Oarfish Menurut Islam, Benarkah Jadi Tanda Tsunami dan Bencana?

Islami1430 Views

Oarfish menurut Islam tidak memiliki kedudukan khusus sebagai pertanda tsunami, gempa bumi, kiamat, atau bencana alam lainnya. Tidak ada ayat Al Quran maupun hadis sahih yang secara khusus menyatakan bahwa kemunculan Oarfish menjadi tanda tanda bencana alam. Karena itu, umat Islam tidak seharusnya langsung menganggap kemunculan ikan laut dalam ini sebagai peringatan gaib bahwa tsunami atau gempa besar akan segera terjadi.

Oarfish memang memiliki penampilan yang tidak biasa. Tubuhnya sangat panjang, pipih menyerupai pita, berwarna keperakan, serta memiliki sirip merah mencolok di sepanjang bagian atas tubuh. Ikan ini juga hidup jauh di bawah permukaan laut sehingga manusia jarang melihatnya dalam kondisi hidup.

Keunikan tersebut membuat kemunculan Oarfish sering melahirkan berbagai cerita. Salah satu kepercayaan paling terkenal berasal dari Jepang. Masyarakat mengenal ikan ini dengan sebutan Ryugu no Tsukai atau utusan dari istana dewa laut. Dari cerita itulah muncul anggapan bahwa kemunculan Oarfish di perairan dangkal berkaitan dengan gempa bumi dan tsunami.

Anggapan tersebut kemudian menyebar ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Setiap kali Oarfish terlihat di pantai atau tertangkap nelayan, pertanyaan mengenai Oarfish tanda tanda tsunami biasanya langsung bermunculan.

Namun, penelitian serta penjelasan lembaga kebencanaan tidak mendukung anggapan bahwa ikan ini dapat berfungsi sebagai alat prediksi gempa.

Sekilas Tentang Oarfish yang Dijuluki Ikan Kiamat

Oarfish merupakan ikan laut dalam dari famili Regalecidae yang memiliki tubuh panjang menyerupai pita dan dapat tumbuh hingga lebih dari 10 meter. Habitatnya berada pada perairan laut dalam sehingga perjumpaan dengan manusia tergolong langka.

Oarfish termasuk ikan bertulang dengan ukuran tubuh paling panjang. Meskipun bentuknya terlihat menyeramkan, makanan utamanya justru organisme kecil seperti plankton, krill, dan hewan laut berukuran kecil.

Ikan ini dapat hidup pada kedalaman ratusan meter. Beberapa literatur mencatat Oarfish dapat ditemukan hingga sekitar 1.000 meter di bawah permukaan laut. Karena itu, kemunculannya di pantai menjadi kejadian yang tidak biasa dan mudah memancing perhatian.

Ketika tubuh panjang berwarna perak itu muncul di permukaan, masyarakat yang tidak pernah melihatnya tentu merasa penasaran. Foto serta video kemudian menyebar melalui media sosial dengan julukan seperti ikan kiamat, ikan pembawa gempa, hingga ikan pembawa tsunami.

Padahal, julukan tersebut berasal dari budaya populer dan cerita rakyat. Ilmu kelautan tidak menggunakan istilah ikan kiamat untuk menjelaskan Oarfish.


Oarfish Menurut Islam, Apakah Pertanda Bencana?

Islam tidak mengajarkan bahwa Oarfish merupakan pertanda datangnya gempa, tsunami, atau musibah. Tidak ada dalil khusus yang menghubungkan ikan tersebut dengan kejadian bencana.

Dalam Islam, manusia boleh mempelajari perubahan perilaku hewan untuk kepentingan ilmu pengetahuan. Penelitian mengenai migrasi burung, perilaku ikan, perubahan cuaca, hingga aktivitas geologi tidak bertentangan dengan ajaran agama.

Namun, persoalannya berbeda ketika seseorang memberikan kemampuan gaib kepada suatu hewan tanpa dasar yang jelas.

Misalnya, seseorang melihat Oarfish terdampar lalu langsung menyatakan bahwa wilayah tersebut pasti mengalami tsunami beberapa hari kemudian. Pernyataan seperti itu memerlukan bukti yang kuat.

Jika tidak ada bukti ilmiah atau dalil agama, umat Islam perlu berhati hati agar tidak mengubah dugaan menjadi keyakinan.

Hadis Tentang Pertanda Sial dalam Islam

Ajaran Islam memberikan perhatian serius terhadap kebiasaan manusia menghubungkan makhluk tertentu dengan kesialan.

Majelis Ulama Indonesia menjelaskan bahwa menganggap waktu, tempat, atau makhluk tertentu membawa kesialan termasuk pembahasan tathayyur. Rasulullah SAW juga mengingatkan umat agar tidak menggantungkan keyakinan kepada pertanda seperti itu.

Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak ada penyakit menular dengan sendirinya, tidak ada kesialan, tidak ada burung hantu yang membawa nasib buruk, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar.” HR Bukhari dan Muslim.

Hadis tersebut memang tidak membahas Oarfish secara langsung. Namun, prinsipnya dapat membantu umat Islam ketika menghadapi anggapan bahwa hewan tertentu membawa kesialan.

Seekor Oarfish tetap merupakan makhluk Allah yang memiliki habitat, sistem tubuh, pola makan, dan perilaku biologis.

Karena itu, kemunculan ikan tersebut sebaiknya menjadi bahan penelitian, bukan langsung berubah menjadi keyakinan tentang datangnya musibah.


Apakah Oarfish Tanda Tanda Tsunami?

Belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa Oarfish tanda tanda tsunami atau alat pendeteksi gempa bumi. BMKG juga pernah menegaskan bahwa kemunculan Oarfish di perairan dangkal tidak berarti gempa besar akan segera terjadi.

Kepercayaan tersebut sebagian besar berasal dari Jepang. Dalam cerita masyarakat setempat, ikan laut dalam dianggap lebih peka terhadap aktivitas dari dasar laut.

Teori itu kemudian terdengar masuk akal bagi sebagian orang karena Oarfish hidup jauh di bawah permukaan.

Namun, sesuatu yang terdengar masuk akal belum tentu terbukti secara statistik.

Penelitian terhadap berbagai penampakan ikan laut dalam di Jepang tidak menemukan hubungan konsisten antara kemunculan ikan dan gempa besar. Peneliti membandingkan ratusan laporan penampakan ikan dengan catatan gempa selama beberapa dekade.

Hasilnya tidak mendukung penggunaan Oarfish sebagai alat prediksi gempa.

BMKG juga menyampaikan penjelasan serupa ketika Oarfish muncul di Kepulauan Selayar pada 2019. Menurut BMKG, penelitian statistik menunjukkan ikan laut dalam yang muncul di perairan dangkal tidak berarti gempa akan segera terjadi.

Mengapa Oarfish Bisa Muncul ke Permukaan?

Ada sejumlah alasan biologis dan oseanografis yang dapat membuat Oarfish meninggalkan habitat laut dalam.

Salah satunya adalah kondisi tubuh ikan.

Oarfish yang sakit, cedera, tua, atau kehilangan kemampuan berenang dapat terbawa arus hingga mencapai perairan dangkal. Brida NTB menjelaskan bahwa penurunan kondisi fisik dapat membuat Oarfish tidak mampu melawan arus laut sehingga akhirnya bergerak menuju pesisir.

