Bagaimana Tata cara potong Kuku Menurut Islam dan Haditsnya

Tips Sahabat1862 Views

Merawat kuku kelihatannya sepele, cuma perkara gunting sedikit lalu beres. Tapi dalam Islam, urusan yang kelihatan kecil seperti ini justru diatur cukup rinci. Potong kuku bukan cuma soal rapi dan bersih, tapi juga bagian dari fitrah seorang muslim yang dijaga lewat ajaran Nabi Muhammad SAW.

Banyak orang masih bingung. Kapan waktu terbaik potong kuku. Apa ada urutan tertentu. Boleh tidak potong kuku saat haid atau junub. Perlu dikubur atau tidak. Di sini kita bahas pelan pelan dengan bahasa santai, sambil sesekali melihat keterangan ulama dan hadits yang relevan.


Kenapa Potong Kuku Diatur Dalam Islam

Secara umum, Islam sangat menekankan kebersihan. Nabi SAW menyebut beberapa kebiasaan bersih bersih sebagai bagian dari fitrah, yaitu sifat dasar manusia yang baik dan sesuai dengan ajaran agama. Salah satu yang disebut adalah memotong kuku.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda:

“Fitrah itu ada lima macam, mencukur bulu kemaluan, khitan, memendekkan kumis, mencabut bulu ketiak, dan memotong kuku.”

Dari sini ulama menjelaskan bahwa potong kuku bukan sekadar urusan penampilan. Ia masuk daftar amalan fitrah yang dianjurkan, mirip dengan berkhitan atau menjaga kebersihan bagian tubuh lain.

Potong Kuku Sebagai Bagian Dari Ibadah Sehari hari

Kalau dilihat dari hadits tadi, potong kuku itu semacam rutinitas ibadah yang berhubungan dengan tubuh. Ia memang bukan wajib seperti shalat, tapi termasuk sunnah yang sangat dianjurkan karena menjaga kebersihan, menutup peluang najis menempel, dan membuat tubuh lebih siap beribadah.

Sebagian ulama menekankan, kebiasaan merapikan kuku menunjukkan seseorang peduli dengan adab dan penampilan di hadapan Allah dan manusia. Kuku yang bersih akan memudahkan wudhu, tidak menahan kotoran atau najis, dan membuat gerakan ibadah lebih nyaman.


Hukum Potong Kuku Menurut Para Ulama

Secara hukum, memotong kuku pada dasarnya sunnah. Artinya, jika dilakukan mendapat pahala, jika ditinggalkan tidak sampai berdosa, selama tidak berlebihan menelantarkan kebersihan.

Beberapa buku fikih menjelaskan, potong kuku masuk dalam kategori sunnah fitrah. Ini diambil dari hadits fitrah tadi, yang dijadikan dasar bahwa muslim dianjurkan menjaga bagian bagian tubuh tertentu melalui kebiasaan khusus seperti mencukur, memotong, atau membersihkan.

Batas Waktu Membiarkan Kuku Panjang

Walaupun hukumnya sunnah, bukan berarti seseorang boleh membiarkan kuku memanjang terus sampai berbulan bulan. Ada riwayat dari sahabat Anas bin Malik yang menyebutkan adanya batas waktu tertentu.

Dalam satu riwayat, Anas berkata kurang lebih:

“Kami diberi batasan untuk memendekkan kumis, memotong kuku, mencabut bulu ketiak, dan mencukur bulu kemaluan agar tidak dibiarkan lebih dari empat puluh malam.”

Para ulama kemudian memahami, sebaiknya kuku tidak dibiarkan tumbuh lebih dari sekitar empat puluh hari. Idealnya tentu dipotong jauh sebelum itu, apalagi kalau sudah mulai mengganggu, kotor, atau menampung najis.

Sebagian ulama menambahkan, intinya adalah jangan sampai kuku menjadi tempat berkumpul kotoran dan mengurangi kesempurnaan bersuci. Jadi kalau sudah terasa panjang dan sulit dibersihkan, tidak perlu menunggu hari tertentu, langsung saja dipotong.


Hari Dan Waktu Terbaik Untuk Potong Kuku

Selain soal hukum, banyak orang penasaran soal waktu terbaik memotong kuku. Ada yang bilang bagus hari Jumat, ada yang menyebut Senin dan Kamis, ada yang bilang yang penting jangan malam.

Dalam beberapa kitab fikih disebutkan, dianjurkan memotong kuku pada hari hari tertentu seperti Senin, Kamis, dan Jumat. Ini bukan berarti hari lain tidak boleh, tetapi hari hari tersebut dianggap lebih utama karena banyak ibadah dan amalan sunnah lain yang juga dianjurkan di situ.

Keutamaan Potong Kuku di Hari Jumat

Jumat adalah hari istimewa dalam Islam. Banyak amalan sunnah disunnahkan di hari ini, mulai dari mandi Jumat, memakai pakaian terbaik, memakai wewangian, sampai membersihkan kuku.

Ada riwayat yang menyebut Nabi SAW memotong kuku dan merapikan kumis pada hari Jumat sebelum keluar untuk shalat Jumat.

“Nabi biasa memotong kuku dan mencukur kumis pada hari Jumat sebelum berangkat shalat Jumat.”

Sebagian ulama menjelaskan, riwayat tentang keutamaan khusus potong kuku di hari Jumat memang ada yang dinilai lemah, tetapi kebiasaan ulama salaf merapikan diri di hari Jumat cukup kuat. Karena itu, banyak yang menjadikan momen menjelang Jumat sebagai jadwal rutin potong kuku, terutama bagi laki laki yang akan berangkat ke masjid.

Senin, Kamis, Dan Kebiasaan Rutin

Ada juga pendapat yang menyarankan hari Senin dan Kamis sebagai waktu bagus untuk potong kuku, mengikuti kebiasaan amalan sunnah lain seperti puasa Senin Kamis. Sebagian ulama menyebut hari hari ini sebagai waktu yang baik karena banyaknya kebaikan yang diangkat pada hari tersebut.

Intinya, kalau kuku sudah panjang, jangan menunggu hari tertentu. Tapi kalau mau punya jadwal rutin, banyak orang memilih kombinasi, misalnya potong kuku setiap Kamis malam atau Jumat pagi sambil bersiap ke masjid.

Bolehkah Potong Kuku Malam Hari

Pertanyaan ini sering muncul di masyarakat. Ada yang percaya potong kuku malam hari membawa sial atau tidak baik. Jika ditelusuri, para ulama tidak menemukan dalil shahih yang melarang potong kuku di malam hari.

Selama tidak ada keyakinan aneh atau unsur khurafat, memotong kuku malam hari pada dasarnya boleh saja. Yang penting aman, terang, dan tidak membahayakan diri sendiri. Banyak ustaz yang menegaskan, larangan larangan seperti itu lebih dekat ke mitos budaya, bukan ajaran agama yang berdasar dalil.


Tata Cara Potong Kuku Sesuai Sunnah

Setelah tahu hukumnya, kita masuk ke teknis. Bagaimana cara potong kuku yang dianjurkan menurut para ulama. Soal ini memang tidak diatur sedetail rukun shalat, tapi ada beberapa panduan yang sering disebut dalam kitab kitab fikih.

Para ulama, seperti Imam Nawawi dan Imam Ghazali, menyebut urutan tertentu ketika memotong kuku. Urutan ini bukan wajib, tapi dianggap lebih utama karena mengikuti kaidah memulai dari kanan dan merapikan dengan sistematis.

Urutan Kuku Tangan Kanan Dan Kiri

Berpegang pada penjelasan Imam Nawawi, urutan potong kuku tangan yang sering diajarkan kurang lebih seperti ini.

Pertama, mulai dari telunjuk tangan kanan, lalu jari tengah, jari manis, kelingking, dan terakhir ibu jari kanan. Setelah itu pindah ke tangan kiri, dimulai dari kelingking, jari manis, jari tengah, telunjuk, dan terakhir ibu jari kiri.

Urutan ini dibuat mengikuti kaidah umum bahwa Nabi SAW menyukai memulai sesuatu dari sisi kanan. Dalam satu hadits disebutkan:

“Beliau suka memulai dari kanan dalam memakai sandal, menyisir, bersuci, dan dalam segala urusan.”

Dengan mengikuti urutan tadi, kita menjaga adab dan menghidupkan sunnah, walaupun sekali lagi, tidak wajib. Kalau terbalik juga tidak berdosa, yang penting kuku tetap terpotong dan bersih.

Cara Potong Kuku Kaki

Untuk kuku kaki, ada beberapa variasi urutan yang disebut para ulama. Sebagian memulai dari kaki kanan dulu, dari kelingking ke ibu jari, kemudian pindah ke kaki kiri dari ibu jari ke kelingking. Ada juga yang punya pola lain.

Tidak ada dalil pasti tentang urutan kuku kaki, jadi ulama lebih longgar. Prinsipnya dua. Tetap mendahulukan bagian kanan, dan lakukan dengan rapi, tidak merusak kulit atau menimbulkan luka.

Adab Sebelum Dan Sesudah Memotong Kuku

Beberapa adab yang sering disebut antara lain:

Pertama, disunnahkan potong kuku dalam keadaan bersih dan kalau bisa sudah berwudhu, terutama jika dilakukan menjelang shalat. Sebagian ulama dan dai menganjurkan memotong kuku di luar kamar mandi supaya potongan kuku tidak bercampur najis.

Kedua, setelah memotong kuku, sunnahnya mencuci ujung ujung jari. Ada penjelasan dalam sebagian kitab bahwa menggaruk kepala sebelum mencuci selepas potong kuku dikhawatirkan bisa memicu masalah kulit. Walaupun ini banyak disebut sebagai pengalaman orang orang terdahulu, kebiasaan mencuci tangan setelah potong kuku jelas lebih higienis.

Ketiga, usahakan kuku dipotong lurus dan tidak terlalu dalam supaya tidak melukai kulit dan tidak membuat kuku tumbuh miring. Ini bagian dari menjaga diri dari bahaya, yang juga diajarkan dalam Islam.


Potong Kuku Untuk Muslimah: Saat Haid, Nifas, Dan Hamil

Salah satu tema yang sering jadi perdebatan di kalangan muslimah adalah soal potong kuku saat haid atau nifas. Di sebagian daerah beredar keyakinan bahwa perempuan haid tidak boleh memotong kuku, memotong rambut, atau mencabut bulu tertentu. Katanya akan menyulitkan di hari kiamat dan sejenisnya.

Kalau dilihat dari keterangan banyak ulama, mayoritas menjelaskan bahwa memotong kuku saat haid dan nifas hukumnya boleh. Tidak ada dalil shahih yang mengharamkan. Bahkan sebagian ulama menegaskan, tidak pantas sesuatu yang tidak ada dalilnya tiba tiba dihukumi makruh atau haram.

Meluruskan Mitos Yang Beredar

Majelis ulama di beberapa negara juga sudah menjelaskan, anggapan bahwa kuku atau rambut yang terpotong saat haid akan kembali dalam keadaan najis di hari kiamat itu tidak punya dasar yang kuat. Itu lebih dekat kepada cerita cerita lama yang menyebar tanpa rujukan yang jelas.

Ada ulama yang berpendapat sebaiknya perempuan haid tidak memotong kuku, dan mereka menyebut hukum makruh dengan alasan tertentu, seperti kehati hatian terkait bagian tubuh yang terpisah. Namun pendapat ini tidak sampai tingkat haram dan masih diperdebatkan.

Karena itu, banyak ustaz masa kini yang menyimpulkan bahwa memotong kuku saat haid boleh saja, apalagi jika kuku sudah panjang dan kotor. Justru menjaga kebersihan di masa haid termasuk bagian dari adab yang baik.

Potong Kuku Saat Junub

Bagaimana dengan orang yang sedang junub, misalnya setelah berhubungan suami istri dan belum mandi wajib. Sebagian ulama lama ada yang menyebut makruh memotong bagian tubuh saat junub, tetapi banyak fatwa kontemporer menegaskan bahwa tidak ada dalil tegas yang melarang.

Kalau pun seseorang ingin berhati hati, bisa saja ia memilih menunda hingga setelah mandi junub. Tapi kalau memang butuh, misalnya kuku sudah sangat kotor, tidak perlu khawatir berlebihan. Kebersihan tetap didahulukan.


Potong Kuku, Kebersihan, Dan Kesehatan

Dari sisi medis, kuku yang panjang dan kotor bisa menjadi tempat berkumpul bakteri, kotoran, bahkan jamur. Ini bisa mengganggu kesehatan dan kebersihan makanan yang kita pegang. Hal ini sejalan dengan semangat syariat yang menginginkan tubuh bersih dan terjaga.

Banyak ulama menjelaskan, hikmah potong kuku adalah menghindari terkumpulnya kotoran di bawah kuku yang bisa menghalangi air wudhu menyentuh kulit. Walaupun perbedaan pendapat soal seberapa tipis kuku harus dipotong ada, tetapi tidak ada yang menganjurkan membiarkannya panjang dan kotor.

Di titik ini, ajaran agama bertemu dengan ilmu kesehatan. Semakin rapi dan bersih kuku, semakin kecil risiko menyebarkan kuman saat makan dengan tangan, mengusap wajah, atau memegang barang yang juga disentuh orang lain.

Kuku Panjang Dan Ibadah

Kuku yang terlalu panjang kadang membuat seseorang malas bersuci dengan sempurna. Padahal dalam wudhu, ujung ujung jari termasuk bagian yang harus terkena air. Kalau kotoran menumpuk di bawah kuku, sebagian ulama menganggap ini dapat mengurangi kesempurnaan bersuci, walaupun detail hukumnya bisa berbeda.

Dalam praktik sehari hari, lebih aman menjaga kuku tetap pendek dan bersih supaya tidak was was dengan sah tidaknya wudhu. Ini juga membuat gerakan ibadah seperti tayamum, mengusap kepala, dan lainnya terasa lebih ringan.


Pertanyaan Yang Sering Muncul Seputar Potong Kuku

Karena potong kuku sangat dekat dengan kehidupan sehari hari, wajar kalau ada banyak pertanyaan kecil yang muncul. Sebagian memang muncul dari keinginan menjaga adab, sebagian lain berasal dari tradisi yang bercampur dengan kepercayaan lokal.

Di bagian ini, kita bahas beberapa yang paling sering ditanyakan, dengan tetap berpegang pada prinsip umum fikih dan hadits.

Haruskah Potongan Kuku Dikubur

Di beberapa daerah, potongan kuku biasanya dikumpulkan lalu dikubur. Alasannya macam macam. Ada yang bilang supaya tidak diinjak orang, ada yang khawatir dipakai guna guna, ada juga yang menganggap bagian tubuh sebaiknya dikembalikan ke tanah.

Kalau dilihat dari literatur fikih, tidak ada kewajiban khusus untuk mengubur potongan kuku. Yang penting, potongan itu tidak dibuang sembarangan sehingga mengganggu orang lain atau mengotori tempat ibadah. Sebagian ulama membolehkan dikubur, dibungkus lalu dibuang, atau dimasukkan ke tempat sampah yang tertutup.

Jadi, mengubur potongan kuku boleh sebagai bentuk adab dan kehati hatian, tapi bukan kewajiban. Yang jelas, jangan sampai keyakinan bergeser menjadi seolah olah wajib syariat padahal tidak ada dalilnya.

Bolehkah Potong Kuku Saat Ihram

Untuk yang akan haji atau umrah, ada pembahasan khusus soal potong kuku sebelum dan saat ihram. Sebelum masuk ihram, justru dianjurkan untuk membersihkan diri, termasuk memotong kuku dan mencukur bulu tertentu.

Begitu sudah berniat ihram, barulah ada larangan memotong kuku dan rambut sampai selesai tahallul. Ini berlaku baik untuk laki laki maupun perempuan. Karena itu, banyak pembimbing haji menyarankan jamaah untuk potong kuku dulu sebelum miqat, supaya selama ihram tidak kerepotan dan tidak melanggar larangan.

Seberapa Sering Idealnya Potong Kuku

Tidak ada ketentuan baku seperti seminggu sekali atau dua minggu sekali. Yang disepakati, jangan sampai kuku dibiarkan lebih dari sekitar empat puluh hari, berdasarkan riwayat tadi.

Dalam praktiknya, banyak orang memotong kuku tiap satu pekan atau dua pekan sekali, tergantung seberapa cepat kuku tumbuh. Selama sudah mulai mengganggu, sulit dibersihkan, atau menampung kotoran, berarti sudah saatnya digunting.


Menghidupkan Sunnah Lewat Kebiasaan Kecil

Kalau kita rangkum, potong kuku dalam Islam memadukan tiga hal sekaligus, yaitu adab, kebersihan, dan ibadah. Ia sunnah, tapi punya pengaruh besar ke kesehatan dan kenyamanan beribadah. Rasulullah SAW mengajarkan agar seorang muslim menjaga fitrah lewat kebiasaan sederhana seperti ini.

Hadits hadits tentang potong kuku mengingatkan kita bahwa ajaran Islam itu turun sampai ke hal kecil yang mungkin sering diabaikan. Bukan sekadar urusan ibadah besar, tapi juga bagaimana seseorang tampil bersih, wangi, dan rapi di hadapan Allah dan sesama.

Dan yang paling penting, jangan sampai perbedaan pendapat kecil soal urutan atau waktu potong kuku memicu perdebatan panjang. Pegang saja prinsip umumnya. Jaga kuku tetap pendek dan bersih, usahakan sesuai adab sunnah seperti mendahulukan kanan, pilih hari hari yang baik jika memungkinkan, dan hindari mitos yang tidak punya dalil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *