Dalam obrolan sehari hari, kata jumawa sering dipakai untuk menggambarkan seseorang yang “tinggi hati”, merasa paling benar, atau memandang orang lain seperti tak ada apa apanya. Sikap ini kadang hadir halus lewat gestur dan cara bicara, kadang muncul terang terangan lewat ucapan yang merendahkan. Islam memandang jumawa bukan sekadar masalah etika sosial, tetapi penyakit hati yang bisa mengganggu kualitas iman dan merusak amal tanpa disadari.
Di tengah hidup yang serba kompetitif, jumawa sering terasa “wajar” karena dibungkus prestasi, pengaruh, jabatan, dan validasi. Padahal, semakin tinggi seseorang merasa dirinya, semakin tipis ruang untuk menerima kebenaran, dan semakin sulit baginya melihat nikmat Allah dengan jernih. Di situlah Islam menempatkan jumawa sebagai sesuatu yang harus diwaspadai, dilawan, dan diobati.
Jumawa dalam Bahasa Sehari hari, Bagaimana Islam Menyebutnya
Jumawa dalam pemahaman umum dekat dengan makna sombong, angkuh, congkak, dan kecenderungan merasa lebih tinggi dibanding orang lain. Dalam istilah Islam, sikap ini sering berkaitan dengan beberapa penyakit hati seperti kibr atau kesombongan, takabbur atau membesarkan diri, dan ujub atau kagum pada diri sendiri. Bedanya tipis, tetapi dampaknya bisa sama sama menumpuk dosa dan mengikis ketulusan.
Salah satu hal penting dalam ajaran Islam adalah, penyakit hati itu sering tidak terasa seperti dosa “besar” di mata manusia. Orang yang jumawa bisa tetap rajin ibadah, tetap terlihat sopan, bahkan tetap dipuji. Namun saat kesombongan sudah menetap, perilaku kecil pun berubah menjadi sinyal: sulit dikritik, mudah meremehkan, dan selalu ingin dianggap paling pantas diprioritaskan.
Kibr dan Takabbur: Kesombongan yang Menolak Kebenaran
Di dalam Islam, kesombongan bukan sekadar “tampil percaya diri”. Rasulullah SAW menjelaskan definisi yang sangat tegas: kesombongan itu bukan soal baju bagus atau penampilan rapi, melainkan sikap batin yang menolak kebenaran dan merendahkan orang lain. Dalam hadis riwayat Muslim, Nabi SAW menyebutkan:
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walau sebesar biji sawi.”
Para sahabat bertanya tentang orang yang suka pakaian bagus. Nabi menjawab, “Allah itu indah dan menyukai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”
Kalimat “menolak kebenaran” itu kuncinya. Ada orang yang jumawa bukan karena ia selalu menghina terang terangan, tetapi karena ia sulit menerima nasihat, sulit mengakui salah, dan merasa dirinya tidak perlu dikoreksi. Inilah bentuk takabbur yang sering tampak “rapi” di permukaan, tetapi kacau di dalam.
Ujub: Kagum pada Diri Sendiri yang Diam diam Merusak
Kalau takabbur sering terlihat dalam relasi dengan orang lain, ujub sering bermula dari relasi seseorang dengan dirinya sendiri. Ujub adalah rasa kagum berlebihan pada diri: merasa paling hebat, paling saleh, paling berjasa, atau paling berjaya. Ujub ini licin. Ia bisa masuk lewat prestasi kerja, pencapaian akademik, keberhasilan bisnis, bahkan amalan ibadah.
Awalnya seseorang bersyukur, lalu perlahan berubah jadi merasa “ini karena aku”. Saat ujub menguat, kalimat sederhana seperti “aku memang beda” atau “aku sudah level atas” menjadi bibit jumawa.
Dalil Al Quran yang Mengingatkan Bahaya Jumawa
Al Quran tidak hanya melarang kesombongan, tetapi juga menggambarkan bagaimana jumawa muncul lewat gaya hidup dan cara seseorang memperlakukan orang lain. Yang menarik, Al Quran menegur bukan hanya tindakan besar, tetapi juga bahasa tubuh dan perilaku kecil yang menjadi pintu awal kesombongan.
Larangan ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang sangat menjaga kebersihan hati. Sebab, hati yang jumawa sulit menerima hidayah, dan amal yang dilakukan dengan rasa tinggi diri bisa kehilangan nilai di sisi Allah.
Nasihat Luqman: Jangan Memalingkan Wajah dan Jangan Berjalan Angkuh
Dalam Surah Luqman ayat 18, Allah memberi gambaran yang sangat manusiawi tentang kesombongan: memalingkan wajah saat berbicara, dan berjalan dengan gaya angkuh seolah paling berkuasa.
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia karena sombong, dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang orang yang sombong lagi membanggakan diri.”
(QS Luqman: 18)
Ayat ini terasa dekat dengan kehidupan sekarang. Kadang kesombongan bukan berupa teriakan, tetapi berupa tatapan yang meremehkan, respons dingin yang sengaja, atau sikap mengabaikan seolah lawan bicara tidak layak dihargai.
Larangan Membawa Gaya Kuasa: Jangan Melangkah di Bumi dengan Sombong
Allah juga mengingatkan manusia agar tidak berjalan di bumi dengan gaya sombong, karena manusia tidak akan pernah benar benar “besar” di hadapan ciptaan Allah. Surah Al Isra ayat 37 menegur kesombongan dengan kalimat yang kuat.
“Dan janganlah engkau berjalan di bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung.”
(QS Al Isra: 37)
Ada pesan tajam di sini: manusia boleh punya target tinggi, boleh bekerja keras, boleh menjadi hebat, tetapi jangan sampai gaya hidupnya berubah menjadi simbol keangkuhan. Karena sejatinya, manusia tetap makhluk lemah yang bergantung pada rahmat Allah.
Iblis dan Awal Mula Kejatuhan Karena Takabbur
Salah satu kisah paling serius tentang kesombongan adalah kisah Iblis. Ia jatuh bukan karena kekurangan pengetahuan, melainkan karena takabbur. Ketika diperintah sujud penghormatan kepada Adam, Iblis menolak, lalu Allah menegaskan bahwa kesombongan itu mengantarkan pada kehinaan.
“… maka sujudlah mereka kecuali Iblis, ia enggan dan takabur, maka ia termasuk golongan orang orang yang kafir.”
(QS Al Baqarah: 34)
Kisah ini seperti alarm besar. Jika makhluk yang dulu berada di posisi mulia bisa jatuh karena kesombongan, maka manusia pun bisa tergelincir kapan saja, terutama saat merasa dirinya “lebih” dari orang lain.

Hadis Nabi yang Membuka Topeng Kesombongan
Hadis hadis Nabi SAW sering menjelaskan penyakit hati dengan bahasa yang tegas, tetapi tetap sangat realistis. Nabi tidak mengajarkan umatnya untuk tampil “kumuh” agar tidak sombong, tetapi mengajarkan cara membedakan antara keindahan yang dicintai Allah dan kesombongan yang dibenci Allah.
Pesan ini penting karena banyak orang keliru: mengira sombong itu sekadar tampil mewah. Padahal sombong itu urusan sikap batin terhadap kebenaran dan manusia.
Biji Sawi yang Mengunci Pintu Surga
Hadis tentang “biji sawi” bukan untuk membuat orang putus asa, tetapi untuk menegaskan bahwa kesombongan sekecil apa pun tidak boleh dipelihara.
“Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya ada kesombongan walau sebesar biji sawi.”
(HR Muslim)
Kalau dibawa ke kehidupan sehari hari, kesombongan itu bisa berupa satu kalimat meremehkan, satu kebiasaan menganggap remeh profesi orang lain, atau satu sikap enggan meminta maaf karena merasa “gengsi”.
Allah Itu Indah, Tapi Bukan Alasan Pamer
Ada orang yang sengaja menolak tampil rapi karena takut sombong. Padahal Nabi justru meluruskan: memakai baju bagus itu bukan otomatis sombong. Yang menjadi sombong adalah ketika kita menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.
“Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan…”
lalu Nabi menegaskan hakikat sombong sebagai “menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”
Artinya, masalahnya bukan pada barangnya, tetapi pada hati yang merasa “aku lebih tinggi”. Ada orang sederhana tapi jumawa, ada juga orang berpunya tetapi tawadhu dan lembut.
Bagaimana Jumawa Tumbuh di Dalam Diri Seseorang
Jumawa jarang lahir tiba tiba. Biasanya ia tumbuh pelan, diberi makan oleh pujian, dibanding bandingkan, dan keberhasilan yang tidak dibarengi rasa syukur. Kadang ia muncul karena luka batin juga, yaitu saat seseorang merasa harus terlihat unggul agar tidak diremehkan, lalu berubah menjadi kebiasaan meremehkan.
Yang membuatnya berbahaya, jumawa sering terasa seperti “pembelaan diri”, padahal sebenarnya sedang mengunci hati dari ketulusan.
Merasa Lebih Tahu dan Lebih Benar
Salah satu wajah jumawa yang paling sering muncul di era media sosial adalah merasa paling paham, paling lurus, paling cerdas. Ketika diskusi berubah menjadi ajang mempermalukan orang lain, saat itulah kesombongan mulai memimpin.
Orang yang jumawa juga sering sulit berkata, “saya belum tahu”, “saya salah”, atau “terima kasih sudah mengingatkan”. Ia seperti alergi koreksi. Padahal, menerima nasihat adalah tanda hati yang hidup.
Harta, Jabatan, dan Popularitas yang Menggoda
Kekayaan dan status sosial tidak otomatis buruk, tetapi bisa menjadi pintu jumawa ketika seseorang memakainya untuk menekan orang lain. Saat seseorang mulai mengukur harga diri dengan isi rekening, jabatan, atau jumlah pengikut, maka ia sedang menyiapkan panggung bagi kesombongan.
Kisah orang yang merasa “aku berhasil karena aku” selalu relevan, karena manusia memang gampang lupa bahwa rezeki bukan semata hasil kerja keras, melainkan ada izin Allah di baliknya.
Kesalehan yang Berubah Jadi Panggung
Ini bagian yang paling halus. Ada orang yang awalnya ingin istiqamah, tetapi perlahan merasa dirinya “lebih suci” karena ibadahnya. Ujub bisa menyusup lewat rasa bangga pada amal, sampai akhirnya seseorang mulai menghakimi orang lain dan lupa bahwa hidayah itu murni karunia Allah.
“Yang membuat saya ngeri itu bukan orang yang jatuh karena dosa besar, tapi orang yang merasa sudah selamat karena merasa dirinya paling taat.”
Tanda Tanda Jumawa yang Sering Tidak Disadari
Tidak semua kesombongan tampil kasar. Banyak yang halus seperti parfum, tidak terlihat tetapi aromanya terasa. Beberapa tanda yang sering muncul antara lain:
- Sulit menerima kritik, walau kritiknya disampaikan lembut.
- Merasa tersinggung saat dinasihati, seolah dinasihati itu penghinaan.
- Senang membandingkan diri, dan selalu ingin unggul.
- Meremehkan profesi, latar belakang, atau kemampuan orang lain.
- Gampang menyela pembicaraan karena merasa pendapatnya paling penting.
- Menolak meminta maaf, karena gengsi lebih besar dari kebenaran.
- Senang menceritakan keberhasilan dengan tujuan menjatuhkan orang lain.
Tanda tanda ini bukan untuk menuduh orang lain, tetapi untuk mengukur diri sendiri. Karena jumawa paling berbahaya justru ketika kita merasa “aku tidak mungkin sombong”.
Jumawa Bisa Merusak Iman dan Memecahkan Hubungan Sosial
Kesombongan itu bukan hanya dosa batin. Ia punya dampak sosial yang nyata. Orang yang jumawa sulit dicintai dengan tulus, karena kehadirannya sering membuat orang lain merasa kecil. Akhirnya, ia mudah kehilangan teman, sulit dipercaya, dan sering memantik konflik.
Dalam skala iman, kesombongan membuat seseorang berat menerima kebenaran. Ini yang paling mengerikan, karena orang bisa jauh dari Allah bukan karena kurang ibadah, tetapi karena hatinya tertutup oleh rasa tinggi diri.
Bedakan Izzah dan Percaya Diri dengan Jumawa
Islam tidak mengajarkan umatnya menjadi rendah diri yang rapuh. Islam mengajarkan izzah, yaitu kemuliaan diri karena iman, bukan karena merasa paling hebat. Percaya diri yang sehat membuat seseorang tenang dan produktif, sedangkan jumawa membuat seseorang gelisah karena selalu butuh pembuktian dan pengakuan.