Beberapa faktor yang dapat ikut memengaruhi kemunculan ikan laut dalam antara lain:

  1. Kondisi kesehatan ikan yang memburuk
  2. Cedera fisik
  3. Usia ikan
  4. Perubahan temperatur air laut
  5. Pergerakan arus bawah laut
  6. Fenomena upwelling
  7. Gangguan lingkungan laut
  8. Perubahan ketersediaan makanan

Fenomena upwelling juga menjadi salah satu penjelasan yang pernah disampaikan BMKG. Upwelling terjadi ketika massa air dingin dari lapisan lebih dalam bergerak menuju permukaan. Pergerakan air tersebut dapat membawa organisme laut dalam ke lapisan yang lebih dangkal.


Daftar Wilayah Indonesia yang Pernah Ada Penampakan Oarfish

Berdasarkan laporan media dan keterangan lembaga yang dapat diverifikasi, penampakan Oarfish di Indonesia tercatat jelas di Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan dan Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.

Daftar tersebut tidak berarti Oarfish hanya hidup di dua wilayah tersebut. Laut Indonesia sangat luas dan memiliki banyak perairan dalam. Namun, laporan penampakan Oarfish yang memiliki lokasi, waktu, saksi, foto, serta keterangan pejabat atau lembaga terkait masih relatif terbatas.

Karena itu, daftar berikut berfokus pada kejadian yang memiliki dokumentasi jelas.

1. Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan

Salah satu penampakan Oarfish paling terkenal di Indonesia terjadi di perairan Kepulauan Selayar pada Desember 2019.

Nelayan bernama Haerul bersama beberapa rekannya menemukan Oarfish dengan panjang lebih dari empat meter ketika melaut di sekitar Selayar. Ikan tersebut muncul pada Minggu, 8 Desember 2019.

Lokasi penemuannya berada sekitar tujuh hingga delapan mil di sebelah timur Pelabuhan Pamatata, Kepulauan Selayar.

Kemunculan ikan tersebut langsung menjadi perbincangan karena sebagian masyarakat menghubungkannya dengan potensi gempa dan tsunami.

BMKG kemudian memberikan penjelasan bahwa penampakan tersebut bukan tanda akan terjadi gempa besar atau tsunami.

Menariknya, pemerintah daerah Selayar pada waktu itu juga menyampaikan bahwa laporan mengenai ikan serupa bukan sesuatu yang sepenuhnya asing bagi nelayan lokal.

Bupati Kepulauan Selayar saat itu, M Basli Ali, mengatakan nelayan setempat mengaku pernah menjumpai ikan tersebut. Bahkan, menurut laporan masyarakat yang ia terima, ikan seperti Oarfish hampir setiap tahun masih dapat tertangkap ketika nelayan memancing di kedalaman sekitar 100 sampai 300 meter.

Keterangan tersebut menjadikan perairan Selayar salah satu wilayah Indonesia yang paling menarik untuk penelitian mengenai keberadaan Oarfish.

2. Pantai Pink, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat

Penampakan terbaru yang mendapat perhatian besar terjadi di Pantai Pink, Desa Sekaroh, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur.

Seekor Oarfish dengan panjang sekitar empat meter ditemukan dalam kondisi mati pada Selasa, 25 Agustus 2026 sekitar pukul 07.30 WITA. Pengunjung pantai menemukan ikan tersebut di kawasan pesisir sebelum foto dan videonya menyebar luas di media sosial.

Penemuan tersebut kembali memunculkan julukan ikan kiamat.

Sebagian pengguna media sosial menghubungkannya dengan aktivitas gempa yang terjadi di kawasan Nusa Tenggara beberapa waktu sebelumnya.

Namun, Badan Riset dan Inovasi Daerah NTB menyatakan kemunculan Oarfish tersebut merupakan peristiwa alamiah dan bukan penanda bencana.

Brida NTB menjelaskan bahwa ikan yang sakit, mengalami cedera, atau berusia tua dapat kehilangan kemampuan berenang dengan baik. Ketika kondisi tubuhnya melemah, arus laut dapat membawa ikan menuju perairan dangkal hingga akhirnya terdampar.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan NTB juga menyebut kemunculan Oarfish di NTB termasuk peristiwa yang sangat langka. Perubahan suhu serta kondisi perairan Samudra Hindia menjadi salah satu faktor yang mendapat perhatian.

Apakah Ada Penampakan Oarfish di Wilayah Indonesia Lain?

Ada banyak unggahan internet yang mengklaim kemunculan ikan panjang sebagai Oarfish di sejumlah pantai Indonesia. Namun, tidak semuanya memiliki identifikasi spesies yang jelas.

Hal ini penting karena Indonesia memiliki beberapa jenis ikan dengan tubuh panjang yang sekilas menyerupai Oarfish.

Ikan layur, ribbonfish, hingga beberapa ikan laut dalam lain dapat terlihat mirip dalam foto yang memiliki kualitas rendah.

Karena itu, tidak tepat memasukkan setiap foto ikan panjang yang viral sebagai penampakan Oarfish.

Berdasarkan laporan yang memiliki dokumentasi kuat, Kepulauan Selayar dan Lombok Timur menjadi dua wilayah yang memiliki catatan paling jelas. Catatan ini dapat bertambah apabila penelitian, dokumentasi kelautan, atau laporan resmi menemukan kejadian lain.


Mengapa Oarfish Dijuluki Ikan Kiamat?

Julukan ikan kiamat berasal dari cerita rakyat dan budaya populer, bukan dari Al Quran, hadis, atau istilah ilmu kelautan.

Di Jepang, Oarfish dikenal sebagai Ryugu no Tsukai. Terjemahannya kurang lebih berarti utusan dari istana dewa laut.

Cerita mengenai ikan tersebut berkembang selama ratusan tahun. Ketika Oarfish muncul di pesisir, sebagian masyarakat menganggapnya membawa pesan dari laut dalam.

Kemudian muncul beberapa kejadian ketika ikan laut dalam terlihat sebelum aktivitas gempa. Peristiwa seperti itu memperkuat kepercayaan masyarakat meskipun hubungan sebab akibatnya belum terbukti.

Media modern kemudian memakai istilah seperti doomsday fish atau ikan kiamat karena terdengar menarik dan mudah menarik perhatian pembaca.

Julukan tersebut akhirnya menyebar jauh melampaui Jepang.

Di Indonesia, istilah ikan kiamat kembali ramai ketika Oarfish muncul di Selayar pada 2019 dan Lombok Timur pada 2026.

Namun, penggunaan nama ikan kiamat tidak berarti agama Islam mengakui ikan tersebut sebagai tanda kiamat.

Tanda Tanda Bencana Alam yang Lebih Penting untuk Diketahui

Masyarakat pesisir sebaiknya mengenali tanda tanda tsunami yang telah mendapat dasar ilmu kebencanaan daripada menunggu kemunculan Oarfish.

Ketika gempa kuat terjadi di wilayah pantai, masyarakat perlu segera meningkatkan kewaspadaan.

Jangan menunggu muncul ikan, perubahan perilaku burung, atau kabar viral di media sosial sebelum bergerak menuju tempat aman.

Beberapa tanda yang perlu mendapat perhatian antara lain:

  1. Gempa terasa sangat kuat
  2. Guncangan berlangsung cukup lama
  3. Air laut tiba tiba surut jauh
  4. Terdengar suara gemuruh dari arah laut
  5. Sirene peringatan tsunami berbunyi
  6. BMKG mengeluarkan peringatan dini
  7. Petugas meminta masyarakat melakukan evakuasi

Pada kondisi tertentu, gempa kuat yang terasa di pesisir sudah cukup menjadi alasan untuk melakukan evakuasi mandiri.

Masyarakat juga perlu mengetahui jalur menuju dataran tinggi, titik kumpul, serta lokasi evakuasi terdekat.


Apakah Mempercayai Oarfish sebagai Pertanda Bertentangan dengan Islam?

Menganggap Oarfish memiliki kekuatan sendiri untuk menentukan atau membawa bencana tidak sesuai dengan prinsip keyakinan dalam Islam.

Islam mengajarkan bahwa seluruh makhluk berada dalam kekuasaan Allah.

Namun, Islam juga tidak melarang manusia mempelajari hubungan antara perilaku hewan dan fenomena alam melalui penelitian.

Perbedaannya terletak pada dasar keyakinannya.

Jika seorang ilmuwan meneliti apakah perubahan tekanan, temperatur air, atau aktivitas geologi memengaruhi ikan laut dalam, penelitian tersebut merupakan kegiatan ilmiah.

Sebaliknya, jika seseorang langsung berkata bahwa melihat Oarfish berarti tsunami pasti datang, ia telah membuat kepastian tanpa dasar yang cukup.

Inilah alasan mengapa informasi agama dan ilmu pengetahuan perlu berjalan secara hati hati.

Oarfish Boleh Menjadi Objek Penelitian, Bukan Sumber Ramalan

Perilaku hewan memang menarik untuk dipelajari.

Beberapa hewan memiliki kemampuan mendeteksi suara, getaran, perubahan tekanan, medan magnet, atau perubahan lingkungan yang sulit manusia rasakan.

Karena itu, para ilmuwan tetap dapat meneliti apakah organisme laut dalam menunjukkan perubahan perilaku tertentu ketika kondisi lingkungan berubah.

Namun, penelitian berbeda dengan ramalan.

Untuk menyatakan suatu hewan dapat menjadi indikator gempa, peneliti membutuhkan data dalam jumlah besar, pola yang konsisten, pengujian berulang, serta tingkat keberhasilan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Oarfish belum memenuhi syarat tersebut sebagai alat prediksi gempa.

Oarfish Muncul di Pantai, Apa yang Sebaiknya Dilakukan?

Jika masyarakat menemukan Oarfish terdampar, hal pertama yang perlu dilakukan bukan menyebarkan kabar bahwa tsunami akan datang.

Dokumentasikan penemuan tersebut dengan aman.

Catat lokasi, waktu, perkiraan panjang ikan, kondisi tubuh, dan keadaan perairan. Informasi tersebut dapat membantu petugas atau peneliti mempelajari spesies laut dalam.

Masyarakat juga dapat menghubungi petugas kelautan atau instansi setempat apabila menemukan ikan langka.

Jangan langsung mengonsumsi ikan yang ditemukan mati karena tidak diketahui berapa lama ikan tersebut sudah mati atau bagaimana kondisi kesehatannya.

Jika pada saat bersamaan terjadi gempa kuat, ikuti protokol kebencanaan berdasarkan gempa tersebut, bukan karena keberadaan ikan.


Jangan Langsung Sebarkan Klaim Oarfish Tanda Tsunami

Foto Oarfish memiliki peluang besar menjadi viral karena bentuknya sangat unik. Sayangnya, judul seperti “ikan kiamat muncul, tsunami segera datang” juga mudah membuat masyarakat panik.

Sebelum menyebarkan informasi, periksa apakah klaim tersebut berasal dari BMKG, lembaga kelautan, peneliti, atau sekadar unggahan media sosial.

Masyarakat juga perlu membedakan antara kalimat “Oarfish ditemukan” dengan “Oarfish memprediksi gempa”.

  • Kalimat pertama dapat berupa fakta berdasarkan penemuan.
  • Kalimat kedua membutuhkan bukti ilmiah yang jauh lebih kuat.
  • Dari sisi Islam, sikap tersebut juga membantu umat menghindari keyakinan terhadap pertanda yang tidak memiliki dasar.

Keberadaan Oarfish di Kepulauan Selayar maupun Lombok Timur menunjukkan betapa luas dan uniknya kehidupan laut Indonesia. Fenomena tersebut layak diteliti dan dipelajari, tetapi tidak dapat menjadi dasar untuk memastikan datangnya tsunami, gempa, atau tanda tanda bencana alam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *