Sejarah bulan muharram selalu menarik dibahas setiap kali umat Islam memasuki awal tahun Hijriah. Bulan ini bukan hanya penanda pergantian kalender, tetapi juga salah satu bulan yang mendapat kedudukan istimewa dalam ajaran Islam. Muharram berada di urutan pertama dalam kalender Hijriah dan termasuk dalam empat bulan haram, yakni bulan yang dimuliakan Allah SWT sebagaimana disebut dalam Al Quran.
Sejarah Bulan Muharram dalam Kalender Islam
Muharram menjadi bulan pembuka dalam kalender Hijriah yang digunakan umat Islam hingga hari ini. Kalender Hijriah sendiri memakai peredaran bulan sebagai dasar perhitungan waktu, sehingga penentuan awal bulan berkaitan dengan terlihatnya hilal.
Dalam perjalanan sejarah Islam, kalender Hijriah tidak langsung disusun pada masa awal kenabian. Penanggalan ini mulai ditata pada masa Khalifah Umar bin Khattab RA. Saat itu, kebutuhan administrasi pemerintahan Islam makin besar, terutama karena wilayah Islam semakin luas dan surat menyurat resmi membutuhkan catatan waktu yang jelas. Sejumlah sumber sejarah Islam menjelaskan bahwa Khalifah Umar kemudian menetapkan kalender Hijriah dengan menjadikan hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah sebagai titik awal perhitungan tahun.
Mengapa Tahun Hijriah Dimulai dari Muharram
Pertanyaan yang sering muncul ialah mengapa tahun Hijriah tidak dimulai dari Rabiul Awal, padahal hijrah Nabi Muhammad SAW sampai di Madinah terjadi pada bulan tersebut. Dalam pembahasan sejarah, Muharram dipilih sebagai bulan pertama karena posisinya datang setelah Dzulhijjah, bulan ketika umat Islam menunaikan ibadah haji. Setelah rangkaian haji selesai, umat Islam seolah memasuki lembaran baru dalam perjalanan ibadah dan kehidupan sosial.
Sebagian riwayat sejarah juga menyebut adanya musyawarah para sahabat dalam menentukan awal kalender Islam. Usulan yang muncul tidak hanya soal tahun awal, tetapi juga bulan pembuka. Setelah dipertimbangkan, Muharram dipilih sebagai permulaan kalender Hijriah, sedangkan hijrah Rasulullah SAW menjadi awal hitungan tahunnya. Di sinilah Sejarah bulan muharram terasa penting, karena ia menyatukan urusan ibadah, persaudaraan, dan tertib pencatatan dalam masyarakat Islam.
Muharram Sebelum Datangnya Islam
Muharram sudah dikenal oleh masyarakat Arab sebelum datangnya Islam. Pada masa itu, masyarakat Arab memiliki penghormatan terhadap beberapa bulan tertentu. Dalam bulan tersebut, peperangan dan pertumpahan darah umumnya dihentikan agar perjalanan dagang, kunjungan keluarga, serta ibadah di sekitar Tanah Haram dapat berlangsung lebih aman.
Islam kemudian datang bukan untuk menghapus semua susunan waktu yang sudah dikenal, tetapi meluruskan kedudukannya. Muharram tetap dimuliakan, namun kemuliaannya dikembalikan kepada ketetapan Allah, bukan sekadar adat suku atau kesepakatan sosial. Al Quran menegaskan bahwa jumlah bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, dan di antaranya terdapat empat bulan haram.
Mengapa Muharram Disebut Bulan Haram
Sebutan bulan haram sering disalahpahami oleh sebagian orang. Kata haram dalam istilah ini bukan berarti bulan yang buruk, melainkan bulan yang sangat dihormati, dijaga, dan dimuliakan. Dalam bahasa Arab, istilah haram berkaitan dengan sesuatu yang memiliki batas kehormatan dan tidak boleh dilanggar.
Muharram disebut bulan haram karena Allah menempatkannya dalam deretan bulan mulia bersama Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Rajab. Dalam hadis sahih, Rasulullah SAW menjelaskan empat bulan haram tersebut secara langsung.
“Satu tahun terdiri dari dua belas bulan. Empat di antaranya adalah bulan haram.”
Hadis tersebut kemudian menjelaskan bahwa tiga bulan datang berurutan, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, sedangkan satu bulan lainnya adalah Rajab. Keterangan ini membuat posisi Muharram tidak hanya dikenal melalui tradisi, tetapi juga melalui penjelasan Nabi Muhammad SAW.

Bulan yang Menuntut Penjagaan Diri
Al Quran memberi peringatan agar manusia tidak menzalimi diri pada bulan haram. Para ulama menjelaskan bahwa larangan berbuat zalim berlaku sepanjang tahun, tetapi pada bulan mulia larangan itu semakin ditekankan. Karena itu, Muharram menjadi waktu yang sangat baik untuk memperbanyak amal saleh, menahan lisan, menjaga hati, dan menjauhi perbuatan yang merusak hubungan dengan Allah maupun sesama manusia.
Di tengah kehidupan sehari hari, bentuk menjaga diri pada bulan Muharram bisa terlihat dari hal sederhana. Seorang Muslim dapat memperbaiki shalat, memperbanyak sedekah, menjaga ucapan dari fitnah, meminta maaf kepada orang yang pernah tersakiti, dan mengurangi perbuatan sia sia. Bulan ini mengajak umat Islam untuk lebih sadar bahwa waktu adalah amanah.
Bukan Bulan Sial dalam Islam
Di beberapa daerah, Muharram kadang dikaitkan dengan anggapan tertentu yang membuat orang takut mengadakan kegiatan penting. Padahal dalam Islam, Muharram bukan bulan sial. Justru Muharram adalah bulan yang dimuliakan Allah. Menganggap Muharram sebagai bulan buruk bertentangan dengan kedudukannya sebagai salah satu bulan haram.
Islam mengajarkan agar seorang Muslim tidak menggantungkan nasib pada bulan, tanggal, atau pertanda tertentu. Baik dan buruknya sebuah urusan kembali kepada izin Allah, usaha manusia, serta cara seseorang menjaga adab dalam bertindak. Karena itu, pembahasan Sejarah bulan muharram perlu ditempatkan secara benar agar umat tidak terjebak pada keyakinan yang tidak memiliki dasar kuat.
Muharram Disebut Bulan Allah
Salah satu keistimewaan Muharram ialah penyebutannya dalam hadis sebagai bulan Allah. Sebutan ini menunjukkan kedudukan yang tinggi. Dalam tradisi keilmuan Islam, sesuatu yang disandarkan kepada Allah menunjukkan kemuliaan dan kehormatan, seperti Baitullah untuk Ka’bah.
Rasulullah SAW bersabda dalam hadis sahih riwayat Muslim tentang keutamaan puasa di bulan Muharram.
“Puasa paling utama setelah Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, Muharram.”
Hadis ini menjadi dasar penting mengapa banyak ulama menganjurkan umat Islam memperbanyak puasa sunnah pada bulan Muharram. Anjuran tersebut tidak berarti seluruh umat wajib berpuasa sebulan penuh, tetapi menunjukkan bahwa Muharram memiliki ruang amal yang sangat luas bagi siapa saja yang ingin mendekat kepada Allah.
Kenapa Disebut Bulan Allah
Sebutan bulan Allah tidak ditemukan untuk semua bulan. Karena itu, para ulama memberi perhatian khusus pada Muharram. Penyandaran ini bukan berarti bulan lain tidak milik Allah, sebab seluruh waktu adalah ciptaan Allah. Namun, penyebutan khusus itu menunjukkan kehormatan yang lebih menonjol.
Muharram juga menjadi bulan yang membuka tahun Hijriah. Seorang Muslim dapat memasukinya dengan memperbaiki niat, membersihkan hati, dan memperbanyak amal yang dicintai Allah. Bukan dengan pesta berlebihan, bukan pula dengan rasa takut tanpa dasar, melainkan dengan ibadah yang memiliki tuntunan.
Hari Asyura dalam Bulan Muharram
Pembahasan Muharram tidak bisa dilepaskan dari hari Asyura, yaitu tanggal 10 Muharram. Hari ini memiliki tempat penting dalam ajaran Islam. Dalam hadis sahih riwayat Bukhari, disebutkan bahwa ketika Nabi Muhammad SAW tiba di Madinah, beliau melihat orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Mereka menjelaskan bahwa hari itu adalah hari ketika Allah menyelamatkan Nabi Musa AS dan Bani Israil dari musuh mereka. Rasulullah SAW kemudian berpuasa dan memerintahkan kaum Muslimin untuk berpuasa.
“Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.”
Kutipan hadis tersebut menunjukkan bahwa Asyura adalah hari syukur atas pertolongan Allah. Dalam Islam, mengenang pertolongan Allah tidak dilakukan dengan hura hura, melainkan dengan ibadah, terutama puasa sunnah.

Puasa Asyura dan Keutamaannya
Puasa Asyura menjadi salah satu amalan yang sangat dikenal pada bulan Muharram. Di awal Islam, puasa Asyura pernah mendapat perhatian besar. Setelah kewajiban puasa Ramadan ditetapkan, puasa Asyura menjadi sunnah, bukan kewajiban. Riwayat Bukhari menjelaskan bahwa Nabi SAW pernah berpuasa pada 10 Muharram dan memerintahkan kaum Muslimin untuk berpuasa, lalu setelah Ramadan diwajibkan, puasa Asyura tidak lagi menjadi kewajiban.
Banyak ulama juga menganjurkan agar puasa Asyura disertai puasa pada tanggal 9 Muharram atau 11 Muharram. Hal ini dilakukan untuk menyelisihi kebiasaan umat terdahulu dan memperkuat ibadah pada bulan mulia. Namun, jika seseorang hanya mampu berpuasa pada tanggal 10 Muharram, tetap ada nilai ibadah di dalamnya.
Asyura Bukan Sekadar Tradisi Tahunan
Asyura sering hadir dalam kebiasaan masyarakat dengan berbagai bentuk kegiatan. Selama kegiatan itu berisi kebaikan, seperti menyantuni anak yatim, sedekah, pengajian, dan mempererat persaudaraan, maka ia bisa menjadi sarana amal sosial yang baik. Namun, umat Islam tetap perlu memahami bahwa amalan yang memiliki dasar hadis paling kuat pada Asyura adalah puasa.
Karena itu, kegiatan sosial pada bulan Muharram sebaiknya tidak menggeser inti ibadah yang diajarkan Nabi. Santunan dan sedekah tetap baik, tetapi tidak boleh dianggap sebagai satu satunya amalan utama Asyura. Keseimbangan antara ibadah pribadi dan kepedulian sosial menjadi ciri indah bulan ini.
Pelajaran dari Sejarah Bulan Muharram
Sejarah bulan muharram memberi banyak pelajaran bagi umat Islam. Bulan ini mengajarkan bahwa waktu tidak berjalan tanpa nilai. Ada waktu yang Allah muliakan agar manusia lebih mudah kembali kepada kebaikan. Ada bulan yang dipilih agar manusia berhenti dari kezaliman, memperbaiki hubungan, dan menguatkan ibadah.
Muharram juga mengingatkan bahwa awal tahun dalam Islam tidak hanya soal pergantian angka. Kalender Hijriah lahir dari peristiwa hijrah, yaitu perpindahan besar Nabi Muhammad SAW dan para sahabat dari tekanan menuju kehidupan Islam yang lebih tertata di Madinah. Hijrah bukan sekadar perjalanan tempat, tetapi perubahan keadaan menuju ketaatan yang lebih kuat.
Muharram Mengajarkan Pengendalian Diri
Salah satu pesan besar Muharram adalah pengendalian diri. Dahulu, larangan perang pada bulan haram menjadi pagar agar manusia menahan diri dari pertumpahan darah. Dalam kehidupan sekarang, bentuk pengendalian diri bisa hadir dalam banyak sisi.
- Menahan marah saat menghadapi perbedaan pendapat
- Menjaga ucapan agar tidak melukai orang lain
- Menghindari perbuatan zalim dalam keluarga, pekerjaan, dan pergaulan
- Mengurangi kebiasaan lalai dari ibadah
- Memperbanyak amal yang dapat membersihkan hati
Daftar tersebut tampak sederhana, tetapi justru di situlah Muharram terasa dekat dengan kehidupan sehari hari. Kemuliaan bulan ini tidak hanya berada dalam kitab, tetapi juga bisa hadir dalam cara seorang Muslim berbicara, bekerja, berdagang, memimpin, dan memperlakukan orang lain.
Awal Tahun Hijriah dan Kesadaran Beramal
Tahun baru Hijriah sering diperingati dengan pengajian, doa bersama, kajian sirah, hingga kegiatan sosial. Selama tidak diyakini sebagai ibadah khusus yang wajib dengan tata cara tertentu, kegiatan semacam itu dapat menjadi sarana pengingat. Yang paling penting, Muharram tidak diisi dengan kelalaian.
Seorang Muslim bisa menjadikan awal Muharram sebagai titik untuk menata kembali ibadah wajib. Shalat lima waktu diperbaiki, utang puasa diperhatikan, hubungan keluarga dijaga, dan rezeki dibersihkan melalui zakat atau sedekah. Muharram menjadi pintu yang baik untuk membangun kebiasaan saleh sejak awal tahun Hijriah.

Amalan yang Dianjurkan pada Bulan Muharram
Bulan Muharram memiliki banyak ruang amal. Anjuran berbuat baik di bulan ini tidak berdiri di atas semangat sesaat, tetapi terkait dengan kedudukannya sebagai bulan haram dan adanya hadis tentang keutamaan puasa Muharram.
Amalan pada bulan ini sebaiknya dilakukan dengan ilmu. Umat Islam dianjurkan memilih ibadah yang jelas dasarnya, tidak berlebihan, dan tidak merendahkan orang yang memiliki kemampuan berbeda. Ada yang kuat berpuasa beberapa hari, ada yang hanya mampu berpuasa Asyura, ada yang memperbanyak sedekah, ada pula yang memperbaiki shalat malam.
Memperbanyak Puasa Sunnah
Puasa menjadi amalan yang paling sering dikaitkan dengan Muharram. Hadis riwayat Muslim menyebut puasa Muharram sebagai puasa paling utama setelah Ramadan. Karena itu, puasa pada bulan ini memiliki kedudukan istimewa.
Puasa yang bisa dilakukan antara lain puasa Asyura pada 10 Muharram, puasa Tasu’a pada 9 Muharram, puasa tanggal 11 Muharram, puasa Senin Kamis, serta puasa Ayyamul Bidh jika bertepatan pada tanggal 13, 14, dan 15 Hijriah. Semua itu dapat dilakukan sesuai kemampuan, tanpa memaksakan diri di luar batas kesehatan.
Memperbanyak Sedekah dan Kepedulian
Sedekah adalah amal yang dianjurkan sepanjang tahun, termasuk pada Muharram. Di banyak tempat, Muharram identik dengan santunan untuk anak yatim dan kaum dhuafa. Kebiasaan ini baik selama tidak diyakini sebagai kewajiban khusus yang hanya sah pada tanggal tertentu.
Kepedulian sosial pada Muharram dapat dilakukan dalam bentuk makanan, biaya pendidikan, bantuan kesehatan, atau dukungan untuk keluarga yang sedang kesulitan. Bulan mulia seharusnya membuat hati lebih lembut. Seseorang yang memahami Sejarah bulan muharram akan melihat bahwa penghormatan terhadap bulan ini bukan hanya melalui ucapan, tetapi juga tindakan yang membawa kebaikan bagi sesama.
Menjauhi Zalim dan Memperbaiki Hubungan
Al Quran mengingatkan agar manusia tidak menzalimi diri pada bulan haram. Zalim kepada diri sendiri bisa berupa maksiat, meninggalkan kewajiban, atau terus menerus dalam kebiasaan buruk. Zalim kepada orang lain bisa berupa fitnah, kecurangan, pengkhianatan, mengambil hak orang lain, atau menyakiti dengan ucapan.
Muharram menjadi waktu yang tepat untuk memperbaiki hubungan. Orang tua dan anak bisa saling melembutkan hati. Suami istri bisa memperbaiki komunikasi. Tetangga bisa kembali saling menyapa. Saudara yang lama renggang bisa membuka pintu maaf. Inilah wajah Muharram yang hidup dalam masyarakat, bukan hanya sebagai tanggal di kalender.
Muharram dalam Kehidupan Umat Islam di Indonesia
Di Indonesia, Muharram memiliki warna yang cukup khas. Sebagian masyarakat menyebutnya bulan Suro, terutama dalam tradisi Jawa. Ada pengajian tahun baru Islam, pawai obor, santunan anak yatim, doa bersama, dan kajian keislaman di masjid. Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa Muharram memiliki tempat khusus dalam ingatan umat.
Namun, umat Islam tetap perlu membedakan antara ajaran yang bersumber dari Al Quran dan hadis dengan adat yang tumbuh di masyarakat. Tradisi yang berisi kebaikan dapat dirawat selama tidak bertentangan dengan akidah dan syariat. Sebaliknya, keyakinan bahwa Muharram adalah bulan pembawa kesialan perlu diluruskan.

Merawat Tradisi yang Baik
Tradisi Muharram yang baik biasanya berisi penguatan ibadah dan kepedulian sosial. Pengajian tentang hijrah, kajian sejarah Nabi, santunan anak yatim, dan gerakan sedekah dapat menjadi sarana dakwah yang menyentuh masyarakat luas.
Kegiatan seperti ini perlu diisi dengan penjelasan yang benar. Anak muda perlu dikenalkan bahwa Muharram bukan hanya acara tahunan, tetapi bulan mulia dalam Islam. Orang tua juga perlu memberi contoh bahwa menyambut Muharram tidak cukup dengan seremoni, tetapi harus tampak dalam shalat yang lebih terjaga, lisan yang lebih lembut, dan hati yang lebih dekat kepada Allah.
Meluruskan Anggapan yang Tidak Tepat
Sebagian orang masih takut menikah, pindah rumah, atau memulai urusan baik pada bulan Muharram karena menganggap bulan ini berat. Padahal Islam tidak mengajarkan keyakinan seperti itu. Muharram adalah bulan terhormat, bukan bulan buruk.
Meluruskan anggapan ini perlu dilakukan dengan cara yang santun. Para dai, guru, orang tua, dan pengurus masjid dapat menjelaskan bahwa kemuliaan Muharram justru menjadi alasan untuk memperbanyak kebaikan. Selama sebuah urusan halal, dilakukan dengan niat baik, dan ditempuh melalui cara yang benar, tidak ada alasan menjauhinya hanya karena berada di bulan Muharram.
Sejarah Bulan Muharram dan Pesan Hijrah
Muharram berada di gerbang tahun Hijriah, sedangkan tahun Hijriah dihitung dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW. Hubungan ini membuat Muharram selalu dekat dengan pesan perubahan menuju ketaatan. Hijrah mengajarkan keberanian meninggalkan tekanan, kebatilan, dan kebiasaan buruk menuju kehidupan yang diridhai Allah.
Dalam kehidupan seorang Muslim, hijrah tidak selalu berupa perpindahan tempat. Ia bisa berupa perpindahan dari malas shalat menuju disiplin, dari lisan kasar menuju ucapan baik, dari rezeki yang meragukan menuju yang halal, dari permusuhan menuju persaudaraan, dan dari lalai menuju ingat kepada Allah.
Muharram sebagai Gerbang Perbaikan Ibadah
Awal tahun Hijriah dapat menjadi saat yang baik untuk menata ibadah. Bukan karena Muharram satu satunya waktu untuk berubah, tetapi karena bulan ini mengingatkan manusia bahwa waktu terus berjalan dan umur terus berkurang.
Perbaikan ibadah pada Muharram bisa dimulai dari hal yang paling wajib. Menjaga shalat tepat waktu, memperbaiki bacaan Al Quran, menunaikan zakat jika sudah wajib, membayar utang, meminta maaf, dan menahan diri dari dosa yang sering dianggap kecil. Semua itu adalah langkah nyata yang lebih bernilai daripada sekadar ucapan selamat tahun baru.
Menghidupkan Muharram dengan Ilmu
Menghidupkan Muharram perlu disertai ilmu agar ibadah tidak berubah menjadi kebiasaan kosong. Ilmu membantu umat membedakan mana yang sunnah, mana yang mubah, dan mana yang perlu ditinggalkan. Dengan ilmu, seorang Muslim dapat mencintai Muharram tanpa berlebihan, menghormatinya tanpa takut yang tidak berdasar, dan mengisinya dengan ibadah yang sesuai tuntunan.
Sejarah bulan muharram akhirnya membawa umat Islam kepada satu kesadaran besar bahwa bulan ini adalah hadiah waktu yang dimuliakan Allah. Ia membuka tahun Hijriah dengan ajakan untuk menjaga diri, memperbanyak amal, mengenang pertolongan Allah pada hari Asyura, dan menguatkan kembali semangat hijrah dalam kehidupan sehari hari.