Perbedaannya bisa terasa dari sikap:
- Percaya diri membuat seseorang menghargai orang lain.
- Jumawa membuat seseorang merasa orang lain tidak penting.
- Izzah membuat seseorang tegas pada prinsip tanpa merendahkan.
- Takabbur membuat seseorang keras dan suka menjatuhkan.
Cara Mengobati Jumawa Menurut Tradisi Ulama
Mengobati jumawa tidak cukup dengan teori. Ia butuh latihan batin yang konsisten. Para ulama sering menekankan muhasabah, memperbanyak syukur, dan menundukkan ego lewat amal amal yang melatih rendah hati.
Obatnya tidak instan. Ia perlu kebiasaan baru yang menundukkan hati.
Mengingat Asal Usul dan Ujung Hidup
Obat pertama yang sering direkomendasikan adalah mengingat asal usul manusia. Kita lahir dari keadaan lemah, dan akan kembali ke tanah. Sehebat apa pun gelar dan kekayaan, semuanya akan selesai saat ruh dicabut.
Ketika seseorang rajin mengingat kematian, ia biasanya lebih mudah tawadhu. Karena ia sadar, yang pantas dibanggakan hanyalah rahmat Allah, bukan kehebatan diri.
Menghidupkan Syukur dan Mengakui Nikmat Allah
Syukur adalah lawan utama ujub. Saat seseorang berkata dalam hati, “ini semua karunia Allah”, maka ego pelan pelan turun. Syukur juga membuat kita lebih lembut pada orang lain, karena kita sadar: kalau Allah berkehendak, posisi bisa bertukar kapan saja.
Yang menarik, orang yang benar benar bersyukur biasanya tidak sibuk menunjukkan dirinya hebat. Ia sibuk menjaga nikmat itu agar tetap berkah.
Memperbanyak Muhasabah dan Minta Nasihat
Muhasabah itu bukan menyesali diri berlebihan, tetapi menilai diri dengan jujur. Kadang kita perlu bertanya pada orang terdekat: “Aku akhir akhir ini terasa lebih keras tidak?” atau “Kalau aku salah, tolong ingatkan.”
Orang yang mau dinasihati adalah orang yang hatinya masih hidup. Sebaliknya, orang yang alergi nasihat sering sedang dijaga oleh ego yang rapuh.
Latihan Tawadhu dalam Praktik Harian
Tawadhu bukan sekadar kata. Ia latihan harian yang bisa dilakukan lewat hal kecil:
- Membiasakan menyapa lebih dulu.
- Mengucapkan terima kasih bahkan untuk hal sederhana.
- Mengakui kesalahan tanpa drama.
- Memberi ruang orang lain bersinar tanpa merasa terancam.
- Berdoa diam diam agar orang yang kita iri itu diberkahi.
Tawadhu yang konsisten membuat hati terasa lebih ringan. Sebab kita tidak lagi sibuk membuktikan apa apa.
Doa dan Bacaan yang Bisa Diamalkan agar Dijauhkan dari Takabbur
Selain memperbaiki sikap, Islam juga mengajarkan untuk meminta perlindungan kepada Allah, karena penyakit hati sering lebih kuat dari logika. Ada doa yang bisa dibaca agar dijauhkan dari sifat sombong, dan ada juga doa Nabi Musa yang disebut dalam Al Quran.
اَعُوْذُ بِكَ مِنْ بَطَرِ الْغِنَى وَمَذَلَةِ الْفَقْرِ
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Mu dari menyombongkan diri karena kaya dan dari kehinaan karena miskin…”
Lalu ada doa Nabi Musa yang sangat tegas:
وَقَالَ مُوْسٰىٓ اِنِّيْ عُذْتُ بِرَبِّيْ وَرَبِّكُمْ مِّنْ كُلِّ مُتَكَبِّرٍ لَّا يُؤْمِنُ بِيَوْمِ الْحِسَابِ
“Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari berhisab.”
Doa doa ini bukan sekadar bacaan. Ia adalah cara untuk menampar ego dengan lembut, setiap kali hati mulai naik dan merasa paling pantas.
“Kalau suatu hari kita merasa paling hebat, mungkin itu tanda bahwa kita sedang paling butuh sujud yang panjang.”






