5 Masjid Tertua di Medan yang Menjadi Jejak Sejarah Islam di Sumatera Utara

Wisata2906 Views

Kota Medan bukan hanya dikenal sebagai pusat ekonomi dan budaya di Sumatera Utara, tetapi juga memiliki sejarah panjang perkembangan Islam. Hal ini terlihat dari keberadaan masjid-masjid tua yang menjadi saksi perjalanan dakwah Islam sejak berabad-abad lalu. Beberapa masjid masih berdiri kokoh dengan arsitektur megah khas Melayu Deli, menjadi bukti betapa Islam tumbuh subur di tanah ini.

Sebagai penulis, saya melihat masjid-masjid tua di Medan tidak hanya sekadar tempat ibadah, tetapi juga warisan sejarah dan budaya yang harus dijaga. โ€œBerdiri di dalam masjid tua Medan, saya merasa seakan sedang menapaki kembali jejak para ulama dan sultan yang dulu berjuang menyebarkan Islam di tanah Sumatera,โ€ begitu pendapat pribadi saya ketika pertama kali berkunjung.


Masjid Raya Al Mashun

Masjid Raya Al Mashun adalah ikon utama Kota Medan sekaligus salah satu masjid tertua medan dan termegah di Sumatera Utara. Dibangun pada tahun 1906 oleh Sultan Maโ€™mun Al Rasyid Perkasa Alam dari Kesultanan Deli, masjid ini memadukan arsitektur Timur Tengah, India, dan Spanyol.

Sejarah Pembangunan

Masjid ini dulunya menjadi pusat kegiatan keagamaan sekaligus simbol kejayaan Kesultanan Deli. Sultan Maโ€™mun mengundang arsitek Belanda dan seniman dari berbagai negara untuk merancang bangunannya.

Keunikan Arsitektur

Bangunan utama berbentuk segi delapan dengan kubah besar berwarna hitam yang khas. Interiornya dihiasi marmer Italia, kaca patri dari Cina, serta lampu gantung kristal dari Prancis.

Suasana Ibadah

Hingga kini, Masjid Raya Al Mashun tetap menjadi pusat kegiatan umat Islam Medan. Ribuan jamaah memadati masjid ini setiap Jumat dan hari besar Islam.


Masjid Lama Gang Bengkok

Masjid Lama Gang Bengkok mungkin tidak sebesar Masjid Raya Al Mashun, tetapi sejarahnya tidak kalah penting. Masjid ini dibangun pada pertengahan abad ke-19 atas dukungan seorang pedagang Tionghoa Muslim bernama Tjong A Fie.

Jejak Akulturasi Budaya

Masjid ini unik karena memadukan budaya Melayu, Arab, dan Tionghoa dalam satu bangunan. Hal itu mencerminkan keharmonisan antar etnis di Medan sejak dahulu.

Nilai Sejarah

Masjid ini sempat menjadi pusat dakwah Islam di sekitar Kesawan, Medan. Hingga kini, jamaah masih memakainya untuk shalat berjamaah dan kegiatan pengajian.

โ€œBagi saya, Masjid Lama Gang Bengkok adalah simbol betapa Islam di Medan tumbuh bersama harmoni budaya. Dari sini kita belajar bahwa Islam selalu membawa pesan damai dan persaudaraan,โ€ menurut saya saat menelusuri sejarahnya.


Masjid Azizi Tanjung Pura

Masjid Azizi berada di Tanjung Pura, Kabupaten Langkat, tidak jauh dari Medan. Meskipun berada di luar pusat kota, masjid ini dianggap salah satu yang tertua dan bersejarah bagi masyarakat Medan dan sekitarnya.

Pusat Dakwah Kesultanan Langkat

Masjid ini dibangun pada tahun 1899 oleh Sultan Abdul Aziz. Pada masanya, masjid ini menjadi pusat pengajaran agama Islam dan penyebaran dakwah ke berbagai wilayah Sumatera Utara.

Arsitektur dan Ornamen

Kubah masjid berwarna hijau dengan corak khas Melayu. Kaligrafi indah menghiasi dinding bagian dalam, sementara ukiran kayu jati mempercantik interior.

Jejak Perlawanan Kolonial

Masjid Azizi juga memiliki nilai historis karena sering digunakan sebagai tempat musyawarah tokoh Islam yang menentang kolonialisme Belanda.


Masjid Raya Labuhan Deli

Di kawasan Medan Labuhan, berdiri Masjid Raya Labuhan Deli yang dibangun sekitar tahun 1885. Masjid ini merupakan salah satu peninggalan penting dari Kesultanan Deli.

Kedekatan dengan Pelabuhan

Karena lokasinya dekat dengan pelabuhan, masjid ini dahulu menjadi tempat ibadah para pedagang dan pelaut dari berbagai daerah. Hal ini menjadikan masjid ini titik awal penyebaran Islam di pesisir Medan.

Ciri Khas Bangunan

Arsitektur masjid sederhana namun kuat. Atap limas khas Melayu berpadu dengan sentuhan arsitektur Timur Tengah.

Aktivitas Keagamaan

Masjid Raya Labuhan Deli hingga kini masih aktif dipakai masyarakat sekitar. Tradisi pengajian dan kegiatan Maulid Nabi selalu diselenggarakan meriah di sini.


Masjid Al Osmani Medan Labuhan

Masjid Al Osmani adalah salah satu masjid tertua di Sumatera Utara yang diyakini dibangun sekitar tahun 1854 oleh Sultan Osman Perkasa Alam.

Warisan Kesultanan Deli

Masjid ini dahulu menjadi pusat kegiatan keagamaan Kesultanan Deli sebelum berdirinya Masjid Raya Al Mashun.

Keunikan Warna Kuning

Bangunan masjid bercat kuning cerah, warna kebesaran Melayu yang melambangkan keagungan dan kewibawaan. Menara dan kubahnya pun menampilkan gaya arsitektur khas perpaduan Melayu dan India.

Daya Tarik Wisata Religi

Masjid ini tidak hanya dikunjungi jamaah lokal, tetapi juga wisatawan dari Malaysia dan Brunei yang ingin menelusuri jejak sejarah Islam di Medan.

โ€œKetika pertama kali memasuki Masjid Al Osmani, saya merasakan aura sejarah yang kental. Seolah-olah setiap sudutnya menyimpan cerita perjuangan Islam di Medan tempo dulu,โ€ menurut kesan pribadi saya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *