Tidur adalah kebutuhan dasar manusia yang tak bisa dihindari. Setiap orang memerlukan istirahat agar tubuh dan pikiran tetap sehat. Namun dalam Islam, tidur bukan hanya soal melepas lelah. Tidur memiliki adab, aturan, dan waktu tertentu yang sebaiknya diperhatikan. Ada waktu tidur yang dianjurkan, dan ada pula empat waktu tidur yang dianggap tidak baik bahkan dilarang oleh para ulama karena membawa dampak buruk bagi kesehatan maupun kehidupan spiritual seorang muslim.
Bagi umat Islam, menjaga waktu tidur adalah bagian dari menjaga ibadah. Rasulullah SAW memberi teladan bukan hanya dalam beribadah, tetapi juga dalam keseharian, termasuk dalam pola tidur. Dalam hadis riwayat Imam Bukhari, disebutkan bahwa Rasulullah SAW tidur di awal malam dan bangun di akhir malam untuk melaksanakan qiyamul lail. Pola ini bukan hanya sehat, tetapi juga penuh keberkahan.
Sebagai penulis yang kerap meneliti pola hidup Islami saat melakukan perjalanan, saya sering mendapati bahwa aturan waktu tidur yang diajarkan agama kita ternyata sejalan dengan ilmu kesehatan modern. Misalnya, larangan tidur setelah Subuh atau setelah Ashar terbukti dapat memengaruhi metabolisme tubuh. Saya sendiri pernah mengalaminya saat bepergian untuk liputan. Karena tertidur selepas Subuh, tubuh saya justru terasa lemas dan kurang semangat sepanjang hari. Dari situ saya semakin yakin bahwa Islam selalu mengajarkan kebaikan bahkan dalam hal kecil seperti tidur.
Tidur Setelah Waktu Subuh
Dalil dan Pandangan Ulama
Banyak ulama menekankan bahwa tidur setelah Subuh tidak baik. Rasulullah SAW bersabda:
“Ya Allah, berkahilah umatku pada pagi harinya.” (HR Abu Dawud).
Hadis ini menunjukkan bahwa waktu setelah Subuh adalah saat yang penuh keberkahan. Ulama tafsir menjelaskan, jika seseorang tidur setelah Subuh, maka ia akan kehilangan kesempatan memperoleh keberkahan pagi. Imam Ibnul Qayyim dalam kitab Zaadul Ma’ad menegaskan bahwa tidur di waktu pagi setelah Subuh membuat hati keras, tubuh malas, dan rezeki menjauh.
Dampak Spiritual
Tidur setelah Subuh membuat seseorang kehilangan kesempatan untuk berdzikir pagi, membaca Alquran, atau memulai aktivitas produktif. Padahal, energi spiritual di waktu ini sangat besar. Banyak orang merasakan bahwa bekerja di pagi hari jauh lebih ringan dan penuh keberkahan.
Dampak Kesehatan
Secara medis, tidur setelah Subuh bisa mengganggu siklus tidur utama. Tubuh yang seharusnya bersiap aktif justru kembali terlelap. Hal ini dapat menimbulkan rasa kantuk sepanjang hari, menurunkan konsentrasi, dan menyebabkan gangguan metabolisme. Beberapa penelitian bahkan menunjukkan bahwa orang yang tidur pagi cenderung lebih mudah mengalami obesitas dan depresi ringan.
Tidur di Waktu Ashar
Dalil dan Pandangan Ulama
Tidur di waktu sore, khususnya selepas Ashar, juga dianggap tidak baik. Meskipun tidak ada hadis shahih yang secara langsung melarang tidur sore, banyak atsar dari para ulama salaf yang menegaskan bahayanya. Dalam Al-Fawaid, Ibnul Qayyim menyebut bahwa tidur sore dapat menimbulkan penyakit, melemahkan syahwat, serta membuat badan malas.

Sebagian ulama juga mengatakan bahwa tidur setelah Ashar bisa menyebabkan gangguan daya ingat. Memang hal ini bukan hukum syariat yang mengikat, tetapi merupakan nasihat dari pengalaman para ulama terdahulu.
Dampak Spiritual
Tidur sore bisa mengurangi semangat ibadah. Waktu Ashar adalah waktu yang penuh dengan anjuran doa dan dzikir sore. Jika seseorang tertidur di jam ini, ia bisa kehilangan kesempatan untuk berdzikir sore atau memperbanyak doa sebelum Maghrib.
Dampak Kesehatan
Dari sisi kesehatan, tidur sore berpotensi mengganggu pola tidur malam. Orang yang tidur lama di sore hari cenderung sulit tidur di malam hari sehingga bisa mengalami insomnia. Selain itu, tidur sore menjelang Maghrib bisa menimbulkan sakit kepala dan badan terasa lemas saat bangun.
Tidur Setelah Maghrib
Dalil dan Pandangan Ulama
Waktu Maghrib adalah momen yang sakral. Rasulullah SAW mengajarkan umatnya agar memperbanyak doa dan ibadah selepas Maghrib. Dalam hadis riwayat Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda:
“Jika malam telah tiba, tahanlah anak-anak kalian, karena sesungguhnya setan menyebar pada waktu itu.”
Hadis ini menunjukkan bahwa waktu Maghrib adalah waktu penting untuk memperbanyak doa dan menjaga diri. Tidur pada waktu tersebut membuat seseorang lalai dari dzikir dan doa yang seharusnya dipanjatkan.
Dampak Spiritual
Tidur setelah Maghrib membuat seseorang kehilangan momentum ibadah, baik shalat sunnah, membaca Alquran, maupun dzikir. Selain itu, tidur di waktu ini bisa membuat lalai dari waktu shalat Isya jika tidak segera bangun.
Dampak Sosial
Tidur setelah Maghrib juga mengurangi kesempatan untuk berkumpul dengan keluarga. Banyak keluarga muslim yang menjadikan waktu selepas Maghrib hingga Isya sebagai momen untuk belajar agama bersama anak-anak.
Tidur Sebelum Isya
Dalil dan Pandangan Ulama
Rasulullah SAW sangat tidak menyukai tidur sebelum Isya. Dalam hadis riwayat Imam Bukhari, disebutkan:
“Rasulullah SAW membenci tidur sebelum Isya dan berbincang-bincang setelahnya.”
Hal ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga shalat Isya. Jika seseorang tidur sebelum Isya, dikhawatirkan ia akan terlewat menunaikan kewajiban shalat.
Dampak Spiritual
Tidur sebelum Isya sangat berisiko membuat seseorang kehilangan shalat fardhu. Padahal, shalat Isya adalah kewajiban yang harus dijaga. Ulama menegaskan, meskipun seseorang berniat bangun, ada kemungkinan ia tidak terjaga hingga pagi.
Dampak Kesehatan
Secara kesehatan, tidur terlalu cepat sebelum Isya dapat mengganggu pola tidur normal. Seseorang yang terbangun di tengah malam akan sulit tidur kembali, sehingga menyebabkan gangguan pada ritme sirkadian tubuh.
Hikmah Larangan Tidur di Empat Waktu Tersebut
Jika dicermati, larangan tidur pada empat waktu ini sejalan dengan hikmah besar. Islam mengajarkan agar umatnya selalu menjaga keseimbangan antara ibadah, kesehatan, dan produktivitas.
- Setelah Subuh – agar manusia memulai aktivitas pagi dan meraih keberkahan rezeki.
- Setelah Ashar – agar manusia menjaga energi untuk ibadah sore dan menghindari penyakit tubuh.
- Setelah Maghrib – agar manusia memanfaatkan waktu doa mustajab dan kebersamaan keluarga.
- Sebelum Isya – agar manusia tidak lalai terhadap kewajiban shalat.
Pandangan Penulis
Sebagai penulis yang sering melakukan perjalanan jauh, saya merasakan betul pentingnya menjaga pola tidur. Ketika saya tertidur selepas Subuh saat liputan di Makkah, tubuh terasa berat, kepala pusing, dan aktivitas menjadi tidak bersemangat. Namun ketika saya mencoba mengikuti sunnah dengan mengisi pagi dengan dzikir dan menulis, justru energi terasa lebih positif.
“Tidur adalah ibadah bila ditempatkan pada waktunya. Namun, tidur yang salah waktu bisa merenggut keberkahan hidup. Islam telah memberi panduan, dan sains pun membuktikan kebenarannya.”
Dalil Pendukung dari Alquran dan Hadis
Beberapa dalil yang sering dijadikan rujukan dalam pembahasan ini di antaranya:
- QS. An-Naba ayat 9: “Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat.”
- QS. Al-Furqan ayat 47: “Dan Dialah yang menjadikan malam untukmu sebagai pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha.”
- HR Bukhari: “Rasulullah SAW membenci tidur sebelum Isya dan berbincang setelahnya.”
- HR Abu Dawud: “Ya Allah, berkahilah umatku di pagi hari mereka.”
Dengan dalil-dalil tersebut, semakin jelas bahwa Islam menuntun umatnya agar tidak sembarangan tidur. Ada waktu-waktu yang sebaiknya dihindari agar ibadah terjaga, kesehatan terpelihara, dan keberkahan tetap diraih.