Apakah Wajib Menaati Suami yang Gajinya di Bawah UMR? Ini Penjelasan Islam

Muslimah114 Views

Apakah seorang istri tetap wajib menaati suami ketika penghasilannya berada di bawah UMR? Secara prinsip, jawabannya adalah ya, selama perintah suami berada dalam perkara yang baik, benar, dan tidak bertentangan dengan ajaran agama. Besar atau kecilnya gaji suami tidak menjadi ukuran tunggal yang menentukan apakah kewajiban tersebut berlaku. Pada saat yang sama, Islam tetap membebankan tanggung jawab kepada suami untuk memberi nafkah sesuai kemampuan, berusaha mencari rezeki yang halal, memperlakukan istri dengan baik, dan tidak menggunakan kedudukannya sebagai suami untuk bertindak sewenang wenang. Pandangan ini sejalan dengan penjelasan Muhammadiyah mengenai persoalan suami bergaji di bawah UMR dan prinsip keluarga sakinah.

Pertanyaan mengenai hubungan antara menaati suami dan penghasilan memang mudah menimbulkan perdebatan. Alasannya, urusan rumah tangga tidak hanya berhubungan dengan uang. Di dalamnya terdapat tanggung jawab, kasih sayang, komunikasi, kebutuhan keluarga, penghormatan, serta kesediaan kedua pihak menjalankan kewajibannya.

Gaji yang rendah juga tidak selalu menunjukkan seseorang tidak bertanggung jawab. Ada suami yang penghasilannya sederhana karena jenis pekerjaannya memang memberikan pendapatan terbatas, tetapi ia bekerja setiap hari dan menyerahkan penghasilannya untuk keluarga. Sebaliknya, ada pula orang yang memperoleh pendapatan cukup besar tetapi mengabaikan kebutuhan rumah tangganya.

Karena itu, persoalan gaji suami sebaiknya tidak berhenti pada angka yang tercantum dalam slip gaji.


Sekilas Tentang Menaati Suami Ketika Penghasilan Dibawah UMR

Gaji suami di bawah UMR tidak otomatis menggugurkan kewajiban istri untuk menaati suami dalam perkara yang ma’ruf. Dalam ajaran Islam, persoalan ketaatan dan persoalan nafkah merupakan dua kewajiban yang perlu ditempatkan secara tepat. Suami tetap mempunyai tanggung jawab memberikan nafkah, sedangkan istri menjalankan kewajibannya dalam kehidupan perkawinan selama tidak bertentangan dengan agama dan kebaikan.

Kementerian Agama menjelaskan bahwa kewajiban suami antara lain memberi nafkah lahir dan batin, menyediakan kebutuhan kehidupan keluarga, serta memperlakukan istri dengan baik. Sementara itu, istri memiliki kewajiban kepada suami, termasuk ketaatan dalam hal yang dibenarkan agama.

Artinya, UMR bukan batas yang secara otomatis memisahkan suami yang berhak ditaati dan suami yang tidak perlu ditaati.

Hal yang jauh lebih penting ialah melihat bagaimana seseorang menjalankan tanggung jawabnya.

  • Apakah ia bersungguh sungguh bekerja?
  • Apakah penghasilannya digunakan untuk kebutuhan keluarga?
  • Apakah ia terbuka mengenai keadaan keuangan?
  • Apakah ia bersedia berdiskusi ketika uang tidak cukup?

Pertanyaan seperti ini memberi gambaran yang jauh lebih utuh daripada sekadar bertanya berapa nominal penghasilannya.


Apakah Wajib Menaati Suami yang Gajinya di Bawah UMR?

Ya, istri tetap menaati suami dalam perkara yang ma’ruf meskipun gaji suami berada di bawah UMR. Tidak terdapat ketentuan yang menjadikan nominal UMR sebagai syarat berlakunya ketaatan dalam perkawinan. Batas utama ketaatan adalah apakah perintah tersebut termasuk perkara yang baik dan tidak mengandung kemaksiatan.

Hal tersebut sejalan dengan hadis Rasulullah SAW mengenai batas ketaatan.

“Sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam perkara yang ma’ruf.” HR. Bukhari dan Muslim.

Hadis tersebut juga dikutip dalam pembahasan Muhammadiyah mengenai pertanyaan apakah istri tetap wajib menaati suami yang penghasilannya berada di bawah UMR.

Kalimat tersebut menjadi penting karena menunjukkan bahwa ketaatan tidak bersifat tanpa batas.

Jika suami mengajak menjalankan kehidupan keluarga dengan baik, menjaga kehormatan keluarga, mengatur pengeluaran secara wajar, atau mengajak kepada kebaikan, persoalan kecilnya penghasilan tidak serta merta menghapus kewajiban istri.

Sebaliknya, status sebagai suami juga tidak memberi hak untuk memerintahkan sesuatu yang bertentangan dengan agama.

Ketaatan Tidak Ditentukan oleh Besarnya Gaji Suami

Menjadikan jumlah penghasilan sebagai satu satunya ukuran penghormatan kepada pasangan dapat melahirkan cara melihat perkawinan yang terlalu sempit.

Bayangkan seorang suami bekerja sebagai tenaga harian dengan pendapatan Rp3 juta sebulan. Ia berangkat bekerja setiap pagi, menyerahkan sebagian besar pendapatannya kepada keluarga, membayar kebutuhan rumah, dan terus berusaha memperoleh penghasilan tambahan.

Bandingkan dengan seseorang yang mendapatkan Rp15 juta sebulan, tetapi sebagian besar uangnya digunakan untuk kepentingannya sendiri sementara kebutuhan keluarga sering terbengkalai.

Jika hanya melihat angka, orang kedua terlihat jauh lebih mapan. Namun tanggung jawab keluarga tidak bisa dinilai dari nominal penghasilan saja.

Karena itulah pembicaraan mengenai gaji suami dibawah UMR perlu memperhatikan usaha, kemampuan riil, penggunaan penghasilan, serta perilakunya terhadap keluarga.


Gaji Suami di Bawah UMR dan Kewajiban Memberikan Nafkah

Penghasilan yang berada di bawah UMR tidak dengan sendirinya menghapus kewajiban suami memberikan nafkah. Suami tetap wajib berusaha memenuhi kebutuhan keluarganya sesuai kemampuan yang dimiliki.

Prinsip kemampuan dalam pemberian nafkah dapat ditemukan dalam QS. At Talaq ayat 7. Ayat tersebut memerintahkan orang yang memiliki kelapangan rezeki untuk memberikan nafkah sesuai kelapangannya, sementara orang yang rezekinya terbatas memberikan nafkah berdasarkan apa yang Allah berikan kepadanya.

Muhammadiyah juga menjelaskan bahwa nafkah perlu memperhatikan kebutuhan istri serta kemampuan suami.

Kementerian Agama melalui materi bimbingan keluarga turut menyampaikan bahwa pemenuhan sandang, pangan, dan tempat tinggal merupakan kewajiban laki laki sebagai suami dengan mempertimbangkan kemampuannya.

Jadi, penghasilan Rp3 juta dan Rp10 juta tentu menghasilkan kemampuan ekonomi yang berbeda.

Islam tidak meminta seseorang memberikan sesuatu yang memang tidak dimilikinya. Namun keterbatasan ekonomi juga tidak boleh dijadikan alasan untuk berhenti berusaha.

Gaji Kecil Berbeda dengan Sengaja Tidak Bertanggung Jawab

Bagian inilah yang sering terlewat ketika orang membicarakan menaati suami.

Ada perbedaan besar antara suami yang pendapatannya rendah karena keadaan pekerjaan dengan suami yang sengaja menghindari kewajibannya.

Suami yang penghasilannya terbatas mungkin sudah bekerja penuh setiap hari. Setelah menerima gaji, ia menggunakan uang tersebut untuk makanan, sewa rumah, biaya anak, listrik, transportasi, dan kebutuhan lainnya.

Keadaan seperti itu berbeda dengan seseorang yang sebenarnya mampu bekerja, tetapi sengaja bermalas malasan. Begitu pula dengan suami yang memperoleh penghasilan tetapi menghabiskannya untuk kesenangan pribadi sementara kebutuhan utama keluarganya terabaikan.

Kementerian Agama pernah menekankan bahwa suami bertanggung jawab memberikan kebutuhan keluarga menurut kemampuan yang dimilikinya dan tidak selayaknya memberikan nafkah sangat minim ketika ia justru bermewah mewah di luar rumah.

Dengan demikian, yang perlu dinilai bukan hanya hasil akhirnya, tetapi juga kesungguhan menjalankan tanggung jawab.


Sampai Mana Batas Menaati Suami dalam Islam?

Istri menaati suami dalam perkara yang baik, bukan dalam kemaksiatan atau tindakan yang bertentangan dengan ajaran Islam. Prinsip tersebut membuat ketaatan tidak dapat digunakan sebagai pembenaran untuk semua keinginan suami.

Muhammadiyah mengutip hadis yang menjelaskan bahwa tidak ada ketaatan dalam maksiat kepada Allah dan ketaatan hanya berlaku dalam perkara yang baik.

Karena itu, ucapan seperti “istri harus menuruti semua perkataan suami apa pun isinya” tidak menggambarkan batas ketaatan secara tepat.

Istri Tidak Wajib Taat dalam Perkara Maksiat

Jika seorang suami memerintahkan istrinya melakukan sesuatu yang jelas bertentangan dengan ajaran agama, istri tidak berkewajiban mengikuti perintah tersebut.

Hal yang sama berlaku ketika status suami digunakan sebagai alasan untuk membenarkan perlakuan buruk.

Islam meminta suami memperlakukan istrinya secara baik. Muhammadiyah menegaskan bahwa kewajiban tersebut mencakup kasih sayang, penghormatan, perhatian, perlindungan, dan perlakuan yang layak. Kekerasan dalam rumah tangga juga tidak dapat dibenarkan atas nama kepemimpinan suami.

Jadi, kalimat “wajib taat kepada suami” tidak boleh dipisahkan dari kewajiban suami menjalankan rumah tangga dengan baik.


Bagaimana Jika Gaji Suami Tidak Cukup Memenuhi Kebutuhan?

Ketika penghasilan suami tidak mencukupi kebutuhan keluarga, langkah pertama yang sehat adalah membicarakan kemampuan, kebutuhan utama, dan pengeluaran secara terbuka. Kekurangan uang tidak selalu harus berubah menjadi pertengkaran mengenai siapa yang paling bersalah.

Pasangan dapat memeriksa beberapa hal berikut:

  1. Berapa pendapatan bersih keluarga setiap bulan.
  2. Berapa biaya makanan, tempat tinggal, listrik, pendidikan, kesehatan, dan transportasi.
  3. Apakah terdapat utang atau cicilan yang terlalu berat.
  4. Pengeluaran apa yang sebenarnya dapat dikurangi.
  5. Apakah suami memiliki peluang menambah sumber pendapatan.
  6. Apakah istri ingin ikut membantu keuangan keluarga berdasarkan kesepakatan bersama.

Musyawarah menjadi sangat penting karena rumah tangga tidak hanya membutuhkan pemasukan, tetapi juga pengelolaan uang yang sehat.

Penghasilan kecil yang dikelola dengan disiplin kadang lebih mampu memenuhi kebutuhan utama daripada penghasilan besar yang habis tanpa perencanaan.

Jika Istri Bekerja, Apakah Kewajiban Nafkah Suami Hilang?

Istri bekerja tidak otomatis membuat tanggung jawab nafkah suami hilang. Dalam salah satu pembahasan MUI mengenai istri yang bekerja, terdapat pandangan fikih bahwa istri yang bekerja dengan izin suami tetap mempunyai hak mendapatkan nafkah.

Karena itu, ketika istri ikut memperoleh penghasilan, pembagian kebutuhan keluarga sebaiknya dibicarakan dengan jelas.

Ada keluarga yang sepakat pendapatan suami digunakan untuk kebutuhan sehari hari sedangkan penghasilan istri disimpan. Ada pula pasangan yang sama sama memasukkan sebagian pendapatan ke dalam anggaran keluarga.

Setiap keluarga dapat memiliki pengaturan berbeda selama dilakukan dengan kesepakatan, keterbukaan, serta tidak menghilangkan hak pasangan secara sewenang wenang.

Muhammadiyah juga menempatkan hubungan suami istri sebagai hubungan yang mendorong pengambilan keputusan keluarga secara seimbang serta saling mendukung dalam kehidupan rumah tangga.


Jangan Samakan Suami Bergaji Kecil dengan Suami yang Lalai

Persoalan gaji suami sering menjadi sensitif karena angka penghasilan mudah terlihat, sedangkan usaha seseorang tidak selalu tampak.

Seorang guru honorer, pekerja toko, buruh harian, petani, pengemudi, atau pekerja lainnya mungkin memperoleh pendapatan di bawah standar upah di daerah tertentu. Namun kondisi tersebut belum cukup untuk menyatakan bahwa ia gagal menjalankan seluruh tanggung jawab sebagai suami.

Lihat lebih jauh.

  • Apakah ia membawa penghasilannya pulang untuk keluarga?
  • Apakah ia terus bekerja meskipun pekerjaannya berat?
  • Apakah ia menghindari pengeluaran yang merugikan keluarga?
  • Apakah ia bersedia mencari peluang yang lebih baik ketika ada kesempatan?
  • Apakah ia menerima masukan dari istrinya?

Dari sini terlihat perbedaan antara keterbatasan dan kelalaian.

Orang yang sedang berada dalam keterbatasan membutuhkan kerja sama. Orang yang sengaja melalaikan kewajibannya membutuhkan teguran dan perubahan sikap.

Ketika Ekonomi Sulit, Suami Juga Harus Bersedia Mendengar Istri

Kewajiban menaati suami bukan alasan bagi suami untuk menutup ruang diskusi.

Kementerian Agama menyebut penghormatan terhadap pendapat istri dan kesediaan mendengarkan keluh kesah sebagai bagian penting dari kehidupan rumah tangga.

Ketika uang belanja tidak cukup, istri boleh membicarakannya.

Ketika kebutuhan anak meningkat, pasangan perlu menghitungnya bersama.

Ketika pengeluaran suami terlalu besar untuk sesuatu yang bukan kebutuhan utama, istri dapat menyampaikan keberatan.

Begitu juga jika istri memiliki penghasilan lebih tinggi daripada suami. Keadaan tersebut tidak seharusnya menjadi alat untuk saling merendahkan. Pendapatan merupakan salah satu bagian kehidupan keluarga, bukan ukuran tunggal harga diri seseorang.


Gaji Dibawah UMR Bukan Alasan Merendahkan Pasangan

Menghadapi keadaan ekonomi yang terbatas memang tidak mudah. Harga kebutuhan dapat meningkat, anak memerlukan biaya, tempat tinggal harus dibayar, sementara penghasilan belum tentu bertambah dalam waktu yang sama.

Namun mempermalukan pasangan karena penghasilannya belum besar biasanya tidak menyelesaikan persoalan.

Jika suami telah bekerja dengan sungguh sungguh, menggunakan uang untuk kebutuhan keluarga, dan terus mencari jalan meningkatkan penghasilan, dukungan pasangan dapat membantu menjaga hubungan tetap sehat.

Sebaliknya, suami juga tidak pantas menuntut penghormatan sambil mengabaikan tanggung jawabnya sendiri.

Kepemimpinan dalam keluarga bukan sekadar gelar. Muhammadiyah menjelaskan bahwa kepemimpinan suami juga berkaitan dengan fungsi melindungi, menjaga, mengampu, serta mencukupi keluarga, bukan semata persoalan mencari uang.

Sebelum Memperdebatkan UMR, Periksa Lima Hal Ini

Daripada menjadikan nominal sebagai satu satunya ukuran, pasangan dapat melihat lima hal yang lebih penting.

1. Kesungguhan mencari nafkah

Apakah suami benar benar berusaha memperoleh rezeki halal sesuai kemampuannya?

2. Prioritas penggunaan uang

Apakah kebutuhan istri dan anak menjadi bagian utama dari pengeluaran keluarga?

3. Kejujuran mengenai kondisi keuangan

Suami dan istri sebaiknya mengetahui keadaan keuangan keluarga agar keputusan dapat dibuat bersama.

4. Sikap terhadap kekurangan

Suami yang bertanggung jawab tidak sekadar mengatakan bahwa uangnya kurang. Ia juga bersedia mencari pilihan yang memungkinkan, memperbaiki pengeluaran, dan menerima saran.

5. Cara memperlakukan pasangan

Penghasilan tidak dapat menggantikan akhlak. Kementerian Agama menegaskan bahwa hak istri tidak hanya berkaitan dengan materi, tetapi juga perlindungan, kasih sayang, penghargaan, dan perlakuan yang baik.

Jangan Jadikan Slip Gaji Sebagai Hakim Rumah Tangga

Jika persoalan keluarga Anda sedang berada pada tahap penghasilan yang terbatas, jangan hanya membicarakan angka UMR. Duduk bersama, buka pemasukan dan pengeluaran secara jujur, tentukan kebutuhan utama, kemudian lihat apakah masing masing pihak telah menjalankan kewajibannya.

Apabila persoalannya sudah menyangkut nafkah yang sengaja diabaikan, kekerasan, perintah melakukan kemaksiatan, atau konflik berkepanjangan, pasangan dapat meminta bantuan ulama yang kompeten, penyuluh KUA, konselor perkawinan, atau pihak tepercaya yang mampu melihat masalah secara menyeluruh.

Pada akhirnya, ukuran untuk menaati suami bukan apakah pendapatannya mencapai angka tertentu. Gaji suami yang berada di bawah UMR tidak otomatis menggugurkan ketaatan dalam perkara yang baik, sebagaimana kedudukan sebagai suami juga tidak menghapus kewajibannya untuk mencari nafkah sesuai kemampuan, menghormati istri, bermusyawarah, dan membangun kehidupan keluarga dengan penuh tanggung jawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *