Mereka belajar dari cara ibu menyikapi masalah. Mereka belajar dari bagaimana orang tua saling menatap, saling bicara, dan saling menahan diri saat emosi naik.

Karena itu, muhasabah keluarga tidak cukup berhenti pada pertanyaan apakah anak sudah sekolah agama, apakah anak sudah bisa membaca doa, atau apakah anak patuh. Pertanyaan yang lebih dalam adalah, contoh apa yang mereka lihat setiap hari di rumah.

Jika orang tua ingin anak mencintai salat, anak perlu melihat salat bukan hanya sebagai kewajiban, tetapi sebagai sesuatu yang dijaga dengan cinta. Jika orang tua ingin anak berkata jujur, mereka harus melihat kejujuran hidup di rumah. Jika orang tua ingin anak lembut, mereka harus tumbuh dalam lingkungan yang tidak kasar.

Dalam suasana keluarga, menahan amarah juga termasuk bagian penting dari muhasabah. Sebab banyak keretakan lahir bukan dari masalah besar, melainkan dari emosi yang tidak dikendalikan.

Pasangan butuh ditemani, bukan hanya dinafkahi

Dalam rumah tangga, nafkah penting, tetapi kehadiran batin juga penting. Ada pasangan yang tercukupi secara materi, tetapi merasa sendirian. Ada yang serumah, tetapi seperti dua orang yang hanya berbagi alamat. Awal tahun Islam dapat menjadi momen untuk memeriksa ulang hubungan suami istri tanpa saling menunggu siapa yang lebih dulu berubah.

“Sebaik baik kalian adalah yang paling baik kepada istrinya.”

Bagi suami, muhasabah bisa dimulai dari pertanyaan sederhana. Sudahkah ia menjadi tempat aman bagi istrinya untuk bercerita. Sudahkah ia pulang dengan wajah yang ramah. Sudahkah ia meminta maaf saat salah. Sudahkah ia hadir bukan hanya dengan badan, tetapi juga dengan hati.

Bagi istri, muhasabah juga penting. Sudahkah ia menjaga tutur kata. Sudahkah ia menghargai usaha suami. Sudahkah ia merawat suasana rumah dengan kesabaran dan doa. Sudahkah ia membantu menjaga anak bukan hanya tumbuh cerdas, tetapi juga tumbuh beradab.

Rumah tangga yang sehat tidak lahir dari pasangan yang tanpa salah. Ia lahir dari dua orang yang mau terus belajar, mau mengoreksi diri, dan mau menurunkan ego.


Pekerjaan juga perlu diperiksa dengan serius

Banyak orang rajin bekerja, tetapi jarang bermuhasabah dalam urusan pekerjaan. Padahal pekerjaan memakan banyak waktu, tenaga, dan pikiran. Jika bidang ini dibiarkan tanpa pemeriksaan hati, maka sangat mudah bagi seseorang terjerumus pada kebiasaan yang terlihat biasa di lingkungan kerja, tetapi berat di hadapan Allah.

Muhasabah pekerjaan bukan hanya soal apakah penghasilan besar atau kecil. Yang jauh lebih penting adalah apakah penghasilan itu halal, apakah cara meraihnya bersih, dan apakah pekerjaan itu membuat seseorang semakin amanah atau justru semakin cuek terhadap yang haram.

Cek lagi jalan rezeki yang selama ini ditempuh

Ada orang yang gelisah karena merasa rezekinya seret, tetapi lupa mengecek apakah jalannya sudah bersih. Ada yang sibuk mengejar tambahan, tetapi tidak sadar kebiasaan kecil di tempat kerja sudah bermasalah. Misalnya laporan yang tidak jujur, janji yang sengaja diulur, komisi yang tidak terang, waktu kerja yang dicuri, atau pelayanan yang asal asal.

“Sebaik baik makanan adalah dari hasil kerja tangan sendiri.”

Hadis ini memberi pelajaran besar. Islam menghormati kerja yang halal, kerja yang bersih, kerja yang membuat seseorang tidak hidup dari tipu daya. Karena itu, awal tahun Islam layak dipakai untuk menata ulang hubungan kita dengan rezeki. Bukan hanya bertanya berapa yang masuk, tetapi dari mana datangnya dan bagaimana ia dibelanjakan.

Kadang rezeki terasa sempit bukan semata karena jumlahnya kurang, tetapi karena keberkahannya bocor. Penghasilan ada, tetapi rumah tidak tenang. Uang masuk, tetapi hati gelisah. Hasil kerja banyak, tetapi ibadah makin berantakan. Di titik itulah muhasabah pekerjaan menjadi sangat penting.

Kantor, toko, pasar, dan meja kerja adalah ujian amanah

Di tempat kerja, seorang Muslim sedang diuji setiap hari. Ia diuji saat berhadapan dengan waktu. Apakah ia disiplin atau suka menunda. Ia diuji saat memegang data dan uang. Apakah ia jujur atau licin. Ia diuji saat bersaing. Apakah ia tetap adil atau mulai menyingkirkan orang dengan cara kotor.

Pekerjaan yang baik bukan hanya yang menghasilkan, tetapi juga yang menjaga kehormatan diri. Sebab tidak ada gunanya tampak berhasil bila hati rusak. Tidak ada gunanya terlihat naik jabatan bila lidah terbiasa dusta. Tidak ada gunanya omzet meningkat bila rumah dibangun dari hasil yang syubhat.

Muhasabah di bidang ini bisa dimulai dari beberapa pertanyaan:

  1. Apakah saya bekerja sungguh sungguh saat menerima gaji
  2. Apakah saya pernah menunda amanah yang mestinya segera ditunaikan
  3. Apakah saya pernah mengambil yang bukan hak saya
  4. Apakah saya memperlakukan bawahan, rekan, atau pelanggan dengan adil
  5. Apakah pekerjaan saya masih membuat saya ingat Allah

Pertanyaan seperti ini sebaiknya tidak dijawab buru buru. Duduklah tenang. Jawab tanpa pencitraan. Di situ letak pintu pembenahannya.

Jangan biarkan kerja mematikan zikir

Islam tidak memisahkan ibadah dan kerja. Selesai salat, manusia dipersilakan bertebaran di bumi mencari karunia Allah. Namun izin untuk bekerja tidak pernah berarti izin untuk lupa kepada Allah. Justru di tengah aktivitas itulah seorang Muslim diuji, apakah ia masih menjaga dzikir, adab, dan rasa diawasi.

Awal tahun Islam cocok dipakai untuk merancang kebiasaan kerja yang lebih sehat bagi ruh. Misalnya membiasakan doa sebelum mulai bekerja, menjaga salat tepat waktu, tidak menunda utang, tidak menunda upah, menghindari sumpah palsu saat berdagang, dan membiasakan istigfar ketika pekerjaan terasa kusut.

Ada satu hal lagi yang penting. Jangan ukur seluruh hidup hanya dengan pencapaian pekerjaan. Sebab pekerjaan memang penting, tetapi ia bukan satu satunya ukuran mulia. Yang membuat kerja bernilai tinggi di sisi Allah adalah niat yang lurus, cara yang bersih, dan manfaat yang dibawa.


Langkah kecil yang bisa dimulai sejak Muharram

Muhasabah yang baik tidak harus dimulai dari perubahan yang besar. Kadang yang diperlukan hanyalah keputusan yang jujur dan langkah kecil yang dijaga. Orang sering gagal berubah karena ingin langsung sempurna, padahal Islam sangat menghargai amal yang terus dirawat.

“Amal yang paling dicintai Allah adalah yang terus dijaga meski sedikit.”

Karena itu, awal tahun Islam bisa dibuka dengan langkah yang sederhana namun jelas arah. Misalnya menetapkan waktu khusus sepuluh menit setelah Subuh untuk membaca Al Qur’an. Membuat aturan rumah tanpa bentakan. Menyediakan satu malam dalam sepekan untuk berbicara dari hati ke hati dengan pasangan. Menyisihkan sedekah rutin walau kecil. Merapikan utang. Memperbaiki jam salat. Mengurangi kebiasaan menunda.

Bila ingin lebih terarah, seseorang bisa membuat tiga catatan singkat.

  • Pertama, satu kebiasaan buruk yang harus diputus tahun ini.
  • Kedua, satu amal yang harus dijaga terus walau kecil.
  • Ketiga, satu hak orang lain yang harus segera ditunaikan.

Tiga catatan ini terlihat sederhana, tetapi sangat kuat bila dikerjakan dengan jujur. Muhasabah bukan tentang banyaknya kata kata yang menyentuh. Muhasabah adalah keberanian untuk berubah di titik yang paling nyata.

Muharram seharusnya tidak hanya lewat sebagai ucapan selamat tahun baru Islam. Ia patut menjadi waktu untuk membersihkan niat, memperbaiki salat, menenangkan rumah, dan menata rezeki. Dari sana hidup seorang Muslim terasa lebih utuh. Ia tidak hanya ingin tampak baik, tetapi sungguh sungguh ingin pulang kepada Allah dengan keadaan yang lebih bersih daripada sebelumnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *